Bagi sebuah negara koloni, menantang kekuatan laut raksasa nan digdaya bukanlah hal mudah, penuh bahaya, dan kesulitan tak terperikan. Itulah yang dialami para founding fathers Amerika Serikat, saat berusaha melepaskan hak ilahiah Raja George III di seberang Atlantik. Deklarasi Kemerdekaan 1776 memutus ikatan dependensi si penjajah dan si terjajah. Konsekuensinya adalah Perang Revolusi yang panjang dan berdarah. Namun, selain perjuangan dalam bentuk perang, ada satu komponen penting yang tak kalah krusial yakni diplomasi. Salah satu diplomat ulung di awal Revolusi adalah Benjamin Franklin, yang dengan kepiawaiannya berhasil mendapatkan basis dukungan di Versailles, Istana Louis XVI, terutama melalui menteri luar negerinya yang luar biasa: Charles Gravier, Comte de Vergennes.
Misi Benjamin FranklinThomas Paine, dalam risalah terkenalnya yang berjudul Common Sense, menyatakan bahwa, “kepentingan sejati Amerika adalah menjauh dari perselisihan Eropa.” Nyatanya, pada awal entitasnya sebagai negara baru yang secara unilateral mengakhiri kekuasaan Raja George III, Amerika tidak bisa menjauh sama sekali dari urusan Eropa. Betapapun kuat tekad untuk membelah secara diametral antara “Dunia Baru” dan “Dunia Lama” para founding fathers Amerika sadar betul bahwa nasib negaranya sangat tergantung pada dinamika politik kekuatan-kekuatan Eropa. Sebagaimana dicatat oleh George C. Herring dalam bukunya From Colony to Superpower, orang Amerika sering mengkritik sistem keseimbangan Eropa, tapi mereka memahaminya, mengetahui cara kerjanya, dan mengeksploitasinya.
Kongres Kontinental mengutus Benjamin Franklin untuk pergi ke Prancis. Franklin tiba di Paris pada Desember 1776, dimana sang ilmuwan sangat populer dan dikenal di ibukota tempat Louis XVI bertahta. George C. Herring menyebut misi Franklin ini sebagai misi terpenting dalam sejarah diplomasi Amerika. Ini tentu saja akan menjadi pertaruhan masa depan Amerika: jika Franklin gagal meraih dukungan Prancis, maka Inggris akan menggilas perjuangan para revolusioner di seberang Atlantik yang dianggap sebagai pembuat onar.
Namun demikian, walaupun dalam rentang waktu yang panjang terlibat konfrontasi, Prancis tidak ingin memulai perang terbuka dengan Inggris. Menteri Luar Negeri Prancis, Comte de Vergennes bahkan skeptis dalam memberikan dukungan penuh untuk para revolusioner di Amerika. Sebagaimana ditulis oleh Fredrik Stanton dalam bukunya Great Negotiations, Vergennes pernah berujar: “semangat pemberontakan, di mana pun muncul, selalu menjadi contoh yang berbahaya.” Ini mengindikasikan bahwasanya gejolak Revolusi Amerika awalnya dipandang dengan penuh curiga dan rasa riskan akan mengganggu status quo monarki Prancis.
Menurut George C. Herring, atas kepiawaian diplomasinya, Franklin berhasil menampilkan Revolusi Amerika tidak terlalu berbahaya di hadapan Istana Louis XVI. Kendati demikian, Vergennes tetap menahan dukungan terbukanya. Dalam audiensinya dengan Franklin, Vergennes mengatakan bahwa Prancis bisa memberikan bantuan rahasia tetapi tidak akan memprovokasi Inggris. Prancis memang sangat menjaga untuk tidak memulai perang terbuka dengan Inggris. Sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Utama Louis XVI, Count Jean-Frederic Maurepas, “perdamaian yang rapuh saat ini akan lebih baik daripada perang”. Bahkan Vergennes meyakinkan Duta Besar Inggris Lord Stormont, agar tidak perlu khawatir ada konflik terbuka Inggris-Prancis.
Prospek dukungan Prancis yang bisa mengimbangi kekuatan Inggris masih jauh dari jangkauan. Kemudian diutuslah Arthur Lee untuk melobi Spanyol agar Spanyol memberikan dukungan dan berkenan beraliansi. Namun ternyata, Menteri Luar Negeri Spanyol Jeronimo Grimaldi, berbagi keraguan dan kekhawatiran Vergennes. Ia mengatakan mengenai Revolusi Amerika kepada Dubes Spanyol di Paris sebagai, “contoh pemberontakan yang terlalu berbahaya bagi yang mulia untuk mendukungnya secara terbuka.”
Kehati-hatian Prancis dan Spanyol tentu saja bisa dipahami. Revolusi Amerika yang mengakhiri kekuasaan monarki Inggris, tidak menutup kemungkinan akan menjadi semacam pemantik bagi api revolusi lain di rezim-rezim otokrasi Eropa tersebut. Sehingga kekhawatiran para aristokrat rezim lama itu masuk akal. Dampaknya, Franklin dan Arthur Lee masih belum berhasil untuk mendulang dukungan dua kekuatan krusial di Eropa ini. Anggota Kongres Kontinental, Richard Henry Lee mengatakan bahwa jika para utusan gagal meyakinkan Prancis dan Spanyol untuk mendukung Amerika, maka kemerdekaan akan terancam. Nasib Amerika Serikat sedang dipertaruhkan!
