jpnn.com, JAKARTA - Kebiasaan minum kopi, merokok, dan mengonsumsi makanan berwarna pekat bukan hanya dapat meninggalkan noda pada gigi.
Tanpa perawatan preventif yang tepat, kebiasaan tersebut juga berpotensi membuat biaya perawatan gigi membengkak.
BACA JUGA: Damessa Hadir di Metland Cileungsi, Permudah Akses Perawatan Gigi bagi Masyarakat
Berdasarkan WHO Oral Health Country Profile 2022 yang dikutip Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan RI, pengeluaran masyarakat Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi disebut mencapai rata-rata USD1.160.
Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi di Asia Tenggara, setelah Singapura.
BACA JUGA: Tren Perawatan Gigi Makin Canggih, Usmile Bawa Teknologi AI
Tingginya biaya itu membuat masyarakat mulai lebih memperhatikan perawatan sehari-hari.
Kesadaran tersebut berjalan beriringan dengan munculnya tren skinification dalam kategori oral care.
BACA JUGA: Biaya Perawatan Gigi di Australia Selangit, Bali Jadi Alternatif Murah
"Konsumen perlu semakin kritis terhadap produk yang menawarkan efek putih instan dengan mengandalkan bahan abrasif," kata Country Manager usmile Indonesia dan Malaysia, Michelle, Rabu (15/7).
Sebelumnya, istilah skinification populer di industri kecantikan, ketika konsumen mulai mempelajari kandungan aktif seperti serum, ceramide, dan eksfoliator sebelum memilih produk.
Kini, pendekatan serupa diterapkan dalam perawatan mulut: konsumen tidak lagi sekadar mencari pasta gigi yang membersihkan, tetapi juga mempertimbangkan kandungan yang dapat melindungi enamel, mengangkat noda, dan menjaga kesehatan rongga mulut.
Sementara itu, praktisi kesehatan gigi yang dikenal melalui akun TikTok “Malaikat Pencabut Gigi”, drg. Zahrah Almira Cita Utami mengatakan banyak pasien berharap pasta gigi pencerah dapat memberikan perubahan meski kebiasaan pemicu noda tidak dikurangi.
Menurutnya, noda atau stain akan tetap mudah menempel apabila seseorang terus merokok, minum kopi, atau mengonsumsi makanan berwarna pekat.
Untuk mengurangi dampaknya, masyarakat disarankan segera membilas atau berkumur menggunakan air mineral setelah mengonsumsi makanan dan minuman tersebut.
Penggunaan sedotan saat meminum minuman berwarna juga dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan permukaan gigi.
Pemilihan pasta gigi pun sebaiknya tidak hanya didasarkan pada banyaknya busa atau klaim memutihkan secara instan.
“Pastikan memilih pasta gigi yang telah melalui pengujian laboratorium dan benar-benar mampu membantu mengangkat noda,” kata Zahrah.
Apabila keluhan tidak membaik setelah perawatan mandiri dilakukan secara rutin, masyarakat tetap disarankan menemui dokter gigi untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Tren skinification turut mendorong produsen mengembangkan formulasi yang diklaim lebih lembut terhadap enamel.
Salah satunya melalui pemanfaatan enzim sebagai alternatif dari bahan abrasif kasar.
Semisal usmile yang mengadopsi pendekatan enzimatik pada varian Repair White dengan memadukan ketiga enzim tersebut.
Menurut Michelle formulasi itu telah menjalani pengujian laboratorium untuk membantu mengangkat noda tanpa menggunakan bahan abrasif kasar.
Dia menyebutkan, kombinasi enzim Papain, Dextranase, dan Lysozyme digunakan untuk membantu membersihkan noda dan plak. Papain membantu meluruhkan ikatan protein pada noda kopi atau teh, sedangkan Dextranase bekerja pada matriks plak agar lebih mudah terlepas dari permukaan gigi.
Sementara, Lysozyme digunakan untuk membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme di rongga mulut.
Di sisi lain, menjaga kebersihan mulut, membatasi kebiasaan pemicu noda, serta memeriksakan gigi secara berkala tetap menjadi langkah utama untuk mempertahankan kesehatan dan estetika senyum.(esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Cerita Pengalaman Michelle Ziudith Soal Perawatan Gigi
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad





Komentar (0)