Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi momentum untuk terus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
“Ini mencerminkan trust yang diberikan oleh lembaga rating terhadap ketahanan ekonomi kita. Ini momentum yang perlu terus kita jaga,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level layak investasi (investment grade) mencerminkan kepercayaan lembaga pemeringkat terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Ferry mengatakan pemerintah akan terus memperkuat tata kelola, transparansi, dan pendalaman pasar keuangan guna menjaga kredibilitas kelembagaan serta memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor.
Baca juga: BKPM sampaikan perusahaan biofarmasi Jepang investasi Rp539 miliar
"Tata kelola yang baik bukan sekadar masalah kepatuhan, tetapi fondasi yang memperkuat kredibilitas kelembagaan, memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor, serta pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.
Ia menambahkan berbagai lembaga internasional juga masih mempertahankan prospek positif terhadap ekonomi Indonesia.
Dalam laporan World Economic Outlook edisi Juli 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada 2026.
Asian Development Bank (ADB) dalam laporan edisi Juli 2026 juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 di level 5,2 persen.
S&P Global Ratings dalam laporan bertajuk Indonesia Ratings Affirmed at 'BBB/A-2'; Outlook Stable yang dirilis pada 13 Juli 2026 mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Sementara itu, prospek (outlook) Indonesia tetap pada level stabil.
Keputusan tersebut membuat Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade atau layak investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
S&P memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dengan pertumbuhan riil sebesar 5,1 persen pada 2026 dan rata-rata 4,9 persen pada periode 2026–2029.
Baca juga: Kemnaker: 58 persen tenaga kerja Indonesia masih di sektor informal
Meski demikian, lembaga pemeringkat asal Amerika Serikat itu juga mengingatkan peringkat Indonesia berpotensi diturunkan apabila indikator fiskal maupun sektor eksternal memburuk secara berkelanjutan.
Sebaliknya, peluang kenaikan peringkat tetap terbuka apabila kinerja fiskal dan sektor eksternal menunjukkan perbaikan struktural.
“Ini mencerminkan trust yang diberikan oleh lembaga rating terhadap ketahanan ekonomi kita. Ini momentum yang perlu terus kita jaga,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level layak investasi (investment grade) mencerminkan kepercayaan lembaga pemeringkat terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Ferry mengatakan pemerintah akan terus memperkuat tata kelola, transparansi, dan pendalaman pasar keuangan guna menjaga kredibilitas kelembagaan serta memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor.
Baca juga: BKPM sampaikan perusahaan biofarmasi Jepang investasi Rp539 miliar
"Tata kelola yang baik bukan sekadar masalah kepatuhan, tetapi fondasi yang memperkuat kredibilitas kelembagaan, memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor, serta pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.
Ia menambahkan berbagai lembaga internasional juga masih mempertahankan prospek positif terhadap ekonomi Indonesia.
Dalam laporan World Economic Outlook edisi Juli 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada 2026.
Asian Development Bank (ADB) dalam laporan edisi Juli 2026 juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 di level 5,2 persen.
S&P Global Ratings dalam laporan bertajuk Indonesia Ratings Affirmed at 'BBB/A-2'; Outlook Stable yang dirilis pada 13 Juli 2026 mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Sementara itu, prospek (outlook) Indonesia tetap pada level stabil.
Keputusan tersebut membuat Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade atau layak investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
S&P memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dengan pertumbuhan riil sebesar 5,1 persen pada 2026 dan rata-rata 4,9 persen pada periode 2026–2029.
Baca juga: Kemnaker: 58 persen tenaga kerja Indonesia masih di sektor informal
Meski demikian, lembaga pemeringkat asal Amerika Serikat itu juga mengingatkan peringkat Indonesia berpotensi diturunkan apabila indikator fiskal maupun sektor eksternal memburuk secara berkelanjutan.
Sebaliknya, peluang kenaikan peringkat tetap terbuka apabila kinerja fiskal dan sektor eksternal menunjukkan perbaikan struktural.






Komentar (0)