Sempat Anjlok Rp12.000, Kementan Patok Target Harga Ayam Hidup Minimal Rp19.500

wartaekonomi.co.id
55 menit lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Pertanian menetapkan batas minimal harga pembelian ayam hidup di tingkat peternak mulai tanggal 15 Juli. Kebijakan afirmatif ini diterbitkan menyusul anjloknya harga komoditas unggas yang merugikan sektor hulu.

Harga jual ayam ras di kandang dilaporkan sempat jatuh menyentuh level ekstrim sebesar 12.000 rupiah per kilogram. Padahal, akumulasi total biaya produksi riil yang harus dikeluarkan peternak mencapai kisaran 20.000 rupiah.

Namun demikian, langkah Kementerian Pertanian juga mendapat apresiasi dari Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Herry Dermawan. Ia memandang, kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil positif karena harga ayam hidup berangsur membaik.

"Alhamdulillah, harga mulai membaik. Namun target kita bukan hanya Rp19.500 per kilogram. Harapannya harga bisa lebih baik lagi sehingga peternak memperoleh keuntungan yang layak," jelas Herry melalui keterangan pers, Kamis (16/7/2026).

Herry melanjutkan, DPR RI mengapresiasi perhatian Kementerian Pertanian terhadap sektor perunggasan dan optimistis industri ayam nasional akan semakin tertata.

"Industri ayam memiliki nilai ekonomi yang sangat besar, dengan perputaran usaha mencapai sekitar Rp800 triliun per tahun dan melibatkan sekitar 12 juta tenaga kerja," katanya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono mengatakan, Intervensi pasar tersebut mulai membuahkan respons positif dengan berangsur membaiknya kurva harga riil kandang.

"Harga di tingkat konsumen sebenarnya tidak turun sedalam harga yang diterima peternak. Karena itu kami melakukan pengawasan bersama Satgas Pangan dan aparat penegak hukum," tegas Sudaryono.

DPR mengingatkan pemerintah untuk terus memantau pergerakan harga agar peternak bisa meraup keuntungan yang sehat. Langkah penstabilan ini krusial dijalankan agar pasokan protein hewani masyarakat tetap terjaga secara berkelanjutan.

Sebelumnya diketahui, Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) mengungkapkan gelombang panic selling tengah melanda berbagai sentra produksi ayam hidup di Indonesia. Hal ini dinilai bukan semata-mata dipicu oleh rendahnya harga ayam, melainkan tekanan likuiditas yang semakin berat di tingkat peternak rakyat.

Baca Juga: Target Ekspor Kopi RI Rp100 Triliun, Mentan Amran Gempur Perbenihan di Bener Meriah Aceh

Baca Juga: Berlaku 15 Juli, Harga Minimum Ayam Hidup di Tingkat Peternak Rp19.500 dan Telur Rp24.000 per Kg

Ketua Umum PERMINDO Kusnan mengatakan peternak saat ini menghadapi tekanan pembayaran dari industri pakan yang menerapkan sistem pembayaran cash before delivery (CBD). Kondisi tersebut memaksa banyak peternak menjual ayam lebih cepat sebelum mencapai bobot ideal untuk memperoleh dana tunai guna memenuhi kebutuhan operasional.

"Peternak rakyat tidak sedang menghadapi krisis harga ayam semata, tetapi menghadapi krisis margin usaha akibat harga jual yang turun bersamaan dengan kenaikan biaya pakan yang tidak terkendali," ujar Kusnan dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dituding Sindir Syifa Hadju, Anjasmara Minta Maaf & Klarifikasi Pernyataannya
• 10 jam lalu
0
thumb
Menang Parsial dalam Sengketa WTO, Kemendag Kawal Akses Pasar Asam Lemak ke Uni Eropa
• 23 jam lalu
0
thumb
KPK Periksa Anggota BPK hingga Dirjen PKN Terkait Dugaan Suap Laporan Keuangan
• 10 jam lalu
0
thumb
Aldi Taher hingga Hindia Akan Meriahkan Bangor Fest Vol. 4
• 13 jam lalu
0
thumb
Israel Lanjutkan Pembantaian di Gaza, 5 Terbunuh Hari Ini, Sudah 73.250 Warga Palestina Tewas
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.