Semarak Aksi Korporasi Konglomerat, Sejumlah Risiko Bayangi Emiten

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Gelombang aksi korporasi yang dilakukan sejumlah emiten konglomerasi mencerminkan pergeseran strategi bisnis. Alih-alih berfokus pada ekspansi semata, perusahaan kini lebih mengutamakan penguatan ekosistem usaha melalui sinergi antarentitas dan optimalisasi aset.

Dari Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) mengambil langkah dengan memperkuat struktur bisnis perseroan. Perusahaan melakukan transaksi afiliasi senilai Rp8,54 triliun kepada entitas anak, PT DSST, untuk memperkuat posisi bisnis dan membangun ekosistem layanan digital yang kompetitif.

Selain itu, terdapat pula PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) yang berupaya memperkuat ekosistem kawasan melalui penambahan modal anak usaha, sekaligus memperluas kegiatan usaha ke bisnis Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition (MICE).

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa konglomerat tidak lagi mengejar pertumbuhan aset, tetapi lebih berorientasi pada penciptaan strategi antarunit usaha dan peningkatan kualitas pendapatan.

”Melalui penyertaan modal maupun akuisisi, integrasi bisnis dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan membangun usaha baru dari nol,” katanya, dikutip Selasa (14/7/2026).

Strategi ini dinilai bertujuan untuk membangun ekosistem yang saling terhubung, sehingga setiap entitas dapat saling menciptakan permintaan, meningkatkan efisiensi biaya, memperkuat daya saing, hingga menghasilkan pendapatan berulang yang lebih stabil.

Baca Juga

  • Deretan Konglomerat Hadiri Listing Saham RANS, Ada Haji Isam, Boy Thohir hingga Axton Salim
  • Kompetisi Ketat Pengelolaan Dana Konglomerat
  • Di Balik Langkah Grup Lippo, Sinarmas hingga Agung Sedayu Perkuat Anak Usaha

Meskipun begitu, Nafan menilai aksi ini bukan tanpa risiko. Terdapat sedikitnya 4 risiko dari aksi korporasi ini yang disoroti analis.

Pertama, terdapat risiko bahwa sinergi yang direncanakan tidak tercapai sesuai ekspektasi sehingga manfaat ekonominya menjadi lebih rendah. Kedua, terdapat risiko pendanaan apabila ekspansi dibiayai melalui utang dalam jumlah yang besar.

”Maka leverage dan beban bunga berpotensi meningkat sehingga dapat menekan profitabilitas apabila arus kas belum segera terbentuk,” katanya.

Ketiga, terdapat risiko valuasi terutama bila aset yang diakuisisi, dibeli pada harga yang terlalu mahal. Dengan begitu, periode pengembalian investasi menjadi lebih lama.

Terakhir, Nafan menyoroti tata kelola perusahaan, khususnya apabila transaksi dilakukan dengan pihak berelasi. Transparansi, independensi penilaian aset, serta keterbukaan informasi dinilai menjadi faktor krusial agar aksi korporasi mampu memberikan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham.

”Dengan kata lain, strategi konglomerasi saat ini lebih menitikberatkan pada penciptaan nilai tambah jangka panjang, diversifikasi sumber pendapatan, dan peningkatan efisiensi antarentitas dalam grup,” tegas Nafan.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hubungan Polri, Kejaksaan, dan TNI di Tengah Riuh Kasus Febrie Adriansyah
• 5 jam lalu
0
thumb
Sekjen PP AMPG Minta Deddy Sitorus Tak Bangun Opini Menyesatkan Terkait Persoalan Batubara
• 15 jam lalu
0
thumb
Temuan ICW Soal Pengadaan Mobil Pikap KDMP Menuai Respons Menohok Menkeu Purbaya
• 19 jam lalu
0
thumb
Tersangka Belum Diperiksa, Mahfud MD Bongkar Janggalnya Pelimpahan Kasus Febrie Adriansyah
• 5 jam lalu
0
thumb
Kesulitan Gaji PPPK: Pemda Tak Efisien atau Ego Pusat? BUSINESS TALK
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.