Citra Tapak yang Terluka atas Nama Bahasa ”Langit” Hilirisasi

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Melalui pameran foto dan diskusi, jejak luka atas hilirisasi nikel diungkap dan didekatkan kepada masyarakat. Luka kepada warga, lingkungan, juga kekayaan biodiversitas menjadi penanda dampak transisi energi. Para peserta pameran ingin mengabarkan apa yang dialami secara nyata, bukan diskusi “langit” tanpa partisipasi penuh warga terdampak di ruang nyaman berpendingin udara.

Sebanyak lebih dari 40 foto dipamerkan dalam helatan pameran kolektif di sebuah kedai kopi di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7/2026) petang. Puluhan foto ini mengantar pengunjung dari depan hingga bagian dalam kedai. Pameran ini mengangkat tema Dari Bahasa Langit Menjadi Luka di Tapak, yang diinisiasi Balang Institute dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar.

Di etalase depan kedai, sebuah foto rumah panggung reyot dengan latar smelter raksasa menyambut. Itu adalah foto kehidupan warga di Bantaeng yang berhadapan dengan industri raksasa pengolahan nikel. Di bawah foto yang menjadi ”Photo of The Year” Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2025 ini, ada foto udara sebuah pulau kecil yang terbuka di Maluku Utara.

Pada depan pintu masuk, sebuah foto tapak kaki penuh debu terpampang di depan pintu. “Foto ini kami potret di Bantaeng, kaki seorang kakek berumur sekitar 70 tahun. Ia adalah seroang buruh bata yang rumahnya berjarak 10 meter dari smelter,” kata Iqbal Lubis, koordinator dan kurator pameran foto.

Menurut dia, foto-foto ini adalah upaya kolektif untuk menggambarkan kondisi yang terus terjadi di lapangan. Mulai dari penambangan di Morowali, Sulawesi Tengah, Wawonii hingga Kolaka di Sulawesi Tenggara, Bantaeng dan Sorowako di Sulawesi Selatan, hingga Pulau Obi di Maluku Utara.

Visual yang ditampilkan berupaya untuk menunjukkan suara dari masyarakat terdampak, alam, hewan, dan kekayaan biodiversitas. Kehancuran biologis dan lingkungan terus terjadi dan berdampak luas. Pelaksanaannya di kedai kopi dimaksudkan untuk mendekatkan hal ini kepada masyarakat dan generasi muda yang tidak terpapar atas apa yang terjadi di sekitar mereka.

Tidak hanya itu, narasi foto juga mengisahkan sejarah perjuangan dan perlawanan. Para buruh, hingga ibu-ibu, bersuara melawan nama besar pembangunan. “Benang merahnya adalah hilirisasi yang digembar-gemborkan ini sebenarnya untuk siapa? Sementara warga yang berada di lokasi hanya merasakan luka,” terang Iqbal.

Baca JugaMata Air yang Jadi Air Mata di Wawonii

Pameran foto yang dilanjutkan dengan diskusi itu menghadirkan sejumlah warga terdampak. Ali Kamri Nawir dari masyarakat Loeha Raya di Luwu Timur menyampaikan, hilirisasi dan transisi energi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengorbankan masyarakat yang selama ini hidup dari sektor pertanian.

“Sekali lagi, kami sampaikan bahwa kami tidak sedang melawan pembangunan. Kami hanya ingin memastikan bahwa pembangunan tidak mengorbankan rakyat. Tanah, air, dan kebun yang kami miliki bukan sekadar aset ekonomi, tetapi ruang hidup yang diwariskan kepada anak cucu kami. Jangan atas nama hilirisasi, petani dipaksa kehilangan masa depannya,” ucapnya.

Selama ini, ia menambahkan, masyarakat terdampak lebih sering dijadikan objek dalam berbagai forum diskusi dan kajian. Akan tetapi, suara dari warga terdampak itu sangat jarang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan.

Terlebih lagi, ada perbedaan besar antara hadir, berpartisipasi, dan memiliki pengaruh. Hadir berarti berada di dalam ruangan, berpartisipasi berarti memperoleh kesempatan berbicara. Sementara itu, memiliki pengaruh berarti dapat mengubah arah pembahasan, menentukan tuntutan, memperbaiki rekomendasi, dan menolak hasil yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat.

Baca JugaSendu di Torobulu, Ketika Ikan Hilang akibat Tambang

“Kami membutuhkan kepastian bahwa kebun tidak dimasuki tanpa persetujuan, pengeboran tidak dijalankan di atas penolakan warga, sumber air dilindungi, dan perusahaan bertanggung jawab atas setiap risiko yang ditimbulkan.

Sebab, ia percaya apa yang diperjuangkan bukan hanya kebun. Mereka memperjuangkan hak hidup, hak bertani, hak atas lingkungan yang sehat, dan hak masyarakat untuk menentukan masa depannya sendiri. Ia berharap pemerintah, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan mulai mendengar suara masyarakat dari bawah, bukan hanya melihat angka investasi dan produksi nikel sebagai ukuran keberhasilan pembangunan.

Adam Kurniawan dari Balang Institute menjabarkan, narasi besar mengenai hilirisasi sering kali berbeda dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat. Program itu dibingkai dalam terminologi transisi energi, dekarbonisasi, dan berbagai istilah lainnya.

Terminologi itu terdengar megah di tingkat kebijakan. Namun, bagi warga yang tinggal di sekitar tambang, persoalan yang dihadapi jauh lebih nyata. "Itu yang kami sebut bahasa dari langit. Karena istilah-istilah itu tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari warga," ujarnya.

Baca JugaHilirisasi, untuk Siapa?

Adam menilai, istilah tersebut menutupi berbagai persoalan yang muncul di lapangan. Mulai dari perubahan hutan menjadi tambang, hilangnya lahan pertanian, hingga rusaknya sumber air.

"Kalau di tapak, mau itu namanya hilirisasi, mau percepatan transisi energi, wajahnya adalah perampasan lahan. Itulah yang kemudian bahasa dari langit berubah menjadi luka di tapak," tegasnya.

Pameran foto yang dirangkai dengan diskusi ini berusaha menunjukkan sisi yang jarang muncul dalam pembahasan mengenai investasi maupun industri nikel. Terlebih lagi, publik lebih sering mendengar manfaat ekonomi, sementara dampak terhadap lingkungan dan masyarakat tidak banyak mendapat ruang.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kenakan Pakaian Pengantin, Joanna Alexandra Resmi Menikah dengan Immanuel Christover?
• 6 jam lalu
0
thumb
Pemprov Jateng salurkan 500 ekor ayam untuk kemandirian ekonomi desa
• 14 jam lalu
0
thumb
Mendes PDT Sebut 20% Keuntungan Koperasi Merah Putih Jadi Pendapatan Asli Desa
• 9 jam lalu
0
thumb
Uluran Tangan Negara untuk Anak Sayuti Melik yang Sakit-sakitan di Kontrakan Bekasi
• 7 jam lalu
0
thumb
Menkop Dialog dengan 10 Asosiasi Desa di RI, Tuntaskan Persoalan KDKMP
• 8 menit lalu
0
Berhasil disimpan.