Etindonesia.com Pada Senin (13 Juli), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS akan mengambil alih pengamanan Selat Hormuz untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka. Ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan biaya perlindungan pelayaran (transit fee) kepada kapal-kapal yang melintasi selat hormuz.
Beberapa saat kemudian, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa, sesuai instruksi Presiden Trump, militer AS akan melanjutkan blokade maritim secara menyeluruh terhadap Iran mulai Selasa (14 Juli) pukul 16.00.
Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan melancarkan serangan keras terhadap Iran pada malam itu dan malam berikutnya.
Untuk melemahkan kemampuan Teheran menyerang kapal-kapal dagang, militer AS pada malam 12 Juli melancarkan serangan baru terhadap puluhan sasaran di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, pangkalan peluncuran rudal, dan fasilitas drone.
CENTCOM menyatakan bahwa selain mengerahkan pesawat tempur konvensional, kapal perang, dan drone tempur, militer AS juga untuk pertama kalinya menggunakan kapal nirawak (unmanned surface vessels/USV) dalam operasi tempur nyata.
Disebutkan bahwa tiga kapal nirawak tipe “Corsair” menyerang pangkalan angkatan laut Iran di Bandar Abbas, menghancurkan fasilitas pemeliharaan kapal selam dan kapal perang.
“Mereka (Iran) selalu melanggar kesepakatan. Kami sudah membuat sekitar sepuluh perjanjian dengan mereka. Jadi kami akan menghajar mereka dengan keras,” kata Trump.
Trump juga menyatakan bahwa selain memberikan pelajaran kepada Iran, Amerika Serikat akan mengambil alih pengamanan Selat Hormuz.
“Kami akan menjadi penjaga selat itu. Mungkin kami akan menyebut diri kami sebagai malaikat penjaga selat. Kami pantas mendapatkan kompensasi untuk itu,” ujarnya.
Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat akan menerima kompensasi sebesar 20% dari seluruh volume angkutan kargo yang melintasi selat tersebut untuk membiayai seluruh operasi keamanan yang diperlukan demi menjaga stabilitas kawasan. Ia mengatakan bahwa prosedur dan persiapan terkait akan segera dimulai.
Di sisi lain, Iran pada Senin 13 Juli mengklaim bahwa sebagai tindakan balasan, mereka telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, Bahrain, dan Kuwait, serta sistem radar di Oman.
Iran juga menegaskan bahwa Teheran akan tetap mengendalikan Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat mencampuri pengelolaan jalur pelayaran tersebut.
Tindakan Iran kembali memicu kemarahan Presiden Trump. Pada hari yang sama, ia mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Iran di Teluk Persia.
Trump menegaskan bahwa blokade tersebut hanya ditujukan kepada kapal-kapal Iran dan pihak-pihak yang bekerja sama dengan Iran, sedangkan semua negara lain akan tetap menikmati hak penggunaan Selat Hormuz secara terbuka dan adil. Ia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memastikan kebebasan pelayaran di selat tersebut.
CENTCOM kemudian mengumumkan bahwa mulai Selasa (14 Juli) pukul 16.00, militer AS akan kembali menerapkan pengawasan lalu lintas laut terhadap Iran. Pada saat itu, kapal-kapal yang berlayar menuju atau dari pelabuhan-pelabuhan Iran serta wilayah pesisirnya akan dikenai blokade maritim secara menyeluruh.
Setelah pengumuman tersebut, harga minyak dunia sempat melonjak sekitar 5%, dengan harga minyak mentah Brent mendekati 80 dolar AS per barel.
Laporan disusun oleh Yi Jing, NTD Television.






Komentar (0)