Komling, Cara Cerdas Warga Gandaria Utara Ubah Sampah Dapur Menjadi Berguna

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Komling komling komling mania

Kompos keliling mania

Sampah dapur jangan dibuang

Komling datang hati senang

Komling komling komling mania

Kompos keliling mania

Kampung bersih kagak berabe

Warga guyub makin kece…

Lantunan jingle itu menggema dari pelantang suara kecil yang terpasang pada gerobak listrik yang melaju perlahan menyusuri gang-gang di RT 011 RW 007, Kelurahan Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lagu sederhana ciptaan Ketua RT 011 Imam Basori itu menjadi penanda bahwa petugas Kompos Keliling (Komling) telah tiba.

Arif (23), pengemudi gerobak listrik Komling, menghentikan kendaraannya di depan rumah-rumah warga. Satu per satu penghuni keluar sambil membawa wadah atau kantong berisi sampah dapur. Mereka menyerahkan sisa sayuran, kulit buah, ampas teh, hingga sisa makanan untuk dimasukkan ke dalam bak penampung di gerobak.

”Lumayan, sejak ada Komling ini, saya tidak perlu jauh-jauh lagi membuang sampah dapur,” ujar Sukron (37), salah satu warga RT 011 RW 007.

Setiap sore, gerobak Komling berkeliling selama sekitar satu jam menyusuri seluruh lingkungan RT. Sistem ”jemput bola” itu membuat warga lebih disiplin memilah sampah organik dari sampah anorganik karena petugas datang langsung ke depan rumah. Menurut Arif, rata-rata sampah dapur yang terkumpul setiap hari dari 75 keluarga adalah 5-10 liter sampah dapur rumah tangga.

Komling berkeliling ke rumah warga untuk mengambil sampah dapur.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Warga memasukkan sampah dapur ke dalam komposter.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Setiap sore Arif berkeliling untuk menjemput sampah dapur di rumah warga.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Sampah yang terkumpul kemudian diolah dengan menggunakan mesin komposter sehingga menjadi kompos. ”Perlu waktu sekitar 6 jam untuk mengolah sampah basah menjadi kompos,” ujar Imam Basori (43).

Menggunakan komposter menyebabkan proses dalam pembuatan kompos tidak menimbulkan bau yang tak sedap karena tidak mengalami proses pembusukan yang membutuhkan waktu berminggu-minggu.

Kompos yang dihasilkan kemudian kembalikan secara cuma-cuma oleh pengurus RT untuk warga. Sebagian warga memanfaatkan kompos untuk media tanam tanaman hias di tepi gang agar terlihat asri dan berbagai jenis sayuran.

Di awal pelaksanaan Komling akhir Mei lalu, menurut Imam, banyak warga yang bingung membedakan dan memilah jenis sampah organik dan nonorganik. ”Pada awalnya kami turun langsung door to door untuk menjelaskan dan mempraktikkan kepada warga mana sampah yang bisa diolah dan mana yang tidak.”

”Petugas yang piket harus telaten menjelaskan kepada warga jenis sampah organik, karena sampai sekarang pun, masih saja ada warga yang kelolosan memasukkan sampah anorganik ke dalam Komling”, lanjut Imam.

Inovasi Komling ini dibuat Imam bersama dengan warga setelah mendapat ”tantangan” dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, saat meninjau RT mereka Mei lalu. Selain memberi tantangan Rano Karno juga memberi bantuan uang untuk membeli peralatan pengolah kompos dan gerobak listrik bekas.

Petugas memasukkan sampah dapur ke dalam komposter untuk diolah menjadi kompos.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Wujud sampah dapur yang telah berubah menjadi kompos.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Menambahkan kompos sebagai media tanam di pot tanaman cabai.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Imam yang telah memasuki tahun ketujuh menjabat sebagai ketua RT ini sepakat bahwa penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah daerah, tetapi juga membutuhkan peran aktif warga di tingkat paling bawah, sehingga dapat mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir secara signifikan.

Baca JugaKebakaran TPA Jatiwaringin yang Belum Juga Padam
Baca JugaSampah Dapur Jadi Kompos, Siasat Hotel Mengurangi Sampah Makanan
Baca JugaMemaksimalkan Sampah Rumah Tangga untuk Eco Enzyme

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kades di Sumut: Tak Ada Lahan Buat Kopdes, Malah Didemo dan Dipolisikan
• 23 jam lalu
0
thumb
Daftar Lengkap Soundtrack Film Aku Sebelum Aku di Netflix, Ada Hindia dan Nosstress!
• 8 jam lalu
0
thumb
Pemkab Jayawijaya Bangun 88 Rumah Guru untuk Perkuat Pendidikan di Daerah Terpencil
• 19 jam lalu
0
thumb
Liga Spanyol Cetak Rekor Pendapatan Rp94,7 Triliun, Musim 2025/2026 Jadi Tersukses
• 11 jam lalu
0
thumb
Mengulik Lasem: Daerah Akulturasi Budaya Tiongkok di Indonesia
• 33 menit lalu
0
Berhasil disimpan.