PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN menyatakan fokus utama perseroan saat ini menjaga momentum pertumbuhan bisnis di tengah kondisi likuiditas yang mengetat.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P Napitupulu, masih mencermati perkembangan suku bunga Bank Indonesia atau BI Rate maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang hingga kini belum menunjukkan sinyal penurunan.
Menurutnya, kebijakan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mencegah arus modal keluar atau capital outflow membuat instrumen SRBI terus meningkat hingga nilainya melampaui Rp 1.000 triliun.
“Sehingga likuiditas memang di market sangat ketat, dengan situasi likuiditas yang sangat ketat, bunga pasti naik. Bunga naik, kita nggak bisa menaikkan sebuah kredit,” ucap Nixon dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (17/7).
Mempertimbangkan kondisi tersebut, Nixon memperkirakan pertumbuhan kredit hingga akhir 2026 akan berada di kisaran 8 persen hingga 10 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya.
BTN bakal kembali mempercepat ekspansi kredit apabila kondisi likuiditas membaik dan BI mulai melonggarkan kebijakan moneternya.
“Sehingga untuk sampai dengan akhir tahun mungkin kita akan sedikit menurunkan pertumbuhan kredit ke arah 8-10 persen. Sampai nanti kita lihat, misalnya di Agustus ini BI sudah slow down, ya kita pasti kencengin lagi,” ucap Nixon.
Mengantisipasi perubahan kondisi pasar, BTN kini rutin menggelar rapat Asset Liability Committee (ALCO) setiap pekan guna memantau perkembangan ekonomi makro dan likuiditas.
Selain itu, Nixon juga mengungkapkan persaingan penghimpunan dana pada akhir Juni berlangsung semakin ketat. Di sisi lain, kondisi likuiditas semakin tertahan setelah Kemenkeu sempat mengembalikan sebagian dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke sistem perbankan.
“Maka salah satu caranya adalah menurunkan tensi mesin pertumbuhan kreditnya dan kita slow down. Kalau yang program pemerintah tetap jalan,” tutur Nixon.
Sebaliknya, Nixon mengatakan BTN akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit kepada korporasi besar, terutama yang menawarkan imbal hasil rendah. Sebab dinilai kurang sejalan dengan tingginya biaya dana saat ini.






Komentar (0)