Ledakan Bom di Padang, Kala Perundungan Lepas dari Perhatian Sekolah

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Insiden ledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang menguak fenomena "gunung es" perundungan yang selama ini terabaikan di lingkungan sekolah. Siswa terduga perakit bom berinisial R (17) mengaku terus mengalami perundungan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Artinya, selama ini ada titik lemah di sekolah dalam mengidentifikasi dan menangani perundungan," kata sosiolog Universitas Negeri Padang, Erianjoni, Kamis (16/7/2026).

Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden peledakan bom rakitan di MAN 3 Padang, Selasa (14/7/2026). R diduga membawa dan meledakkan bom rakitan berdaya ledak rendah di lingkungan sekolah saat jam istirahat. Ledakan terjadi di dekat ruang kelas XII IPS 7 dan menimbulkan kepanikan, meski tidak menyebabkan korban jiwa.

Menurut Erianjoni, beban administrasi dan pelaporan yang semakin besar membuat warga sekolah kurang peka terhadap persoalan yang dialami peserta didik. Di sisi lain, penanganan masalah psikologis siswa seolah hanya menjadi tanggung jawab guru bimbingan dan konseling (BK).

"Guru-guru tersita waktu dan energinya untuk menyiapkan pembelajaran serta administrasi sehingga tidak lagi memiliki cukup waktu memperhatikan kondisi peserta didik," ujarnya.

Akibatnya, ruang dialog antara guru dan siswa semakin terbatas. Aktivitas di sekolah lebih banyak berfokus pada proses belajar mengajar, sementara persoalan sosial maupun psikologis siswa kerap luput dari perhatian.

Menurut Erianjoni, seluruh warga sekolah semestinya memiliki kepekaan terhadap berbagai bentuk perundungan, baik verbal, fisik, maupun seksual. Guru dan siswa juga perlu dibekali kemampuan mengenali serta merespons perundungan sejak dini agar tidak muncul sikap permisif terhadap tindakan tersebut.

Ia menambahkan, kasus perundungan sebenarnya terjadi di banyak satuan pendidikan, tetapi hanya sebagian kecil yang terungkap ke publik. Dari 258 kasus kekerasan di satuan pendidikan di Sumatera Barat, sekitar 14 persen terjadi di lingkungan madrasah sehingga memerlukan perhatian lebih dari para pemangku kepentingan.

Sebagaimana diberitakan, R meledakkan bom rakitan sekitar pukul 11.30 WIB di lingkungan MAN 3 Padang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.

Baca JugaDiduga Dirundung Temannya, Siswa MAN 3 Padang Ledakkan Bom Rakitan

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Komisaris Besar Mayndra Eka Wardhana mengatakan, petugas keamanan sekolah segera melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian. Saat melakukan penyisiran, petugas menemukan sebuah kotak hitam dan tiga bom rakitan yang belum sempat diledakkan di dalam tas milik R.

Menurut Mayndra, R mengaku mempelajari cara merakit bahan peledak melalui internet. Ia juga mengaku terinspirasi oleh insiden ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta pada 2025. Setelah bergabung dalam grup percakapan daring yang membahas pembuatan bom, R kemudian merakit bahan peledak di kamarnya tanpa sepengetahuan orangtuanya. Namun, seluruh pengakuan tersebut masih didalami penyidik.

Lebih jauh, R mengaku nekat merakit bom karena dipicu rasa sakit hati akibat perundungan yang dialaminya. Polisi masih menyelidiki pihak-pihak yang diduga melakukan perundungan maupun target yang hendak disasar pelaku.

Mencari pengakuan

Erianjoni menilai tindakan R merupakan bentuk pelampiasan sekaligus upaya mencari pengakuan atas keberadaannya. Menurut dia, sebagian remaja memilih cara-cara ekstrem agar dianggap hebat atau mendapat perhatian secara instan.

