Wall Street Ditutup Melemah, Dipicu Penurunan Saham Chip

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis (16/7). Saham-saham sektor chip menjadi biang kerok melemahnya indeks Nasdaq dan S&P 500, pelemahan juga terjadi meski data ekonomi AS secara umum menunjukkan kinerja positif dan musim laporan keuangan kuartal II dimulai dengan hasil yang solid.

Dikutip dari Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 105,32 poin atau 0,20 persen ke level 52.553,32. Sementara itu, indeks S&P 500 (.SPX) melemah 38,63 poin atau 0,51 persen menjadi 7.533,77, sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) terkoreksi 387,28 poin atau 1,47 persen ke posisi 25.881,95.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor teknologi mencatat penurunan terbesar dengan melemah 1,8 persen. Pelemahan tersebut didorong oleh anjloknya indeks saham semikonduktor sebesar 4,3 persen, yang membebani kinerja sektor teknologi sekaligus pasar secara keseluruhan.

Dalam beberapa waktu terakhir, pergerakan saham-saham chip semakin menentukan arah pergerakan indeks-indeks utama Wall Street, terutama Nasdaq yang didominasi saham teknologi.

“Hal ini murni disebabkan oleh besarnya bobot saham chip di dalam S&P 500. Tiga atau empat tahun lalu bobotnya sekitar 8 persen, sekarang sudah lebih dari 20 persen. Jika melihat sektor pasar lainnya, sebenarnya kondisinya baik-baik saja,” ujar Senior Wealth Advisor & Market Strategist Murphy & Sylvest, Paul Nolte dikutip dari Reuters, Jumat (17/7).

Pelemahan saham chip juga tetap terjadi meski Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), membukukan lonjakan laba kuartalan sebesar 77 persen. Padahal TSMC disebut sebagai acuan permintaan global industri chip.

Kondisi ini mencerminkan tingginya ekspektasi investor terhadap sektor yang telah melonjak hampir 70 persen sejak awal tahun. Meski mencatat kinerja positif, saham TSMC yang diperdagangkan di AS tetap turun 2,3 persen.

Produsen chip memori menjadi kelompok saham dengan pelemahan terdalam. Saham SanDisk (SNDK.O), Western Digital (WDC.O), Seagate Technology (STX.O), dan Intel (INTC.O) masing-masing turun antara 5,8 persen hingga 12,6 persen.

“Volatilitas yang sangat tinggi ini tentu membuat investor ritel khawatir ketika melihat nilai portofolionya berfluktuasi tajam. Namun, sejumlah sektor di luar teknologi justru mencatat kinerja yang baik, sehingga kondisi pasar saat ini sangat beragam,” kata Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder, Tim Ghriskey.

Penurunan Dow Jones tertahan oleh kenaikan saham UnitedHealth Group sebesar 1,2 persen setelah perusahaan tersebut melaporkan laba yang melampaui ekspektasi analis Wall Street sekaligus menaikkan proyeksi kinerja untuk 2026.

S&P 500 Health Care (.SPXHC) menguat 2,2 persen, saham United Airlines (UAL.O) turun 1,8 persen setelah lonjakan harga minyak menekan prospek kinerja perusahaan ke depan. Sementara itu, saham GE Aerospace (GE.N) melemah 4,1 persen meski perusahaan tersebut meningkatkan proyeksi laba tahun 2026.

Analis menetapkan ekspektasi yang tinggi terhadap musim laporan keuangan kuartal II. Secara agregat, laba emiten anggota S&P 500 diperkirakan tumbuh 24,8 persen secara tahunan. Berdasarkan data terbaru dari London Stock Exchange (LSEG), khusus sektor teknologi, laba diproyeksikan melonjak 65,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penjualan Ritel Solid, Klaim Pengangguran Turun, Data Perumahan Melemah

Serangkaian data ekonomi AS yang dirilis pada Kamis (16/7) menunjukkan penjualan ritel inti tetap solid, klaim tunjangan pengangguran menurun, dan aktivitas manufaktur di kawasan timur laut AS meningkat tajam.

Di sisi lain, data sektor perumahan menunjukkan pelemahan. Penjualan rumah yang masih dalam proses transaksi turun lebih besar dari proyeksi, sementara sentimen pengembang perumahan memburuk akibat tingginya biaya pinjaman dan daya beli masyarakat yang masih tertekan.

AS dan Iran kembali melanjutkan saling serang melalui serangan udara, sehingga memperpanjang eskalasi konflik yang telah berlangsung selama sepekan dan secara otomatis menghapus efek gencatan senjata yang dicapai bulan lalu. Meski demikian, pembebasan seorang warga negara AS oleh Iran memberi sinyal masih terbuka ruang diplomasi untuk mencegah kedua negara kembali terlibat dalam perang berskala penuh.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan saham yang naik dengan rasio 1,08 banding 1. Tercatat 351 saham mencetak level tertinggi baru dalam 52 pekan, sedangkan 170 saham menyentuh level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 1.817 saham menguat dan 2.979 saham melemah, sehingga jumlah saham yang turun melampaui saham yang naik dengan rasio 1,64 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatat 42 saham yang menyentuh level tertinggi baru dalam 52 pekan dan dua saham mencetak level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 197 saham di level tertinggi baru dan 155 saham di level terendah baru.

Volume transaksi di seluruh bursa saham AS mencapai 17,19 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata volume harian sebesar 21,19 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Perbati Targetkan Kejuaraan Tinju Piala Presiden Digelar Tahun Depan Usai Asian Boxing 2026
• 2 jam lalu
0
thumb
Catat Titiknya, SIM Keliling Jumat 17 Juli 2026 Mulai Buka Pagi Hari
• 12 jam lalu
0
thumb
4 Shio yang Mendadak Merasakan Getaran Cinta di Sabtu 18 Juli 2026, Kerbau Bikin Hati Deg-degan
• 5 jam lalu
0
thumb
Harga Komoditas: Nikel Naik 2 Persen, Minyak Mentah Turun Tipis
• 9 jam lalu
0
thumb
Didampingi Hotman Paris, Febrie Adriansyah Diperiksa sebagai Tersangka
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.