REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonomi China mencatatkan pertumbuhan yang lebih rendah dari perkiraan pada tiga bulan hingga Juni. Produk domestik bruto (PDB) negara itu hanya tumbuh 4,3 persen, salah satu angka pertumbuhan triwulanan terendah yang pernah tercatat.
Angka tersebut berada di bawah target pemerintah sebesar 4,5 persen hingga 5 persen. Capaian itu juga menjadi salah satu yang terlemah sejak pelaporan PDB triwulanan resmi dimulai pada awal 1990-an. Periode terakhir ketika pertumbuhan lebih rendah terjadi pada kuartal keempat 2022, saat China masih berada dalam masa pembatasan pandemi Covid-19.
Baca Juga
J-36 Berpotensi Jadi Pesawat Tempur Paling Berbahaya China, Bagaimana dengan Amerika?
Badai Bavi Paksa China Evakuasi Hampir Dua Juta Orang
Produk Halal Dunia Masih Dikuasai China, D-8 Perkuat Kolaborasi Ekonomi Halal
Data yang dirilis pada Rabu (15/7/2026), oleh Biro Statistik Nasional China mengikuti laporan bea cukai resmi Juni menunjukkan ekspor melonjak, dengan pengiriman ke luar negeri meningkat 27 persen. Perbedaan kedua data tersebut menunjukkan ekonomi China masih sangat bergantung pada ekspor, sementara pemerintah terus berupaya meningkatkan permintaan konsumen dan investasi domestik.
Dilansir laman The Guardian, Kamis (16/7/2026), ekspor mobil bulanan untuk pertama kalinya mencapai 1 juta unit pada Juni. Namun, data yang dirilis Rabu juga menunjukkan penjualan kendaraan di pasar domestik anjlok lebih dari 16 persen. Meski penjualan ritel, di luar kendaraan bermotor, meningkat 3 persen pada bulan lalu, para ekonom menilai pertumbuhan konsumsi yang lebih berkelanjutan tetap diperlukan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Para analis kini mencermati apakah Partai Komunis China akan memberikan sinyal mengenai langkah stimulus baru dalam pertemuan para pejabat tinggi yang dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan ini. Para ekonom menilai langkah yang lebih luas sangat dibutuhkan untuk meningkatkan belanja konsumen apabila ekonomi China ingin kembali lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada ekspor, yang menyumbang sekitar 20 persen terhadap PDB.
Komentar (0)