Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan kegagalan lelang dalam proyek pengembangan sistem perizinan terintegrasi atau Online Single Submission (OSS) pada tahun anggaran 2025. Akibat kendala tersebut, dana sebesar Rp26,46 miliar urung terserap.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa anggaran pengembangan OSS tersebut sejatinya bersumber dari Anggaran Belanja Tambahan (ABT) yang baru disetujui pada pertengahan 2025.
"Proses lelang telah kami laksanakan, namun mengingat kompleksitas sistem OSS, tidak terdapat penyedia yang bersedia menyanggupi pekerjaan dengan sisa waktu yang ada," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (15/7/2026).
Kegagalan lelang sistem perizinan investasi nasional ini menyumbang porsi sebesar 36,56% dari total sisa anggaran (SiLPA) BKPM pada 2025. Secara keseluruhan, Kementerian Investasi menyisakan anggaran sebesar Rp72,37 miliar atau 8,23% dari total pagu senilai Rp879,61 miliar.
Selain mandeknya lelang OSS, Rosan merinci bahwa sisa anggaran tersebut juga disebabkan oleh adanya pemblokiran anggaran sebesar Rp16,75 miliar. Kebijakan ini merupakan imbas dari Instruksi Presiden (Inpres) No. 1/2025 tentang efisiensi belanja, yang membuat dana tersebut berada di luar kendali kementerian dan tidak dapat digunakan hingga akhir tahun.
Adapun, sisa dana lainnya bersumber dari efisiensi murni yaitu efisiensi kontrak pengadaan sebesar 13,21%, kegiatan swakelola 18,62%, dan sisa belanja pegawai 8,43%.
"Ke depan, kami terus melakukan perbaikan dengan memperkuat pengadaan sejak awal tahun, memperkuat mitigasi risiko kegiatan strategis, serta melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala," ujar Rosan.
Realisasi Investasi
Kendati mengalami kendala dalam penyerapan anggaran operasional dan penyempurnaan sistem OSS, Rosan memamerkan capaian target realisasi investasi tahun lalu.
Rosan yang juga CEO BPI Danantara itu memaparkan, meski pagu anggaran kementerian yang menurun hingga 28,4% dibandingkan 2024, realisasi investasi pada 2025 sukses menembus Rp1.931,2 triliun. Angka ini setara dengan 101,3% dari target nasional yang ditetapkan sebesar Rp1.905,6 triliun, sekaligus tumbuh 12,7% secara tahunan (year on year/YoY).
"Capaian ini menyerap 2,71 juta tenaga kerja Indonesia atau naik 10,4%," kata Rosan.
Postur investasi tersebut didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang mencapai Rp1.030,3 triliun (53,4%), disusul oleh Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp900,9 triliun (46,6%). Dari sisi sebaran, investasi di luar Pulau Jawa terus menunjukkan dominasinya dengan meraup Rp991,2 triliun atau 51,3% dari total investasi nasional.





Komentar (0)