Fenomena itu, kata Erianjoni, juga tampak pada kasus ledakan bom rakitan di SMA Negeri 72 Jakarta pada November 2025 yang kemudian menginspirasi R. Saat itu terjadi tiga kali ledakan, yakni di dalam masjid sebelum iqamah shalat Jumat, di samping masjid, dan di belakang sekolah. Peristiwa tersebut mengakibatkan sekitar 50 hingga 60 orang mengalami luka-luka.

Menurut Erianjoni, pilihan ekstrem tidak selalu berupa peledakan bom. Ketika menghadapi tekanan, sebagian remaja justru mencari jawaban sendiri melalui internet dibandingkan berdiskusi dengan orangtua atau guru karena khawatir tidak memperoleh solusi yang sesuai dengan harapan mereka.

Baca JugaLedakan Bom Rakitan di MAN 3 Padang, Kemenag Siapkan Pendampingan untuk Siswa

Kecenderungan tersebut sejalan dengan tingginya durasi penggunaan gawai di kalangan remaja Indonesia. Di saat yang sama, interaksi langsung dengan keluarga maupun lingkungan sekitar semakin berkurang. Akibatnya, ketika menghadapi persoalan, mereka lebih memilih mencari jawaban di dunia maya daripada berbagi cerita dengan orang-orang terdekat.

Gejala itu tercermin dalam Indonesia National Adolescent Mental Health Survey 2022. Survei tersebut menunjukkan sekitar 15,5 juta remaja atau 34,9 persen mengalami masalah kesehatan mental, sedangkan 2,45 juta remaja atau 5,5 persen mengalami gangguan mental. Namun, hanya 2,6 persen yang mengakses layanan konseling untuk persoalan emosi maupun perilaku (Kompas.id, 3 Mei 2023).

Menurut Erianjoni, pilihan-pilihan ekstrem dalam menghadapi tekanan dapat berujung pada tindakan yang mengejutkan. Selain peledakan bom, Kompas juga mencatat sejumlah pelajar memilih mengakhiri hidup karena tidak mampu menghadapi tekanan psikologis.

Hal itu terjadi di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada Oktober dan November 2025. Dua pelajar, yakni Arif Nofriadi Jefri (15), siswa SMP Negeri 2, dan Evan (15), siswa SMP Negeri 7, meninggal akibat bunuh diri. Keduanya diduga mengalami tekanan psikologis berat sebelum mengakhiri hidup.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto Sudirman mengatakan, dua kasus tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dinas Pendidikan berupaya memutus mata rantai kasus bunuh diri di kalangan pelajar melalui pendampingan di sekolah.

"Semua satuan pendidikan akan melakukan pendampingan agar kasus serupa tidak terulang," ujarnya.

Menurut Sudirman, seluruh kepala sekolah telah diinstruksikan memperkuat pendampingan terhadap peserta didik. Guru wali kelas juga diminta lebih aktif mengenali perubahan perilaku siswa agar persoalan yang mereka hadapi dapat terdeteksi dan ditangani sedini mungkin.

”Disclamer”: Informasi dalam tulisan ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi, segera konsultasikan masalah Anda ke penyedia layanan kesehatan mental, seperti psikolog, psikiater, dan klinik kesehatan jiwa.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BeauPicks: 5 Rekomendasi Sandal Gemas dan Playful dari Brand Lokal untuk Hangout
• 21 menit lalu
0
thumb
Resmi! Kurniawan Dwi Yulianto Jadi Pelatih Indonesia All Stars Hadapi Aston Villa di SUGBK pada 1 Agustus 2026
• 21 jam lalu
0
thumb
Optimistis Eksepsinya Dikabulkan Hakim, Dokter Tifa: Sudah Dikaji Secara Ilmu dan Fakta
• 4 jam lalu
0
thumb
Bursa kerja di Yogyakarta buka peluang bagi penyandang disabilitas
• 14 jam lalu
0
thumb
Zulkifli Hasan Sebut Kopdes Bakal Jadi Penyalur Bansos dan Barang Subsidi, Sekaligus Offtaker Gabah
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.