SCROLLING saya di media sosial terhenti saat membaca berita memilukan di Sampang, Madura. Bayangkan, seorang remaja putri berusia 15 tahun diperkosa secara beramai-ramai oleh 27 laki-laki.
Sebagian besar pelakunya masih berusia belasan tahun. Ini adalah kegilaan di luar nalar manusia biasa.
Saya pernah membaca artikel serupa yang terjadi di India, Bangladesh, Zimbabwe, atau Afrika Selatan. Saya mencoba memahami latar belakang kejadian di empat negara tersebut.
Namun, ketika kejadian serupa terjadi di Indonesia, saya menghela nafas dalam-dalam beberapa kali.
Peristiwa ini bukan hanya mengguncang karena jumlah pelakunya yang luar biasa banyak. Yang lebih mengkhawatirkan adalah pertanyaan yang muncul setelahnya: bagaimana mungkin kejadian seperti ini terjadi di negara kita? Krisis apa yang sebenarnya terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan menyebut para pelaku sebagai "orang bejat" atau "tidak bermoral". Label seperti itu mungkin memuaskan kemarahan publik. Namun, tentu saja kita tidak bisa berhenti di tahap itu.
Kita harus merasa belum cukup untuk memahami bagaimana kejahatan seperti ini bisa terjadi.
Kasus Sampang sesungguhnya bukan fenomena yang berdiri sendiri. Seperti yang terjadi di India, Afrika Selatan, Bangladesh, hingga Zimbabwe, masing-masing memiliki latar sosial yang berbeda.
Baca juga: Kasus Febrie Adriansyah: Penyidik Polri yang Cerdas, Kejagung Terkunci
Namun, kasus-kasus tersebut memperlihatkan pola yang hampir sama, yaitu korban berada dalam posisi sangat rentan, sementara para pelaku bertindak dalam kelompok yang saling menguatkan untuk melakukan kekerasan.
Melemahnya identitas individuDalam kriminologi, kejahatan semacam ini tidak dipahami semata-mata sebagai luapan hasrat seksual.
Pemerkosaan berkelompok merupakan bentuk kekerasan yang lahir dari pertemuan berbagai faktor, mulai dari karakter individu, dinamika kelompok, lingkungan sosial, hingga kesempatan melakukan kejahatan. Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan seluruh peristiwa.
Kejadian pemerkosaan berkelompok dapat kita pahami melalui konsep deindividuation seperti yang dijelaskan oleh Zimbardo (2007).
Jadi, ketika seseorang berada di tengah kelompok yang besar, identitas pribadinya cenderung melemah. Rasa tanggung jawab menjadi kabur karena setiap orang merasa dirinya hanyalah bagian kecil dari kelompok.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat melakukan tindakan yang sebenarnya tidak akan ia lakukan ketika sendirian.
Kekerasan massal, termasuk pemerkosaan massal, menjadi mudah dilakukan karena pengaruh lingkungan atau pertemanan yang negatif atau toksik.
Fenomena itu semakin kuat ketika kelompok mulai membangun pembenaran bersama. Tidak ada lagi yang bertanya apakah tindakan tersebut benar atau salah.






Komentar (0)