PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mencatatkan kinerja keuangan positif pada semester I 2026. Direktur Utama BTN, Nixon L.P Napitupulu, menyatakan perseroan mencatatkan laba bersih konsolidasi Rp 2,40 triliun atau tumbuh 40,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy) per semester I 2026 dari Rp 1,70 triliun di periode yang sama tahun lalu.
“Pertumbuhan tersebut juga diikuti peningkatan kredit menjadi Rp 418,11 triliun atau tumbuh 11,2 persen. Total aset menjadi Rp 545 triliun atau naik 12,4 persen. Serta dana pihak ketiga mencapai Rp 433 triliun atau tumbuh 6,6 persen,” ucap Nixon dalam konferensi pers Paparan Kinerja BTN 30 Juni 2026 di Menara 2 BTN, Jakarta, Kamis (16/7).
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan transformasi BTN tidak hanya mampu mendorong pertumbuhan bisnis, tetapi juga memperkuat fondasi perseroan di tengah tantangan industri perbankan.
Nixon memaparkan kualitas aset BTN terus membaik. Hingga semester I 2026, rasio kredit bermasalah non-performing loan (NPL) gross berhasil ditekan menjadi 2,99 persen atau membaik 33 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, loan at risk (LAR) turun menjadi 18,6 persen atau membaik 147 basis poin, sedangkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) meningkat menjadi 20 persen atau naik 254 basis poin secara tahunan.
“Dengan kualitas aset yang semakin membaik di tengah situasi yang cukup challenging dan permodalan yang semakin kuat, BTN hari ini memiliki ruang besar untuk terus bertumbuh secara sehat dan berkesinambungan,” tutur Nixon.
Nixon mengungkapkan pertumbuhan kredit yang naik 11,2 persen secara yoy didorong oleh pertumbuhan kredit perumahan sebesar 4,8 persen yoy menjadi Rp 332,88 triliun dari sebelumnya Rp 317,77 triliun, serta lonjakan kredit nonperumahan sebesar 46,1 persen yoy menjadi Rp 85,22 triliun dari Rp 58,34 triliun.
Kemudian, di segmen perumahan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi tetap menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 8,1 persen yoy menjadi Rp 196,96 triliun hingga Juni 2026, dibandingkan Rp 182,17 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) yang diluncurkan sejak akhir Oktober 2025 telah mencapai Rp 4,1 triliun per Juni 2026.
“Jadi diversifikasinya semakin membaik sehingga kita juga menurunkan concentration risk,” lanjut Nixon.
Nixon menegaskan ekspansi ke sektor nonperumahan bukan untuk menggantikan pembiayaan perumahan sebagai bisnis utama, melainkan sebagai pelengkap yang memperkuat model bisnis perseroan melalui tambahan sumber pertumbuhan.
Kemudian, supperapps Bale by BTN telah digunakan lebih dari 4,3 juta pengguna. Peningkatan pengguna tersebut didukung lebih dari 344 ribu merchant, lebih dari 14 ribu developer, dan 59 pemerintah daerah. Secara transaksi, jumlah dan nominal transaksi menggunakan Bale by BTN tumbuh masing-masing sebesar 41,6 persen yoy dan 55,3 persen yoy per Juni 2026.
“Kami melihat Bale bukan sekedar aplikasi perbankan, tapi sebagai itu masuk menuju ekosistem layanan keuangan BTN yang semakin terintegrasi,” ucap Nixon.
BTN Selesaikan Akuisisi Tahap Pertama Portofolio dengan SMBCNixon melanjutkan, BTN juga telah menyelesaikan akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk dengan nilai transaksi sekitar Rp 12,6 triliun.
Akuisisi ini memperkuat komposisi portofolio kredit non-perumahan BTN sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru dengan profil imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang tetap terjaga. Seluruh portofolio yang diakuisisi merupakan kredit berkualitas (performing loan), sehingga mendukung perbaikan kualitas aset perseroan dan memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas.
“Nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun. Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang,” ujar Nixon.
BTN juga akan melanjutkan akuisisi tahap kedua pada kuartal III-2026 senilai sekitar Rp 7,34 triliun, sehingga secara keseluruhan Perseroan akan mengelola sekitar 344,6 ribu rekening kredit pensiun. Nixon pun menargetkan porsi kredit non-perumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30 persen dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan.






Komentar (0)