Purbaya Beberkan Alasan Penempatan SAL di Bank, Sebut Data Likuiditas KSSK Keliru

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkap alasan menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dalam jumlah besar di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sejak awal dirinya menjabat. 

Purbaya menegaskan, kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan peredaran uang primer (M0), tetapi juga didasari kondisi likuiditas perbankan yang dinilai tidak tercermin dalam indikator resmi.

Menurutnya, data yang digunakan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang bersumber dari Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menunjukkan likuiditas perbankan berada dalam kondisi memadai. Namun, menurutnya, fakta di lapangan justru berbeda.

"Tanya ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), semua bilang (likuiditas) ample, tapi data mereka salah semua,” kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Menurut Purbaya, perbedaan itu terlihat ketika dirinya sempat menarik kembali dana SAL dari perbankan ke Bank Indonesia. Saat itu, sejumlah bank mengaku mengalami pengetatan likuiditas sehingga tidak memiliki ruang untuk menyalurkan kredit.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa indikator yang selama ini dipakai untuk mengukur likuiditas perbankan belum mampu menggambarkan keadaan sebenarnya.

“waktu bank-bank komplain itu, saya tanya ke mereka gimana, katanya uangnya memang enggak ada, loh indikatornya kan bagus semua, berarti indikator yang kita pakai selama ini enggak akurat,” jelasnya.

Baca Juga: Purbaya Ungkap Sempat Tarik Dana SAL dari Himbara atas Permintaan BI

Baca Juga: Purbaya Klaim Pemerintah Punya Skema Khusus untuk Tangani Utang Proyek Kereta Cepat Tanpa APBN

Purbaya mengaku persoalan tersebut sudah menjadi perhatian sejak dirinya masih menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner LPS. Saat itu, ia telah meminta tim LPS untuk mencari ukuran yang lebih tepat dalam mencerminkan kondisi likuiditas perbankan.

Menurutnya, hingga kini, belum ditemukan indikator yang mampu menjelaskan mengapa data menunjukkan likuiditas berlebih sementara perbankan mengalami kekurangan dana.

“Saya di LPS cukup lama, saya minta ke orang-orang LPS coba deh cari indikator yang pas, kenapa (likuiditas) ample tapi banknya kurang uang? Jadi ada kesalahan data atau indikator yang kita pakai oleh KSSK selama ini. Saya sudah minta tim KSSK perbaiki itu, tapi rupanya belum dapat,” pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Populer: Trump Batalkan Pungutan di Selat Hormuz; Ikat Rambut Haaland Laris
• 10 jam lalu
0
thumb
Prabowo Gelar Rapat Bahas Penyaluran Barang Subsidi Lewat Kopdes
• 22 jam lalu
0
thumb
Realisasi PNBP Kementerian ESDM Tembus Rp 85,58 T per Juli 2026
• 2 jam lalu
0
thumb
Investasi Mulai Tersebar Lebih Merata, Tapi Masih Dominan di Pulau Jawa
• 5 jam lalu
0
thumb
Motif Peneror Bom SDN Srengseng Sawah 15 Terungkap, Tersinggung soal Seragam Sekolah
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.