Kisah Pilu Wanita di Bekasi: Cari Perlindungan dari Kekerasan Ibu, Jadi Korban Kekerasan Seksual Paman

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com – Seorang perempuan berinisial IA (22), warga Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi mengaku mengalami dugaan kekerasan seksual yang dilakukan pamannya, W, sejak masih berusia sekitar 13 tahun.

Menurut pengakuannya, dugaan perbuatan itu bermula ketika ia kerap mencari perlindungan kepada sang paman setelah mengalami penganiayaan di rumah yang dilakukan oleh ibunya.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, IA menuturkan bahwa sebelum tinggal di Kabupaten Bekasi, ia sempat tinggal di Cilacap, Jawa Tengah.

Saat itu, sekitar pertengahan 2017, W pernah mengajaknya masuk ke kamar untuk melihat sebuah video asusila.

Merasa ajakan tersebut janggal, IA memilih menolak.

Baca juga: Korban Kekerasan Seksual di Bekasi Hendak Akhiri Hidup Sebelum Dievakuasi ke Rumah Aman

Beberapa waktu kemudian, keluarganya pindah ke rumah kontrakan di kawasan Jatiwangi, Kabupaten Bekasi.

Kontrakan W berada tidak jauh dari rumah orangtuanya.

Menurut IA, dugaan kekerasan seksual pertama terjadi sekitar November 2017 ketika ia diajak W ke rumah kerabat di Tambun.

Saat istri W sedang keluar, ia mengaku ditinggal berdua dengan W.

Saat itu, IA mengaku sedang berada di kamar sambil memainkan telepon genggam ketika W masuk dan melakukan tindakan yang menurutnya merupakan kekerasan seksual.

“Saya ketakutan dan bingung sehingga tidak bisa melawan. Saya hanya sempat bertanya, 'Mau apa?', tetapi Om W tidak menjawab. Dia malah melakukan perbuatan yang menurut saya merupakan kekerasan seksual,” tutur IA kepada Kompas.com, Kamis (16/7/2026).

IA mengaku, beberapa bulan setelah kejadian tersebut, ia kembali mendatangi kontrakan W usai dipukul ibunya.

Saat itu, W disebut menawarkan diri untuk “mengobati” luka yang dialaminya yang berada dibagian bokong.

Sejak saat itu, kata IA, W semakin sering mencari kesempatan ketika rumah sedang sepi atau saat ia berada sendirian di dapur maupun di dalam rumah.

Namun, menurut IA, situasi tersebut justru dimanfaatkan untuk kembali melakukan tindakan yang mengarah pada pelecehan seksual.

Baca juga: Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus Masih Dibayangi Stigma

“Saya percaya diobati karena merasa sakit akibat dipukul ibu. Setelah kejadian itu, Om W semakin sering mencari kesempatan ketika membantu orangtua saya berjualan,” ujar IA.

Korban mengaku tidak pernah menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya karena takut kembali dimarahi atau mengalami kekerasan.

“Saya takut kalau Om W pergi karena saya merasa hanya dia yang membela saya ketika dimarahi ibu. Saya juga merasa Om W satu-satunya orang yang peduli kepada saya ketika dimarahi atau dipukul ibu,” katanya.

IA mengatakan dugaan kekerasan seksual terus berulang hingga beberapa tahun berikutnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Menurut pengakuannya, sekitar Januari 2019, W kembali datang ke rumah dengan alasan menitipkan peralatan bangunan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kadispenad: Gudang di Madiun Meledak Saat Prajurit Sedang Perawatan Amunisi
• 2 jam lalu
0
thumb
PSS Sleman Panaskan Mesin, Pieter Huistra Senang Bergabungnya Akademi dalam Latihan Perdana
• 5 jam lalu
0
thumb
Presiden Prabowo On Track Jadi Presiden Terhijau dalam Sejarah Indonesia
• 3 jam lalu
0
thumb
Bahlil Ungkap Alasan Blok Masela Baru Digarap Sekarang Usai Mandek 28 Tahun
• 6 jam lalu
0
thumb
Tata Ulang Program MBG, Zulhas Minta Waktu 1 Bulan Lagi
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.