Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) memperbarui daftar saham dengan status High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi. Sejumlah saham perbankan seperti BTPN hingga BBHI masuk ke daftar saham HSC.
Dari total 37 emiten yang ditetapkan berstatus HSC pada Selasa (14/7/2026), terdapat 7 saham sektor perbankan yang masuk dalam daftar tersebut dengan tingkat konsentrasi kepemilikan di atas 90%.
Berdasarkan pengumuman BEI, PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) menjadi saham perbankan dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tertinggi, yakni mencapai 99,95%.
Posisi berikutnya ditempati PT Bank Permata Tbk. (BNLI) sebesar 99,92%, PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) 99,78%, PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) 99,14%, PT Bank Mega Tbk. (MEGA) 95,68%, PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) 94,79%, serta PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) 92,71%.
Masuknya sejumlah bank ke dalam daftar HSC menunjukkan sebagian besar saham beredar masih dikuasai oleh kelompok pemegang saham tertentu.
Secara keseluruhan, BEI menetapkan 37 emiten berstatus HSC berdasarkan struktur kepemilikan saham per 30 Juni 2026. Daftar tersebut melengkapi emiten yang telah lebih dahulu ditetapkan HSC sejak April hingga awal Juli 2026 sehingga total saham berstatus HSC mencapai 51 emiten.
Di sisi lain, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk. (LUCY) keluar dari daftar tersebut setelah sebelumnya ditetapkan sebagai saham HSC pada April 2026.
Di luar sektor perbankan, PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) menjadi emiten dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tertinggi mencapai 99,99%, disusul PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) 99,96%, PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) 99,95%, dan PT Golden Flower Tbk. (POLU) 99,94%.
BEI menjelaskan penetapan status HSC dilakukan berdasarkan metodologi penghitungan struktur kepemilikan saham. Informasi tersebut bertujuan meningkatkan transparansi kepada investor mengenai tingkat konsentrasi kepemilikan suatu saham dan tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap ketentuan di bidang pasar modal.
Daftar saham perbankan yang ditetapkan HSC per 14 Juli 2026:- PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI): 99,95%
- PT Bank Permata Tbk. (BNLI): 99,92%
- PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN): 99,78%
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII): 99,14%
- PT Bank Mega Tbk. (MEGA): 95,68%
- PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA): 94,79%
- PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI): 92,71%
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) — 99,14%
- PT Prima Andalan Mandiri Tbk. (MCOL) — 98,62%
- PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk. (LIFE) — 99,21%
- PT Golden Flower Tbk. (POLU) — 99,94%
- PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk. (ELPI) — 98,90%
- PT MD Entertainment Tbk. (FILM) — 92,98%
- PT Hoffmen Cleanindo Tbk. (KING) — 98,40%
- PT Ancara Logistics Indonesia Tbk. (ALII) — 97,62%
- PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) — 95,00%
- PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI) — 99,91%
- PT Perdana Bangun Pusaka Tbk. (KONI) — 95,08%
- PT Metropolitan Kentjana Tbk. (MKPI) — 97,02%
- PT Cemindo Gemilang Tbk. (CMNT) — 99,41%
- PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) — 99,58%
- PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP) — 96,64%
- PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk. (PRAY) — 99,84%
- PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) — 99,99%
- PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) — 93,83%
- PT Bank Mega Tbk. (MEGA) — 95,68%
- PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) — 99,24%
- PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT) — 99,42%
- PT Siantar Top Tbk. (STTP) — 94,95%
- PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) — 99,78%
- PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) — 99,95%
- PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) — 96,70%
- PT FAP Agri Tbk. (FAPA) — 99,77%
- PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE) — 98,03%
- PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) — 99,93%
- PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) — 92,71%
- PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) — 99,95%
- PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) — 94,79%
- PT Bank Permata Tbk. (BNLI) — 99,92%
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) — 97,21%
- PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) — 95,65%
- PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) — 98,06%
- PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) — 98,50%
- PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) — 99,96%
- PT Habco Trans Maritima Tbk. (HATM) — 96,09% (penetapan 1 Juli 2026)
- PT Delta Giri Wacana Tbk. (DGWG) — 97,35% (30 Juni 2026)
- PT Kota Satu Properti Tbk. (SATU) — 94,27% (4 Juni 2026)
- PT Mahkota Group Tbk. (MGRO) — 93,76% (29 Mei 2026)
- PT Transcoal Pacific Tbk. (TCPI) — 94,10% (29 Mei 2026)
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) — 95,82% (8 Mei 2026)
- PT Satria Mega Kencana Tbk. (SOTS) — 98,35% (2 April 2026)
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk. (ROCK) — 99,85% (2 April 2026)
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO) — 95,35% (2 April 2026)
- PT Panca Anugrah Wisesa Tbk. (MGLV) — 95,94% (2 April 2026)
- PT Lima Dua Lima Tiga Tbk. (LUCY) — 95,47% (2 April 2026, sudah dicabut per 2 Juli 2026)
- PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) — 99,77% (2 April 2026)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) — 95,76% (2 April 2026)
- PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) — 97,31% (2 April 2026)
- PT Samator Indo Gas Tbk. (AGII) — 97,75% (2 April 2026)






Komentar (0)