DALAM dunia kedokteran, pasien kanker stadium empat tidak selalu meninggal karena besarnya tumor. Banyak yang wafat justru karena sistem kekebalan tubuhnya runtuh.
Ketika imunitas melemah, infeksi kecil sekalipun mampu menjalar ke seluruh organ dan menghancurkan fungsi tubuh secara perlahan.
Negara pun memiliki sistem imunitas. Imunitas itu bernama konstitusi, supremasi hukum, integritas aparatur, pengawasan publik, serta kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga negara.
Selama sistem imun tersebut bekerja dengan baik, penyimpangan masih dapat dikoreksi. Sebaliknya, ketika daya tahan itu melemah, korupsi berkembang bukan lagi sebagai kejahatan individual, melainkan sebagai penyakit sistemik.
Berbagai dinamika penegakan hukum yang menyita perhatian publik belakangan ini, memperlihatkan bahwa persoalan korupsi di Indonesia telah memasuki babak yang lebih kompleks.
Penggeledahan terhadap rumah dan tempat usaha seorang pejabat tinggi penegak hukum, sorotan terhadap pelibatan unsur TNI dalam suatu rangkaian peristiwa, hingga pertemuan Kapolri dan Jaksa Agung yang menegaskan sinergi antarlembaga merupakan fakta-fakta yang memancing diskusi luas di ruang publik.
Baca juga: Kursi Komisaris dan Matinya Kesempatan
Terlepas dari bagaimana proses hukum itu akan berakhir, rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan satu kenyataan penting bahwa perhatian masyarakat kini tidak hanya tertuju pada pelaku korupsi, tetapi juga pada integritas sistem yang memberantas korupsi.
Inilah tantangan terbesar pemberantasan korupsi saat ini. Persoalannya bukan hanya apakah seorang tersangka akhirnya dipidana atau dibebaskan.
Persoalannya adalah apakah masyarakat masih percaya bahwa seluruh proses hukum berjalan independen, objektif, dan bebas dari pengaruh kekuasaan.
Dalam negara demokrasi, kepercayaan publik merupakan sumber legitimasi yang tidak kalah penting dibandingkan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang.
Data menunjukkan bahwa pekerjaan rumah Indonesia masih besar. Skor Corruption Perceptions Index (CPI) 2025 Indonesia turun menjadi 34 dari 100, sedangkan Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK masih menunjukkan kerentanan praktik korupsi di berbagai institusi.
Angka-angka tersebut tidak otomatis menggambarkan jumlah koruptor, tetapi mencerminkan persepsi bahwa tata kelola pemerintahan dan integritas sektor publik masih menghadapi tantangan serius.
Korupsi pada akhirnya bukan sekadar soal uang negara yang hilang. Setiap rupiah yang dikorupsi berarti sekolah yang tidak selesai dibangun, rumah sakit yang kekurangan fasilitas, jalan yang cepat rusak, irigasi yang tidak berfungsi, atau bantuan sosial yang tidak tepat sasaran.
Namun, kerugian terbesar sesungguhnya tidak dapat dihitung dengan angka. Kerugian terbesar adalah hilangnya kepercayaan.
Baca juga: Aku Malu Jadi Penduduk Indonesia
Francis Fukuyama menyebut kepercayaan sebagai modal sosial yang menentukan keberhasilan suatu bangsa.






Komentar (0)