Titik BalikMenjelang akhir tahun 1777 tiba kabar bahwa Jenderal Burgoyne menyerah kepada tentara AS di Saratoga. Kemenangan di Saratoga ini menjadi titik balik perubahan sikap Prancis. Setelah menerima kabar itu, Vergennes mulai mempertimbangkan untuk beraliansi dengan AS. Kepada Duta Besar Montmorin di Spanyol, Vergennes mengatakan bahwa Prancis bisa bergabung dalam aliansi dengan Amerika karena Inggris telah mengalami kelemahan akibat berkurangnya sepertiga dari kekaisarannya.
Dalam pertemuan dengan delegasi AS, Vergennes mengatakan bahwa Prancis mempertimbangkan untuk beraliansi dan mengakui kemerdekaan AS, tetapi Spanyol harus dilibatkan. Hal ini dimandatkan oleh Perjanjian Bourbon 1761, bahwa kedua negara harus dan akan sepakat untuk bertindak bersama. Belum ada kepastian apapun, namun kemungkinan untuk menuju kesepahaman dan aliansi bersama sudah terbuka. Terlebih ketika Perdana Menteri Lord North di London berencana untuk melakukan rekonsiliasi dengan koloni, yang membuat Vergennes semakin terdesak untuk mengambil sikap.
Spanyol menyatakan keengganan untuk menjalin aliansi pada 31 Desember 1777. Menteri Luar Negeri Count Floridablanca, suksesor Grimaldi, menyatakan “seseorang tidak membuat perang, kecuali untuk mempertahankan kepemilikan sendiri atau memperoleh kepemilikan orang lain.” Sikap ini menandakan pertimbangan Madrid bahwa mereka memiliki kepentingan yang minim untuk mendukung Amerika Serikat. Namun, Vergennes dan Maurepas memutuskan bahwa Prancis akan menjalin aliansi dengan AS, kendati tanpa melibatkan Spanyol. Vergennes berkeyakinan bahwa, “kekuatan pertama yang mengakui kemerdekaan orang Amerika akan menjadi yang pertama memetik semua buah dari perang ini.”
Akhirnya pada 6 Februari 1778, Benjamin Franklin menandatangani Perjanjian Prancis-Amerika di Kementerian Luar Negeri Prancis. Franklin berhasil melobi, meyakinkan, dan mendulang dukungan Louis XVI dan Menlu Vergennes untuk beraliansi dan mengakui kemerdekaan Amerika Serikat. Kini, Prancis terlibat perang terbuka dengan Inggris, yang akan berbuah pada kekalahan Inggris terutama setelah Pertempuran Yorktown 1781. Ada beberapa yang patut digarisbawahi sebagai buah pelajaran dari salah satu misi diplomatik terpenting dalam sejarah ini:
Pertama, Benjamin Franklin berangkat mengemban misi dengan kepercayaan diri yang luar biasa, kendati menyadari betul bahwa kapasitas militer negara yang diwakilinya sangat jauh berbeda dengan kekuatan yang dihadapinya. Ia berhasil tampil di Istana Louis XVI dan dihadapan diplomat aristokrat seperti Vergennes dengan kepiawaian diplomasi yang luar biasa. Ia berhasil memadukan keberhasilan militer di medan perang, keputusasaan Inggris, dan ketakutan Prancis, sebagai bola yang menguntungkan bagi Amerika Serikat, negara yang diwakilinya.
Kedua, Franklin berhasil memanipulasi persaingan kekuatan besar Eropa. Sudah menjadi rahasia umum saat itu bahwa Inggris dan Prancis adalah musuh bebuyutan. Prancis yang masih memelihara dendam setelah kekalahan dalam Perang Tujuh Tahun, membuat perlawanan koloni Amerika ini bisa menjadi ajang balas dendam terhadap Inggris, rival lama dan terbesar Prancis. Franklin sadar betul akan hal itu. Ia berusaha menjadikan permusuhan dua kekuatan besar itu berbalik menguntungkan bagi Amerika. Tentu saja, bantuan Prancis dan pengakuan kemerdekaan oleh Louis XVI bukan didasarkan pada altruisme semata atau dukungan atas ide-ide revolusioner Amerika, melainkan untuk menjadi medan konfrontasi dalam melemahkan Inggris sebagai kekuatan besar.
Misi Franklin, hubungan sang diplomat dengan Menteri Luar Negeri Vergennes, akan selamanya dikenang sebagai salah satu episode paling krusial dalam Revolusi Amerika, ketika persaingan dua raksasa Eropa berhasil digunakan untuk melanggengkan aspirasi kebebasan dan kemerdekaan Amerika Serikat.






Komentar (0)