Iran Serang Fasilitas Militer AS di Bahrain dan Oman, Balasan Sikap Trump Soal Selat Hormuz

disway.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID– Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap beberapa fasilitas militer AS sebagai balasan atas sikap Presiden Donald Trump yang memerintahkan penyerangan sebelumnya. 

BACA JUGA:Prabowo Beri Bintang Republik Indonesia Adipurna ke PM Modi, Ternyata Pernah Diterima Nehru

Menurut pernyataan IRGC yang dikutip media Iran, serangan menargetkan infrastruktur militer AS di Juffair, Bahrain, serta sistem radar pengawasan udara dan maritim di Oman, akhir pekan kemarin.

Serangan ini disebut sebagai respons terhadap konfrontasi di Selat Hormuz.

Tak lama setelah pengumuman tersebut, Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan sirene serangan udara berbunyi di seluruh negeri. Warga diimbau tetap tenang dan menuju tempat aman terdekat.

IRGC menegaskan bahwa satu-satunya cara membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim adalah jika AS menghentikan campur tangan militernya di jalur perairan strategis tersebut dan menghormati kedaulatan negara pesisir.

Mereka memperingatkan bahwa aktivitas militer AS yang berkelanjutan dapat memicu "insiden yang lebih besar" yang berdampak pada sektor minyak dan gas dunia.

BACA JUGA:TNI Turun Tangan Distribusi BBM di Sumut, Atasi Antrean Panjang di SPBU

Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan serangan malam ketiga berturut-turut terhadap target militer di berbagai wilayah Iran, termasuk Bushehr, Chabahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas.

Eskalasi ini terjadi setelah IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim. Penutupan tersebut disebut sebagai respons terhadap serangkaian insiden di perairan strategis tersebut.

Padahal, pada Juni lalu, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik militer dan mencapai perdamaian permanen. Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman tersebut telah "berakhir" menyusul eskalasi terbaru.

BACA JUGA:Blokade Selat Hormuz Bikin Harga Emas Dunia Tertekan, Ini Penjelasan Analis

Situasi di Timur Tengah semakin tegang. Dunia internasional kini menantikan langkah selanjutnya dari kedua pihak untuk mencegah konflik yang lebih luas yang dapat mengganggu stabilitas global, khususnya pasokan energi.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Terpisah 20 Tahun! Inilah Sosok Putra Kandung Temon yang Jarang Tersorot Publik, Baru Ketemu Sang Ayah saat Menikah
• 11 jam lalu
0
thumb
Bertambah! Korban Tewas Kebakaran Bar di Bangkok Jadi 32 Orang, 2 Orang Meninggal di Rumah Sakit
• 1 menit lalu
0
thumb
FGD di Padang, MPR Soroti Urgensi Amendemen UUD 1945 hingga Tata Kelola Dana Umat
• 2 jam lalu
0
thumb
Asing Masih Borong Saham RI Rp 54,47 M di Sesi I, Ini Emiten yang Jadi Incaran
• 4 jam lalu
0
thumb
Huawei Pura 90s Pro dan Pro Max Resmi Dirilis: Kamera 200 MP dan Baterai Jumbo
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.