JAKARTA, KOMPAS.com - Kumpulan kucing liar tampak berseliweran di area pejalan kaki, taman kecil, hingga sudut-sudut stasiun kereta di Jakarta.
Sebagian berbaring santai menunggu orang yang datang membawa pakan, sebagian lain bergerombol di dekat saluran air atau semak-semak.
Pengamatan Kompas.com, Rabu (15/7/2026), dengan menyusuri sejumlah simpul transportasi di Jakarta, mulai dari Stasiun Jatinegara, Matraman, Manggarai, Gondangdia, hingga Cikini, menunjukkan pemandangan yang nyaris serupa di setiap lokasi.
Koloni kucing liar hidup berdampingan dengan lalu lalang ribuan penumpang yang hilir mudik setiap hari.
Di Stasiun Manggarai, seekor kucing oranye tampak lahap menyantap pakan kering di atas pembatas taman. Tak jauh dari sana, beberapa anak kucing berebut makanan yang ditebar seorang relawan.
Di sisi lain peron, seekor induk kucing mengawasi anak-anaknya yang bermain di dekat saluran drainase.
Baca juga: Cerita Neng Molen, Kucing Jalanan yang Kini Jadi Selebcing di Medsos
Sementara di kawasan Cikini dan Gondangdia, beberapa kucing terlihat beristirahat di jalur pedestrian yang teduh. Ada pula yang mendekati penumpang ketika melihat kantong pakan dibuka.
Fenomena tersebut menunjukkan keberadaan koloni kucing liar yang telah menjadi bagian dari lanskap ruang publik Jakarta.
Namun, di balik pemandangan yang dianggap menggemaskan oleh sebagian orang, tersimpan persoalan yang jauh lebih besar, ledakan populasi.
Mina (30), warga Jakarta Timur yang rutin memberi makan kucing di sejumlah stasiun KRL selama empat tahun terakhir, mengatakan jumlah kucing yang ditemuinya terus meningkat.
"Awalnya saya hanya melihat seekor anak kucing yang kurus di dekat area parkir stasiun. Lama-kelamaan saya sadar ternyata jumlahnya banyak dan hampir setiap stasiun punya koloni sendiri," ujar Mina saat ditemui Kompas.com di Stasiun Manggarai, Rabu.
Menurut dia, kondisi sebagian besar kucing jalanan masih memprihatinkan.
Berdasarkan pengamatannya, koloni yang dulu hanya terdiri dari lima hingga delapan ekor kini berkembang menjadi belasan bahkan lebih dari 20 ekor di beberapa titik.
Ia menduga peningkatan itu bukan hanya disebabkan reproduksi alami, tetapi juga karena masih adanya kucing peliharaan yang dibuang ke jalan.
"Saya sering melihat ada kucing rumahan yang tiba-tiba muncul. Bulunya lebih bersih, lebih jinak, bahkan masih memakai kalung," ujar dia.
Baca juga: Pemprov DKI Targetkan Sterilisasi 22.000 Kucing pada 2026 untuk Kendalikan Populasi Liar






Komentar (0)