REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES -- Pelatih tim nasional Inggris Thomas Tuchel menepis kabar adanya keretakan hubungan dengan gelandang Jude Bellingham menjelang semifinal Piala Dunia 2026 melawan Argentina, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB. Menurut pelatih asal Jerman itu, hubungan keduanya justru semakin erat meski sempat terjadi perbedaan pandangan usai kemenangan Inggris atas Norwegia.
Hubungan Tuchel dan Bellingham sempat menjadi sorotan sejak musim panas lalu setelah sang pelatih mengungkapkan bahwa ibunya pernah menganggap beberapa sikap Bellingham di lapangan sebagai sesuatu yang "menjijikkan". Tuchel kemudian meminta maaf atas pernyataan tersebut.
Baca Juga
Alexis Mac Allister Tegaskan Argentina Tanpa Beban Jelang Semifinal Piala Dunia 2026 Kontra Inggris
Rodrigo De Paul Tegaskan Kunci Mental Jelang Semifinal Argentina vs Inggris
Argentina Siap Kendalikan Laga Kontra Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026
Di bawah arahan Tuchel, performa Bellingham justru semakin bersinar. Gelandang Real Madrid itu kini telah mengoleksi enam gol di Piala Dunia 2026, termasuk dua gol yang membawa Inggris menang 2-1 atas Norwegia melalui babak perpanjangan waktu pada perempat final.
Usai pertandingan tersebut, Tuchel mengaku kurang puas terhadap penampilan tim secara keseluruhan. Pernyataan itu kemudian mendapat tanggapan dari Bellingham yang menginginkan pendekatan lebih positif terhadap performa Inggris.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Namun Tuchel menegaskan persoalan tersebut telah dibahas secara internal bersama seluruh pemain dan tidak menyisakan masalah apa pun.
"Saya heran siapa yang membesar-besarkan hal seperti ini. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan dan jika memang menjadi besar, itu karena media. Bayangkan seorang pemain yang baru saja bermain selama 120 menit dan memberikan segalanya, lalu hanya diberi tahu bahwa pelatihnya mengatakan dia ceroboh, tanpa menyampaikan semua pujian yang juga saya berikan. Apa yang Anda harapkan dari reaksinya?" kata Tuchel kepada talkSPORT.
Menurut mantan pelatih Chelsea dan Bayern Muenchen itu, komentarnya terhadap Bellingham telah dipotong sehingga hanya menampilkan bagian yang bersifat kritik. Ia menilai situasi tersebut memunculkan kesalahpahaman yang sebenarnya tidak pernah ada.
Tuchel mengatakan dirinya dan Bellingham memiliki karakter yang sama-sama kompetitif. Karena itu, ia selalu mendorong para pemain mencapai batas kemampuan terbaik mereka.
Pelatih berusia 52 tahun itu juga memahami respons Bellingham setelah pertandingan karena sang pemain baru saja menguras seluruh tenaga selama 120 menit.
"Orang-orang mencoba menciptakan kesalahpahaman dan keretakan, padahal sebenarnya tidak ada. Kami berasal dari lingkungan yang sama-sama kompetitif. Saya adalah pelatih yang kompetitif dan selalu mendorong tim ini hingga batas maksimal. Saya bisa memahami reaksi Jude karena dia baru saja memberikan segalanya di lapangan," ujarnya.
Tuchel menegaskan hubungan keduanya kini justru lebih dekat dibanding sebelumnya. Ia menyebut suasana di dalam pemusatan latihan Inggris sangat positif menjelang laga semifinal menghadapi Argentina.
"Kami bahkan lebih dekat daripada sebelumnya. Anda bisa melihatnya di lapangan. Energi dan mentalitas tim dalam beberapa hari terakhir sangat baik dan kami siap menghadapi pertandingan besok," kata Tuchel.
Sejumlah komentar Bellingham seusai kemenangan atas Norwegia juga sempat dikaitkan dengan latar belakang karier bermain Tuchel. Gelandang berusia 23 tahun itu mengatakan sang pelatih mungkin tidak mengetahui seperti apa rasanya bermain menghadapi lawan sekelas Erling Haaland dalam pertandingan dengan intensitas tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Tuchel mengakui dirinya memang tidak memiliki karier bermain yang istimewa. Namun ia menilai hal itu tidak mengurangi kapasitasnya sebagai seorang pelatih.
Ia mengungkapkan bahwa sejak kecil bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, bukan pelatih. Karena itu, kesempatan menangani tim nasional Inggris di Piala Dunia merupakan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tuchel mengaku masih sering merasa rendah hati setiap kali berdiri di pinggir lapangan sebelum pertandingan dimulai. Bahkan, terkadang ia berpikir dirinya tidak pernah cukup hebat sebagai pemain untuk tampil di panggung sebesar Piala Dunia.
Meski demikian, ia meyakini pengalaman sebagai pemain bukan syarat mutlak untuk menjadi pelatih sukses.
Sebagai penutup, Tuchel mengutip sebuah ungkapan yang menurutnya menggambarkan keyakinan tersebut.
"Anda tidak harus menjadi seekor kuda untuk menjadi joki yang baik," ujarnya.
Komentar (0)