Pantau - Anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ahmad Bakhshayesh Ardestani menilai Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran untuk melemahkan posisi tawar Teheran menjelang perundingan lanjutan.
Ardestani mengatakan Pakistan, Qatar, dan Turki masih berupaya menjadi mediator guna meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
"Pakistan, Qatar dan bahkan Turki masih melakukan upaya mediasi. Namun, Amerika masih meyakini bahwa mereka akan mampu melemahkan Iran sampai batas tertentu sebelum perundingan berikutnya," katanya.
Menurut Ardestani, tujuan utama Washington adalah melemahkan posisi Iran di Selat Hormuz sebelum pembahasan lanjutan.
Ia juga menyatakan nota kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani secara tidak langsung oleh Teheran dan Washington belum bersifat komprehensif karena masih memuat sejumlah ketentuan yang dinilai ambigu.
"Namun, karena Oman adalah negara Arab, negara itu lebih rentan terhadap pengaruh negara-negara Teluk Arab dan juga berada di bawah tekanan Amerika Serikat," ujarnya.
Ardestani menilai Amerika Serikat berupaya memanfaatkan koridor Oman untuk pelayaran kapal melalui Selat Hormuz guna mengurangi peran Iran dalam mekanisme pengelolaan selat tersebut.
Ia mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab kembali meningkatnya konflik antara kedua negara.
Teheran dan Washington sebelumnya menandatangani nota kesepahaman secara tidak langsung pada malam 18 Juni yang mengatur penghentian konflik militer.
Namun, sejak 8 Juli, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan kembali melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.





Komentar (0)