Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani, menyatakan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pengembangan biodiesel 60 (B60) masih membutuhkan riset yang mendalam.
Eniya mengajak akademisi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hingga berbagai universitas untuk terlibat aktif dalam riset tersebut. Penelitian ini diperlukan agar formulasi keekonomian B60, khususnya untuk Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), bisa lebih murah dan efisien.
"Itu perlu riset. Nanti saya kembali menjadi periset. Saya harap periset-periset dari ITB, BRIN, IPB, semua bisa bergabung menjadi satu untuk mencari solusi HVO yang murah. Kalau solusi sebenarnya seperti itu," ujar Eniya di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (14/7).
Menurutnya, proses menuju B50 masih harus menemukan formulasi yang tepat melalui riset berkelanjutan. Jika opsi B60 dilakukan dengan menambahkan 10% hidrokarbon, secara keekonomian harganya masih jauh lebih tinggi dibanding B50 yang saat ini menggunakan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis kelapa sawit.
"Kalau di atas 50 persen itu kombinasinya, jika mau tambah 10 persen dari hidrokarbon yang D100, harganya masih 1,5 kali lipat dari harga FAME," jelasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo ingin program biodiesel tidak berhenti di B50. Ia menantang jajarannya untuk segera mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan tersebut hingga mencapai B60.
"Terima kasih Pertamina dan semua jajaranmu, teruskan! Jangan berhenti di B50. Kalau bisa B60. Bulan apa B60?" kata Prabowo di Tol Cikampek, Kamis (9/7).
Prabowo menjelaskan, program B50 yang sudah berjalan saat ini mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun. Awalnya, ia sempat mendorong pengembangan hingga B100. Namun, jajaran menterinya meyakinkan bahwa dengan implementasi B50 saja, Indonesia sudah tidak perlu lagi mengimpor solar.
"Bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100. Tapi menteri-menteri meyakinkan saya, 'Pak, dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi dari luar negeri.' Jadi ini adalah satu prestasi bangsa yang luar biasa," tutur Prabowo.






Komentar (0)