Di Hadapan Kongres AS, Kevin Warsh Janji Ubah Arah Kebijakan The Fed

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Federal Reserve Kevin Warsh bertekad mengembalikan fokus bank sentral Amerika Serikat pada stabilitas harga demi mengakhiri lonjakan inflasi yang selama lima tahun terakhir membebani rumah tangga dan dunia usaha.

Dalam penyampaian laporan kebijakan moneter semesteran kepada Kongres Amerika Serikat, Warsh menegaskan prioritas utama kepemimpinannya adalah memastikan kebijakan moneter berada pada jalur yang tepat agar inflasi tinggi yang membayangi perekonomian Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir tidak kembali terulang.

"Kami memiliki satu tujuan utama, yakni memastikan kebijakan moneter berada pada jalur yang benar. Jika kami berhasil melakukannya, lonjakan inflasi selama lima tahun terakhir akan menjadi bagian dari masa lalu," ujar Warsh dalam pidatonya.

Dia mengatakan inflasi yang tinggi telah menjadi beban yang tidak semestinya ditanggung masyarakat dan dunia usaha. Oleh karena itu, seluruh anggota Federal Open Market Committee (FOMC) berkomitmen mengembalikan stabilitas harga dan tidak akan mentoleransi inflasi yang bertahan tinggi dalam jangka panjang.

Warsh menyampaikan bahwa pada pertemuan FOMC Juni 2026, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5% hingga 3,75%. Keputusan tersebut diambil di tengah kondisi ekonomi AS yang masih menunjukkan ketahanan, dengan aktivitas ekonomi yang tetap tumbuh solid, konsumsi rumah tangga meningkat moderat, serta pasar tenaga kerja yang relatif stabil.

Dalam pidato yang sama, Warsh juga mengumumkan evaluasi menyeluruh terhadap kerangka kerja The Fed sebagai bagian dari upaya memperkuat efektivitas kebijakan moneter setelah periode inflasi tinggi.

Baca Juga

  • The Fed Bentuk 5 Gugus Tugas
  • Pasar Tenaga Kerja AS Melambat, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Surut
  • The Fed Mengirim Sinyal Higher for Longer

Dia membentuk lima gugus tugas yang akan meninjau ulang efektivitas komunikasi bank sentral, kebijakan pengelolaan neraca, metodologi penyusunan data ekonomi, dampak perkembangan kecerdasan buatan terhadap produktivitas dan pasar tenaga kerja, serta kerangka pengendalian inflasi.

Menurut Warsh, setiap gugus tugas diminta memulai kajian dari prinsip-prinsip dasar, menguji kembali praktik yang selama ini dijalankan, mempertimbangkan berbagai alternatif, dan menyusun rekomendasi baru bagi para pembuat kebijakan.

"Tujuan kami adalah membekali Federal Reserve agar mampu mengambil keputusan kebijakan moneter yang lebih baik dan meninggalkan periode inflasi tinggi dalam beberapa tahun terakhir," katanya.

Warsh juga menyoroti pesatnya investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini menjadi salah satu pendorong utama investasi korporasi di Amerika Serikat. Menurut dia, pembangunan pusat data serta meningkatnya permintaan perangkat keras dan perangkat lunak AI telah mendorong kenaikan investasi peralatan dengan laju yang sangat cepat.

Dia menilai AI berpotensi mengubah produktivitas, pasar tenaga kerja, hingga dinamika inflasi sehingga implikasinya terhadap mandat The Fed perlu terus dipantau.

"Yang sekarang disebut investasi AI, pada akhirnya hanya akan disebut sebagai investasi. Namun, perubahan itu juga menghadirkan tantangan baru bagi para pembuat kebijakan," pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kata Didier Deschamps Usai Prancis Disingkirkan Spanyol
• 4 jam lalu
0
thumb
KPK nyatakan terbuka siapkan support data LHKPN Febrie Adriansyah
• 12 jam lalu
0
thumb
Polda Jatim Bantu Kejar 14 Buronan Pemerkosa Gadis di Sampang
• 2 jam lalu
0
thumb
Tragedi Pembakaran Santri di Lombok, Korban Mencari Perlindungan
• 3 jam lalu
0
thumb
Presiden Prabowo Diundang Pemerintah Iran Kunjungi Teheran
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.