JAKARTA, KOMPAS.com - Pengirim pesan ancaman bom ke SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa, Jakarta Selatan, MY (34), resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rumah Tahanan Polres Metro Jakarta Selatan.
Dalam pemeriksaan, MY sempat memberikan keterangan yang berubah-ubah. Namun, akhirnya ia mengakui perbuatannya dan mengungkap motif di balik aksi teror tersebut.
Motif tersinggungSebagai orangtua salah satu siswa baru di SDN Srengseng Sawah 15, MY mengaku tersinggung dengan ucapan seorang guru saat mengurus administrasi sekolah anaknya.
Baca juga: Hari Ini, Sidang Tanggapan Jaksa atas Eksepsi Dokter Tifa
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi Wibowo mengatakan, beberapa hari sebelum kejadian, MY bertemu dengan pihak sekolah untuk mengurus administrasi siswa baru.
Saat itu, seorang guru menyampaikan bahwa MY tidak perlu membeli seragam sekolah karena memahami kondisi keuangannya. Namun, ucapan tersebut justru membuat MY tersinggung.
“Jadi beberapa hari sebelum kejadian kan nanya dia masalah seragam. Jawabannya, 'Udah, enggak usah beli seragamnya, saya tahu kondisi kamu kan begitu.’ Jadi kayaknya merasa tersinggung,” jelas Joko ditemui di Mapolres Jakarta Selatan, Rabu (15/7/2026).
Perasaan tersinggung itulah yang kemudian mendorong MY mengirimkan pesan ancaman bom kepada seorang guru dan seorang staf tata usaha di sekolah tersebut.
Sementara itu, Ketua RT di tempat tinggal MY, Anton Sianipar, mengatakan bahwa pelaku sempat mengantar anaknya pada hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
“Kalau antar, iya. Karena yang mengantar anaknya sekolah dia gitu. Setelah dia ngantar baru dia beraktivitas gitu,” kata Anton saat ditemui di sekitar tempat tinggalnya, Rabu.
Anton menuturkan, awalnya MY ingin menyekolahkan anaknya di SD lain yang lokasinya lebih dekat dengan rumah. Namun, anaknya tidak lolos seleksi PPDB dan akhirnya diterima di SDN Srengseng Sawah 15.
Setelah kasus ini mencuat, anak MY dipindahkan ke sekolah lain demi alasan keamanan. Rumah yang semula dihuni oleh MY beserta istri, anak, dan ayahnya kini kosong.
Baca juga: Menanti JPO Baru di Tendean, Sangat Dibutuhkan Warga tetapi Anggarannya Belum Ada
Istri MY kini tinggal di rumah ibunya bersama sang anak, sedangkan ayah MY pindah ke rumah adiknya.
Terlilit pinjolAnton menduga kondisi ekonomi menjadi salah satu persoalan yang dihadapi MY. Menurut dia, MY terlilit utang pinjaman online (pinjol) dan koperasi simpan pinjam.
MY juga tidak memiliki pekerjaan tetap. Sehari-hari, ia hanya sesekali membantu ayahnya mencuci mesin pendingin ruangan atau air conditioner (AC).
Anton mengaku pernah mendapat teguran dari pihak kelurahan karena banyak laporan mengenai kedatangan debt collector di lingkungannya.






Komentar (0)