Eropa Tiba-Tiba Punya Aliansi Pertahanan Baru, Jadi Saingan NATO?

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memberikan konferensi pers setelah KTT Koalisi Negara-Negara yang Bersedia tentang jaminan keamanan untuk Ukraina di Hotel des Invalides di Paris, Prancis, 13 Juli 2026. (via REUTERS/TERESA SUAREZ / POOL)
Daftar Isi
  • Ukraina Kehabisan Amunisi
  • Fokus Proyek "Freyja"
  • Prancis Beri Lisensi Produksi Rudal

Jakarta, CNBC Indonesia - Ukraina bersama sejumlah sekutu utama di Eropa resmi meluncurkan koalisi pertahanan udara baru. Koalisi itu bertujuan mengembangkan sistem rudal anti-balistik generasi baru sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan sistem Patriot buatan Amerika Serikat (AS).

Langkah ini diambil ketika serangan rudal balistik Rusia ke wilayah Ukraina semakin intensif dan persediaan amunisi pertahanan udara Kyiv terus menipis. Pengumuman tersebut disampaikan dalam pertemuan para pemimpin negara di Paris pada Senin, sebagaimana dimuat Reuters, Selasa (14/7/2026).

Sebanyak 10 negara bersama sekitar selusin perusahaan industri pertahanan menghadiri pertemuan tersebut untuk melanjutkan pembentukan Integrated Anti-Ballistic Missile Coalition atau Koalisi Rudal Anti-Balistik Terintegrasi. Dalam pernyataan bersama, para pemimpin Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Ukraina, dan Inggris menegaskan perlunya sistem pertahanan rudal terpadu untuk menghadapi ancaman di masa depan.


Baca: Rumah Eks Wamen Digerebek, 375 Kg Emas Batangan Ditemukan

"Kami percaya bahwa perlindungan Eropa memerlukan solusi global berupa arsitektur pertahanan rudal terpadu untuk mencegah dan mengalahkan ancaman rudal di masa depan," demikian bunyi pernyataan bersama tersebut, dilansir Reuters.

"Sistem ini akan melengkapi sistem pertahanan rudal balistik yang sudah ada, termasuk solusi pertahanan Eropa yang telah dimiliki atau akan diperoleh oleh negara-negara peserta," lanjut pernyataan tersebut menambahkan sistem baru itu tidak akan menggantikan sistem pertahanan rudal yang telah dimiliki masing-masing negara.

Baca: Malaysia Geger Muncul 'Kampung Israel', Berdiri di Kota Hantu
Ukraina Kehabisan Amunisi

Peluncuran koalisi baru ini dilakukan ketika Ukraina menghadapi tekanan besar akibat meningkatnya serangan rudal balistik Rusia. Dalam sebulan terakhir, Ukraina mengalami kekurangan amunisi untuk sistem pertahanan udaranya sehingga sebagian besar tidak mampu mencegat rudal balistik Rusia yang melaju dengan kecepatan beberapa kali lipat dari kecepatan suara.

Kyiv selama ini terus mendesak negara-negara sekutu agar mengirim lebih banyak sistem pertahanan udara sekaligus mengembangkan sistem anti-rudal buatan Eropa bersama Ukraina. Di sisi lain, ketika Rusia meningkatkan intensitas serangan rudal ke Ukraina, Kyiv juga memperluas serangan drone ke wilayah Rusia dengan menyasar fasilitas minyak dan industri persenjataan. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menghadiri pertemuan bersama sekitar 25 pemimpin negara dalam forum yang lebih luas bertajuk Coalition of the Willing, yang bertujuan menyusun posisi bersama terhadap Rusia serta menyiapkan jaminan keamanan jika kesepakatan damai tercapai di masa depan. Pertemuan di Paris berlangsung hanya beberapa hari setelah KTT NATO yang berupaya menunjukkan persatuan negara-negara transatlantik serta dukungan jangka panjang terhadap Ukraina.

Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia meningkatkan serangan ke Kyiv dan wilayah sekitarnya yang menewaskan puluhan orang. Pejabat Ukraina mengatakan serangan rudal dan drone Rusia pada Sabtu lalu menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai banyak lainnya. Sementara itu, Moskow tetap menyatakan hanya menyerang sasaran yang memiliki nilai militer dan membantah sengaja menargetkan warga sipil.

