CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Jumlah korban luka di Iran akibat eskalasi militer terbaru dengan Amerika Serikat terus bertambah. Kementerian Kesehatan Iran pada Rabu mengungkapkan bahwa sedikitnya 260 orang mengalami luka-luka sejak gelombang serangan dimulai pada 8 Juli.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengatakan para korban berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk perempuan dan anak-anak. Namun, pemerintah Iran belum memberikan pembaruan terkait jumlah korban jiwa dalam laporan terbaru tersebut.
“Dalam gelombang terbaru eskalasi militer terhadap negara kami, sejauh ini lebih dari 260 orang mengalami luka-luka, termasuk tiga perempuan dan enam orang yang berusia di bawah 18 tahun,” ujar Hossein Kermanpour melalui akun media sosial X, Rabu.
Sebelumnya, pada 11 Juli, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sebanyak 17 orang meninggal dunia dan 115 lainnya terluka akibat serangan yang dimulai sejak 8 Juli. Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai apakah jumlah korban tewas mengalami perubahan.
“Dalam pembaruan terbaru, tidak ada informasi tambahan yang disampaikan mengenai jumlah korban meninggal dunia,” demikian keterangan yang disampaikan otoritas kesehatan Iran.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat terus melancarkan sejumlah gelombang serangan ke wilayah Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan campur tangan Iran terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Situasi ini memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.
CENTCOM menyatakan bahwa serangan militer dilakukan sebagai respons atas dugaan gangguan Iran terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Pada 12 Juli, pemerintah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga Amerika Serikat menghentikan keterlibatannya di kawasan. Kebijakan tersebut diumumkan di tengah berlanjutnya aksi saling serang antara kedua negara yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan dan jalur perdagangan energi global.
Artikel ini telah ditulis ulang dengan struktur berita yang ramah SEO, menggunakan judul yang mengandung kata kunci utama, bebas duplikasi langsung dari naskah sumber, serta memuat tiga kutipan yang dipertahankan sesuai permintaan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti/Antara





Komentar (0)