Kecelakaan Maut Indramayu Tewaskan 12 Orang, Dedi Mulyadi Datangi Keluarga Korban sampai Beri Santunan Rp 25 Juta

grid.id
4 jam lalu
Cover Berita

 

Grid.IDKecelakaan maut Indramayu tewaskan 12 orang. Dedi Mulyadi langsung datangi keluarga korban sampai beri santunan Rp 25 juta.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan santunan sebesar Rp25 juta kepada keluarga setiap korban kecelakaan maut yang terjadi di Jalur Pantura, tepatnya di Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.

Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung kepada perwakilan keluarga korban di kediaman mereka di Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, pada Selasa (14/7/2026) sore.

Didampingi sejumlah pejabat, Dedi tiba di Desa Cempeh menjelang waktu Magrib. Setibanya di lokasi, ia langsung mendatangi rumah salah satu korban untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus menyerahkan bantuan.

Dalam kunjungan tersebut, Dedi juga berbincang dengan keluarga para korban yang meninggal dunia akibat kecelakaan tragis yang terjadi pada Minggu (12/7/2026). Insiden tersebut merenggut nyawa 12 orang.

Saat berdialog dengan keluarga korban, Dedi menanyakan kronologi kejadian sekaligus memastikan kondisi mereka. Ia kemudian menyerahkan santunan senilai Rp25 juta kepada masing-masing keluarga korban sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap musibah yang terjadi.

"Ini titip buat istri dan anaknya (korban)," ujar Dedi Mulyadi sambil menyerahkan santunan tersebut kepada perwakilan keluarga korban, dan langsung berpamitan untuk pulang, dikutip dari TribunJabar.id.

Kunjungan Dedi Mulyadi ke Desa Cempeh mendapat sambutan hangat dari ratusan warga. Masyarakat tampak memadati sisi jalan yang dilalui rombongan menuju rumah korban kecelakaan tragis yang melibatkan dua truk dan sebuah mobil pikap.

Untuk menjaga kelancaran dan keamanan selama kunjungan berlangsung, puluhan personel Polres Indramayu dikerahkan. Mereka membentuk barisan pengamanan di sepanjang jalur yang dilintasi rombongan hingga tiba di lokasi tujuan.

Di sisi lain, Warsem (58), yang mewakili keluarga korban, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Dedi Mulyadi serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas perhatian yang diberikan dengan datang langsung ke Desa Cempeh dan menyerahkan santunan.

Warsem menjelaskan, keluarganya menerima bantuan sebesar Rp50 juta karena dua anggota keluarganya menjadi korban meninggal dalam kecelakaan tersebut.

 

"Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada Pak Gubernur atas perhatian yang telah diberikan. Rencananya, santunan ini untuk (memenuhi) kebutuhan sehari-hari, dan biaya sekolah cucu (anak korban)," kata Warsem saat ditemui di Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Selasa (14/7/2026) malam.

Kepolisian masih mendalami penyebab kecelakaan maut yang merenggut 12 korban jiwa di Jalur Pantura, tepatnya di Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Dari hasil penyelidikan awal, insiden yang terjadi pada Minggu (12/7/2026) tersebut diduga berkaitan dengan adanya pelanggaran aturan lalu lintas.

Selain itu, polisi turut menyoroti penggunaan mobil pikap atau kendaraan bak terbuka sebagai sarana mengangkut penumpang. Praktik tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memperbesar jumlah korban dalam kecelakaan tersebut.

Peristiwa nahas itu tidak hanya menyebabkan 12 orang meninggal dunia, tetapi juga mengakibatkan enam korban lainnya mengalami luka-luka. Seluruh korban yang terluka telah dievakuasi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.

Kepala Seksi Pengumpulan dan Pengolahan Data dan Informasi Lalu Lintas Subdirektorat Kecelakaan Direktorat Penegakan Hukum Korlantas Polri, AKBP Sandhi Wiedyanoe, menjelaskan bahwa proses penyelidikan dilakukan secara terpadu oleh Polres Indramayu, Polda Jawa Barat, dan Korlantas Polri.