Baca: Drama di Jepang, Kerajaan Terancam Krisis Takhta Kaisar
Fokus Proyek "Freyja"

Fokus utama koalisi baru ini adalah proyek "Freyja", yakni upaya Ukraina membangun sistem pertahanan rudal anti-balistik yang didukung negara-negara Eropa dengan biaya lebih rendah dibandingkan Patriot. Menurut Zelenskiy, semakin banyak kemampuan Ukraina untuk mencegat rudal balistik Rusia, semakin besar peluang Presiden Rusia Vladimir Putin bersedia kembali ke meja perundingan.

"Semakin banyak kemampuan yang dimiliki Ukraina untuk menembak jatuh rudal balistik Rusia, semakin besar peluang Putin akan kembali ke meja perundingan, karena argumen terakhirnya dalam perang ini tidak lagi akan berfungsi," kata Zelensky usai pengumuman tersebut.

"Pekerjaan kami dalam membangun sistem bersama, Freyja, bukan dimaksudkan untuk menggantikan sistem yang ada. Ini adalah cara untuk melengkapi pertahanan kami, menciptakan perisai kuat bagi seluruh Eropa, serta melakukan semuanya dengan lebih cepat dan biaya yang lebih rendah," ujarnya lagi.

Zelensky kemudian menjelaskan bahwa sistem tersebut akan dibangun layaknya Lego, yakni menggabungkan keahlian berbagai perusahaan pertahanan Eropa. Ia optimistis sistem tersebut dapat mulai beroperasi dalam waktu sekitar 12 bulan sekaligus memungkinkan seluruh negara peserta memproduksi persenjataan tersebut.

Sekitar selusin perusahaan pertahanan Eropa hadir dalam pertemuan itu, termasuk Eurosam sebagai produsen sistem SAMP-T, Leonardo, Thales, Saab, hingga perusahaan Ukraina Fire Point. Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan proyek tersebut juga akan mempererat kerja sama industri pertahanan di kawasan.

"Ini juga akan membantu industri pertahanan kita di Eropa bekerja sama dengan lebih erat dan saling belajar satu sama lain," kata Merz.

Baca: Kenapa Trump 'Jilat Ludah Sendiri' Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz?
Prancis Beri Lisensi Produksi Rudal

Selain membahas proyek Freyja, para peserta juga mendiskusikan upaya memperoleh lebih banyak rudal pencegat Patriot dari AS. Ini pun sekaligus mempercepat penyebaran sistem pertahanan udara SAMP-T buatan Prancis dan Italia. 

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Ukraina telah memesan sistem SAMP-T generasi terbaru, yang akan melengkapi pengiriman sistem versi lama beserta paket rudalnya. Macron juga mengumumkan keputusan penting Prancis yang mengizinkan Ukraina memproduksi rudal pencegat untuk sistem SAMP-T yang telah dioperasikan Kyiv.

Selain itu, Ukraina juga diberikan izin memproduksi bom berpemandu presisi serta rudal jelajah jarak jauh SCALP. Langkah tersebut menjadi pertama kalinya Prancis memberikan lisensi kemampuan produksi persenjataan kepada Ukraina.

Macron pun turut mengungkapkan bahwa Ukraina akan menerima 16 pesawat tempur Rafale pada periode 2028-2029. Koalisi tersebut juga mengumumkan rencana menggelar latihan militer bersama di negara-negara yang berbatasan langsung dengan Ukraina sebagai bagian dari persiapan pembentukan Multinational Force in Ukraine (MNFU) di masa mendatang.

Menurut Macron, langkah tersebut bertujuan menjadikan konsep pasukan multinasional di Ukraina lebih siap diterapkan apabila diperlukan di kemudian hari.

Baca: Timteng Makin Ngeri, Potret Houthi Yaman Bombardir Bandara Saudi

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Ukraina Gempur Armada Rusia, Jalur Vital Laut Azov Lumpuh Total

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Langkah Kapolri Bertandang ke Kejagung dan Mabes TNI Tuai Respons Positif
• 6 jam lalu
0
thumb
Pemilik Emas 74 kg dalam Kasus Febrie Adriansyah Masih Misteri, Ini Kata Polisi
• 18 jam lalu
0
thumb
Universitas Amikom Yogyakarta Ubah Kawasan Merokok jadi Ruang Kolaborasi Kreatif
• 13 jam lalu
0
thumb
Utamakan Keadilan Santri Korban Pembakaran di Lombok Tengah
• 8 jam lalu
0
thumb
Video: Progres LRT Jakarta 95 %, Diresmikan Presiden di Bulan Agustus
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.