Dokter (dr.) Ade Meidian Ambari spesialis jantung dan pembuluh darah mengingatkan pentingnya skrining atau pemeriksaan kesehatan sebelum seseorang melakukan olahraga berat atau olahraga dengan intensitas tinggi.
Menurut Ade, skrining diperlukan untuk meminimalkan risiko kesehatan, terutama bagi orang yang tidak terbiasa berolahraga tetapi ingin langsung menjalani aktivitas fisik berat seperti lari maraton, bersepeda jarak jauh, atau bermain sepak bola.
“Banyak kejadian orang-orang yang ternyata dia enggak di-skrining, olahraga, meninggal. Yang harusnya olahraga itu meningkatkan kebugaran, memperbaiki faktor resiko, tapi justru bahaya,” kata dr. Ade seperti dikutip Antara, Kamis (16/7/2026).
Ade yang juga Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia mengatakan, semakin tinggi intensitas olahraga, semakin penting pula pemeriksaan kesehatan dilakukan.
“Semakin tinggi intensitas olahraga kita, lakukan skrining. Jadi kalau kamu enggak biasa olahraga tapi tiba-tiba lari full marathon, apa yang terjadi? Serangan jantung,” katanya seusai acara Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association atau ASMIHA.
Ia menjelaskan, pemeriksaan kesehatan dapat membantu mendeteksi faktor risiko yang mungkin tidak disadari. Di antaranya riwayat penyakit jantung dalam keluarga, keluhan nyeri dada, jantung berdebar, hingga kondisi lain yang berpotensi membahayakan saat tubuh dipaksa bekerja terlalu berat.
Pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain elektrokardiogram atau EKG, USG jantung, hingga pemeriksaan darah. “Kita bisa EKG pasiennya, kita bisa evo, USG jantung atau periksa darah dan sebagainya untuk skrining. Kalau itu semua bagus, kita bisa mulai olahraga,” ujar Ade.
Ade juga menyarankan orang yang jarang berolahraga untuk memulai latihan fisik secara bertahap. Menurutnya, tubuh perlu beradaptasi sebelum menjalani olahraga dengan intensitas sedang hingga berat.
Ia mencontohkan, orang yang tidak pernah bersepeda kemudian langsung ikut rombongan bersepeda jarak jauh berisiko mengalami masalah jantung. “Contohnya enggak pernah naik sepeda, terus ikut peletonan, itu bahaya, bisa menyebabkan serangan jantung,” katanya.
Ade menjelaskan, risiko gangguan jantung saat olahraga juga bisa berbeda berdasarkan usia. Pada atlet atau orang yang terbiasa berolahraga dan berusia di bawah 35 tahun, penyebab kematian mendadak yang paling sering adalah gangguan irama jantung.
Sementara pada usia di atas 35 tahun, risiko yang paling sering adalah serangan jantung akibat sumbatan total pada pembuluh darah koroner.
“Kita tahu kalau atlet atau orang yang biasa olahraga, usianya di bawah 35 tahun paling sering itu gangguan irama jantung meninggalnya. Tapi, kalau di atas 35, paling sering karena serangan jantung sumbatan total di pembuluh darah koroner ini,” jelasnya. (ant/bil/ham)





Komentar (0)