Duel Inggris kontra Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi salah satu laga paling menarik di turnamen. Kedua tim sama-sama tampil efektif sepanjang kompetisi, tetapi dengan pendekatan yang berbeda.
Setelah duel Spanyol kontra Prancis, perhatian juga tertuju pada laga Inggris kontra Argentina yang mempertemukan dua tim dengan karakter permainan berbeda, tetapi sama-sama efektif dalam mencetak gol.
Inggris mengandalkan crossing dan duel udara untuk membongkar pertahanan lawan. Selain itu, Inggris diperkuat Jude Bellingham dan Harry Kane.
Sedangkan Argentina memaksimalkan peran Lionel Messi, situasi bola mati, dan mentalitas kuat dalam mencetak gol-gol krusial menjelang akhir laga.
Inggris Maksimalkan Crossing dan Bola Pantul
Perjalanan Inggris menuju semifinal tidak selalu berjalan mulus. Tim asuhan Thomas Tuchel tersebut harus melewati sejumlah pertandingan ketat sebelum akhirnya memastikan tiket ke empat besar.
Sepanjang turnamen, The Three Lions menunjukkan pola serangan yang konsisten. Enam kans emas mereka berasal dari sundulan, sementara lima gol tercipta melalui umpan silang dan lima lainnya berawal dari situasi bola mati, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Produktivitas lini depan juga ditopang Jude Bellingham dan Harry Kane yang sama-sama mengoleksi enam gol.
Anthony Gordon serta Bukayo Saka menjadi kreator utama dengan masing-masing menyumbang tiga assist.
Selain mengandalkan crossing, Inggris juga sangat efektif memanfaatkan bola pantul di depan gawang lawan. Pada fase gugur, mereka rata-rata melepaskan 1,4 tembakan dalam setiap proses terciptanya gol, tertinggi dibanding semifinalis lainnya.
Statistik tersebut menunjukkan Inggris tidak hanya mengandalkan penyelesaian akhir pertama, tetapi juga piawai memanfaatkan bola liar di area penalti.
Meski beberapa kali kesulitan membongkar pertahanan rapat lawan, Inggris mampu menyesuaikan strategi sesuai karakter pertandingan. Fleksibilitas itu menjadi salah satu alasan mereka berhasil bertahan hingga semifinal.
Argentina Bertumpu pada Messi dan Bola Mati
Di kubu Argentina, Lionel Messi kembali menjadi pusat permainan. Kapten Albiceleste itu telah mencetak delapan gol dan menyumbang dua assist sepanjang Piala Dunia 2026.
Kontribusinya bahkan melampaui statistik gol. Messi menjadi pemain dengan kombinasi expected goals (xG) dan expected assists (xA) tertinggi di turnamen, sekaligus terlibat dalam sebagian besar peluang berbahaya yang diciptakan Argentina.
Tim asuhan Lionel Scaloni menjadi tim paling berbahaya dari situasi bola mati. Mereka telah mencetak lima gol melalui skema set piece, jumlah terbanyak di Piala Dunia 2026.
Beberapa gol lainnya juga diawali dari sepak pojok meski tidak tercatat sebagai gol langsung dari bola mati.
Selain itu, Argentina memiliki mental kuat ketika memasuki menit-menit akhir pertandingan.
Pada babak gugur, Albiceleste beberapa kali berhasil mencetak gol penentu setelah pertandingan memasuki fase krusial.
Mereka bangkit saat tertinggal dari Mesir pada babak 16 besar, kemudian memaksakan kemenangan dramatis atas Tanjung Verde dan Swiss berkat gol-gol yang tercipta di penghujung laga.
Kemampuan mempertahankan tekanan hingga menit akhir membuat Argentina menjadi salah satu tim yang paling sulit dikalahkan di turnamen ini. (saf/ipg)





Komentar (0)