KDMP Ditargetkan Dongkrak Penghasilan Petani-Nelayan

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Presiden Prabowo Subianto menargetkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) mampu meningkatkan pendapatan petani, peternak, dan nelayan hingga Rp202 triliun per tahun. Program tersebut diharapkan menjadi instrumen penguatan ekonomi pedesaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Prabowo menyebut, pemerintah memproyeksikan keberadaan KDMP Merah Putih dapat meningkatkan pendapatan para produsen sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

“Nanti akan ada pendapatan produsen yang juga meningkat sebesar Rp202 triliun di petani, peternak, dan nelayan,” ujar Prabowo, di Jakarta baru-baru ini.

Selain mendongkrak pendapatan masyarakat, Prabowo memperkirakan aktivitas ekonomi yang berputar di desa melalui koperasi tersebut dapat mencapai Rp223 triliun setiap tahun.

“Kita proyeksikan KDKMP bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebesar Rp223 triliun tiap tahun akan beredar di desa-desa. Tidak keluar, akan beredar di desa-desa,” katanya.

Menurut Prabowo, KDMP Merah Putih akan dikembangkan sebagai pusat layanan ekonomi desa yang menyediakan berbagai fasilitas, mulai dari simpan pinjam, toko kebutuhan pokok, apotek desa, gudang logistik, hingga fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage.

Ia menegaskan, koperasi tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk membangun ekonomi dari tingkat desa sehingga manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Ekonomi kita akan bangkit dari desa, kecamatan, kabupaten. Dan uangnya akan tinggal di desa, di kecamatan, di kabupaten. Kita akan kembalikan. Kalau selama ini kekayaan rakyat Indonesia disedot, kita kembalikan sekarang. Ekonomi akan turun ke rakyat,” kata Prabowo.

Pengamat Ekonomi Universitas Negeri Makassar, Sahade, menilai keberhasilan KDMP Merah Putih tidak hanya bergantung pada banyaknya koperasi yang dibentuk, melainkan sejauh mana program tersebut mampu memperbaiki struktur pasar di tingkat desa.

Menurutnya, selama ini petani dan nelayan masih berada dalam posisi tawar yang lemah karena menjual hasil produksi secara individu. Kondisi tersebut membuat sebagian besar nilai tambah justru dinikmati oleh rantai distribusi.

“Kehadiran cold storage berpotensi mengurangi distress selling, yaitu kondisi ketika nelayan terpaksa menjual hasil tangkapannya segera setelah mendarat karena keterbatasan fasilitas penyimpanan,” jelas Sahade.

Ia menambahkan, fasilitas penyimpanan dingin dapat memberi nelayan ruang untuk menentukan waktu penjualan ketika harga lebih menguntungkan. Sementara bagi petani, distribusi pupuk yang lebih terjamin dan pemasaran hasil panen secara kolektif dapat menekan biaya logistik serta mengurangi kehilangan hasil pascapanen.

Sahade menyebut sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi salah satu penyumbang utama perekonomian nasional serta menyerap sekitar 28 hingga 29 persen tenaga kerja Indonesia. Karena itu, peningkatan efisiensi di sektor tersebut akan berdampak besar terhadap pendapatan masyarakat desa.

Namun, ia mengingatkan keberhasilan KDMP harus diukur dari peningkatan pendapatan riil anggota koperasi, bukan hanya dari jumlah dana yang disalurkan atau banyaknya infrastruktur yang dibangun.

“Jika dalam tiga hingga lima tahun pendapatan petani dan nelayan tidak meningkat secara nyata, berarti fungsi ekonomi koperasi belum berjalan optimal,” ujarnya.

Sahade juga menekankan pentingnya tata kelola yang profesional agar KDMP dapat bertahan dalam jangka panjang. Menurutnya, banyak koperasi gagal bukan karena kekurangan modal, melainkan akibat lemahnya manajemen, transparansi, dan kompetensi pengurus.

“Koperasi harus dikelola dengan prinsip business oriented, tetapi tetap people centered. Artinya koperasi harus menghasilkan keuntungan agar bertahan, namun manfaatnya harus kembali meningkatkan kesejahteraan anggota,” katanya.

Selain tata kelola, ia mendorong KDMP memanfaatkan teknologi digital untuk pencatatan transaksi, pengelolaan stok, hingga pemasaran. Dengan sistem digital, transparansi dapat meningkat dan kepercayaan anggota semakin kuat.

Ia juga menilai KDMP tidak boleh hanya berfungsi sebagai toko desa, tetapi harus menjadi pusat distribusi dan agregator produksi masyarakat.

“Koperasi harus membangun jaringan bisnis dengan industri pengolahan, hotel, restoran, pasar modern, hingga platform perdagangan digital,” ujar Sahade.

Terkait keberadaan ritel modern seperti minimarket, Sahade menilai KDMP tidak perlu diposisikan sebagai pesaing. Menurutnya, koperasi desa memiliki peran berbeda dengan jaringan ritel modern.

“Jika KDMP hanya menjual produk yang sama dengan minimarket, maka koperasi akan menghadapi persaingan yang tidak seimbang. Namun jika fokus pada pengadaan pupuk, penyerapan hasil panen, penyimpanan ikan, layanan keuangan, dan pemasaran produk UMKM desa, maka KDMP akan mengisi ruang yang belum dijangkau ritel modern,” jelasnya.

Ia bahkan melihat peluang kolaborasi antara KDMP dan ritel modern melalui rantai pasok produk lokal.

“Produk-produk yang dikumpulkan dan distandarkan oleh KDMP dapat menjadi pemasok bagi jaringan ritel modern. Dengan demikian, koperasi bukan menjadi pesaing, tetapi bagian dari rantai pasok nasional,” tutup Sahade. (uca)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bianglala Berhenti Mendadak di Deli Serdang, 30 Penumpang Berhasil Dievakuasi | BERUT
• 22 jam lalu
0
thumb
IHSG Dibuka Naik ke 6.046, Saham TPIA, BREN hingga BYAN Tancap Gas
• 11 jam lalu
0
thumb
KPK nyatakan terbuka siapkan support data LHKPN Febrie Adriansyah
• 21 jam lalu
0
thumb
Ada Temuan Tambang Ilegal di Lahan PTBA, Potensi Rugikan Negara Ratusan Miliar
• 10 jam lalu
0
thumb
3 Titik Karhutla Terjadi di Garut dalam Sepekan
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.