Menurutnya, tim gabungan saat ini masih mengumpulkan berbagai alat bukti serta meminta keterangan dari sejumlah pihak guna mengungkap secara pasti penyebab kecelakaan tersebut.

Sementara itu, hingga Senin (13/7/2026), penyidik Unit Penegakan Hukum Satlantas Polres Indramayu telah memeriksa empat orang saksi. Mereka terdiri atas dua pengemudi truk yang terlibat dalam kecelakaan dan dua warga yang berada di lokasi saat kejadian.

Keterangan para saksi tersebut digunakan untuk menyusun kronologi secara menyeluruh, mulai dari kondisi sebelum kecelakaan, saat insiden berlangsung, hingga setelah peristiwa terjadi.

"Kami sudah memeriksa empat saksi untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai kejadian tersebut. Empat saksi itu terdiri dari dua sopir truk yang terlibat kecelakaan, dan dua saksi lainnya dari masyarakat," ujar Sandhi saat ditemui seusai olah tempat kejadian perkara di Jalur Pantura, Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, dikutip dari Kompas.com.

Selain meminta keterangan dari para saksi, kepolisian juga menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk menelusuri penyebab kecelakaan. Proses tersebut dilakukan dengan meneliti posisi setiap kendaraan, arah laju kendaraan, hingga pola benturan yang terjadi saat insiden berlangsung.

Seluruh temuan di lokasi akan menjadi bahan analisis untuk merekonstruksi kronologi kecelakaan secara utuh.

 

Kepala Seksi Pengumpulan dan Pengolahan Data dan Informasi Lalu Lintas Subdirektorat Kecelakaan Direktorat Penegakan Hukum Korlantas Polri, AKBP Sandhi Wiedyanoe, mengatakan enam korban yang mengalami luka-luka kini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Beberapa di antaranya bahkan dijadwalkan menjalani operasi dalam waktu dekat.

Meski demikian, pihak kepolisian belum mengungkap secara rinci kondisi kesehatan maupun jenis luka yang dialami masing-masing korban.

Di sisi lain, jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut tercatat sebanyak 12 orang. Sejumlah korban dinyatakan meninggal di lokasi kejadian, sementara lainnya mengembuskan napas terakhir saat mendapat penanganan medis di rumah sakit.

Peristiwa ini menjadi sorotan karena banyak korban berada di atas mobil pikap atau kendaraan bak terbuka. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, polisi menduga kecelakaan dipicu oleh adanya pelanggaran lalu lintas.

Selain itu, penggunaan mobil pikap untuk mengangkut penumpang dinilai turut memperbesar risiko sehingga menyebabkan tingginya angka korban jiwa.

"Kecelakaan lalu lintas ini disebabkan pelanggaran, dan penyebab banyaknya korban jiwa ini akibat mobil pikap digunakan tidak sesuai peruntukannya, karena seharusnya dipakai untuk mengangkut barang, bukan orang," kata Sandhi.

Meski demikian, polisi masih melanjutkan penyelidikan untuk menentukan bentuk pelanggaran, pihak yang bertanggung jawab, serta faktor lain yang turut menyebabkan kecelakaan. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pastikan B50 Aman Tidak Bakal Rusak Kendaraan, ESDM: Ini Bukanlah Lompatan yang Gegabah
• 22 jam lalu
0
thumb
Usai Kontroversi dan Wajib Militer, Nam Joo Hyuk Comeback Lewat The East Palace
• 18 jam lalu
0
thumb
Siap Ramaikan Industri Kreatif Digital, Mahasiswa RPL UBSI Pamerkan Beragam Karya Mobile Game
• 5 jam lalu
0
thumb
Lamine Yamal Ketiban Sial Jelang Final Piala Dunia 2026, Bintang Andalan Spanyol Kemalingan
• 8 jam lalu
0
thumb
Prabowo dijadwalkan "groundbreaking" ladang gas Blok Masela Kamis
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.