Bisnis.com, JAKARTA – PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. (RANS) atau RANS Entertainment terpantau terus melaju sejak pertama kali diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data BEI pada penutupan perdagangan Kamis (16/72026), RANS melemah 6,62% ke Rp254. Level harga ini masih mencerminkan penguatan 49,41% dari harga penawaran umum. Adapun, RANS efektif tercatat di BEI pada 10 Juli 2026 dengan harga penawaran di Rp170.
Sementara menilik gerak asing, pada perdagangan Kamis (16/7), RANS mencatat net sell asing di pasar reguler sebesar Rp53,90 miliar. Walau demikian, sejak perdana melantai di bursa, RANS menorehkan net buy asing di pasar reguler sebesar Rp4,88 miliar.
Melansir prospektus IPO RANS, komposisi pemegang saham perusahaan sebelum melepas sahamnya ke publik dimiliki mayoritas oleh Raffi Ahmad dengan porsi 78,68%. Selain itu, ada pula nama COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria yang menggenggam kepemilikan sebesar 3,42%. Lalu, ada putra bungsu Presiden ke-7 RI Jokowi, Kaesang Pangarep yang mengapit 1,14% saham RANS.
Kemudian, ada pula kaitan kepemilikan RANS dengan Pieter Tanuri melalui PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. (BOLA). BOLA secara tidak langsung mengapit 0,76% saham RANS melalui anak usahanya, PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi.
Berikutnya, ada Grup Emtek yang secara tidak langsung juga terafiliasi dengan kepemilikannya sebesar 9,04% melalui PT Indonesia Entertainmen Grup. PT Indonesia Entertainmen Grup adalah perusahaan sub-holding dari bisnis produksi dan distribusi konten milik PT Surya Citra Medika Tbk. (SCMA).
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menilai bahwa sejumlah nama besar di balik RANS memang dapat memberikan nilai tambah dari sisi jaringan, akses bisnis, serta potensi pengembangan ekosistem.
"Namun, dalam jangka panjang, pasar tetap akan melihat kemampuan perusahaan dalam mengubah dukungan tersebut menjadi pertumbuhan revenue dan profitabilitas," kata Elandry kepada Bisnis, dikutip Kamis (16/7/2026).
Menilik fundamental perseroan, RANS secara tahunan terus mengalami penurunan pendapatan dalam dua tahun terakhir sejak 2024. Sementara di sisi bottom line, laba periode berjalan perseroan pada 2025 turun menjadi Rp56,68 miliar, dari Rp97,07 miliar pada 2024.
Elandry menilai, perlambatan kinerja RANS perlu dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, industri media digital memang menghadapi perubahan besar akibat persaingan platform, perubahan pola konsumsi, dan tekanan belanja iklan.
"Namun, jika perusahaan mampu melakukan diversifikasi bisnis, kondisi tersebut masih berpotensi bersifat sementara," terangnya.
Menurutnya, saat ini daya tarik RANS tidak terlepas dari kekuatan brand dan popularitas founder. Namun, valuasi yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan fundamental seperti pertumbuhan pendapatan, margin, dan arus kas.
Elandry menegaskan, bahwa brand value memang bisa menjadi katalis, tetapi bukan satu-satunya faktor utama bagi investor.
Dari sisi prospek bisnis RANS ke depan, Elandry melihat konsep membangun ekosistem media, entertainment, IP, digital commerce, dan live event yang dibidik perseroan memang memiliki peluang besar karena industri konten terus berkembang.
Di sisi lain, tantangannya adalah bagaimana RANS dapat menciptakan monetisasi yang konsisten dan meningkatkan profitabilitas, sehingga market sentiment tidak hanya bergantung pada popularitas brand.
Setali tiga uang, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su juga menilai brand value memang memiliki porsi tersendiri untuk mendorong pertumbuhan sebuah saham. Menurutnya, faktor ini tidak bisa disepelekan.
Sementara untuk prospek usaha RANS yang fokus di industri hiburan, menurutnya di kondisi ekonomi saat ini tidak akan mudah bagi RANS untuk tumbuh dengan pesat, meskipun ada nama-nama besar di baliknya.
"Untuk mencetak pertumbuhan yang sangat signifikan cukup sulit, menimbang keadaan ekonomi yang sangat menantang di tengah harga minyak yang melonjak, suku bunga yang akan naik, dan pelemahan rupiah. Angka layoffs juga menandakan ekonomi yang relatif lemah," kata Harry.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.






Komentar (0)