Generasi Sandwich: Terjepit di Antara Bakti dan Mimpi Sendiri

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Generasi sandwich bukan istilah yang lahir dari media sosial. Tapi dalam lima tahun terakhir, ia tiba-tiba terasa sangat nyata--sangat dekat-bagi jutaan anak muda Indonesia yang setiap bulan harus membagi gajinya untuk orang tua, untuk diri sendiri, dan sering kali untuk adik yang masih sekolah, sebelum sempat memikirkan tabungan atau masa depan mereka sendiri.

Kamu mungkin salah satunya. Atau kamu kenal seseorang yang seperti itu. Atau mungkin kamu belum sadar bahwa kondisi yang kamu anggap "ya begini lah hidup" itu sebenarnya punya nama, dan dampaknya jauh lebih dalam dari yang kamu kira.

Survei Diverse Asia 2024 yang dilakukan Manulife Investment Management terhadap 4.000 responden di enam wilayah Asia menemukan angka yang mencengangkan: 94 persen responden di Indonesia mengaku harus mengesampingkan kebutuhan pribadi demi memenuhi kebutuhan orang tua yang sudah pensiun.

Survei Populix (2024) mengonfirmasi: lebih dari 65 persen responden berusia 25-40 tahun masih menanggung sebagian kebutuhan orang tua, sementara 48 persen di antaranya juga punya tanggungan anak atau adik. Dan survei YouGov Indonesia (2025) mencatat hampir separuhnya--46 persen-mengaku pendapatan mereka tidak naik, sementara biaya hidup terus meroket. Dua faktor utama yang mengancam stabilitas keuangan mereka: inflasi (47%) dan penurunan penghasilan dari usaha (31%).

Lebih jauh, data Kementerian Keuangan (2025) menyebut lebih dari 80 persen lansia di Indonesia masih bergantung pada anak yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini bukan soal satu dua keluarga. Ini adalah pola sistemik yang sudah mengakar.

Kenapa Ini Terjadi? Ini Bukan Salah Kamu

Ada godaan besar untuk menyederhanakan masalah ini menjadi soal budaya: "ya, orang Indonesia memang begitu, menghormati orang tua." Dan memang benar, nilai bakti kepada orang tua adalah bagian penting dari budaya kita. Tapi menyebut ini hanya soal budaya adalah cara yang terlalu nyaman untuk menutup mata terhadap kegagalan sistem yang jauh lebih besar.

Faktanya: dari sekitar 150 juta pekerja Indonesia, hanya 14 juta yang ikut jaminan pensiun dan 16 juta yang memiliki Jaminan Hari Tua. Artinya, sebagian besar orang Indonesia memasuki masa tua tanpa tabungan yang cukup--dan satu-satunya jaring pengaman yang tersedia adalah anak-anaknya.

Ini bukan pilihan yang dibuat dengan sadar. Ini adalah akibat dari sistem pensiun yang tidak inklusif, literasi keuangan yang rendah, dan minimnya akses bagi pekerja informal terhadap jaminan sosial. Ketika sistem gagal, keluargalah yang menanggung.

Dan siapa di dalam keluarga yang paling terjepit? Generasi muda--yang baru saja masuk dunia kerja, belum punya kestabilan finansial, tapi sudah harus memikul beban ganda.

Bukan Cuma Dompet yang Tertekan

Yang sering luput dari percakapan adalah dampak emosionalnya. Survei DataIndonesia.id terhadap 472 responden Gen Z (2023) menemukan hampir separuh--46,3 persen--Gen Z Indonesia adalah bagian dari generasi sandwich. Dan tekanan finansial yang mereka tanggung berdampak langsung pada kesehatan mental: stres, kecemasan, hingga depresi.

Bagaimana tidak? Kamu baru kerja satu-dua tahun. Gajimu belum besar. Kamu punya mimpi sendiri--mau nabung beli rumah, mau lanjut sekolah, mau traveling sekali-kali—tapi setiap tanggal 1, dompetmu sudah habis dibagi sebelum sempat diisi untuk dirimu sendiri.

Dan yang paling menyakitkan: kamu tidak bisa marah. Karena yang kamu tanggung adalah orang-orang yang kamu cintai. Jadi kamu diam, terus jalan, sambil diam-diam kelelahan.

Survei YouGov (2025) juga menemukan 62 persen generasi sandwich di Indonesia terpaksa mengambil pinjaman untuk menutup kebutuhan--22 persen lewat paylater, 16 persen lewat kartu kredit, dan 11 persen lewat fintech. Sementara 48,62 persen mengaku sulit mencapai tujuan finansial pribadi.

Rantai yang Bisa Diputus tapi Bukan Hanya dengan Kerja Lebih Keras

Solusi yang paling sering disarankan adalah: kelola keuangan lebih baik, investasi dari sekarang, edukasi keluarga soal literasi finansial. Saran itu tidak salah. Tapi ia tidak cukup jika berdiri sendiri.

Karena kalau sistemnya tidak berubah--kalau pekerja informal tetap tidak punya akses ke jaminan pensiun, kalau upah minimum masih jauh dari biaya hidup nyata, kalau layanan kesehatan lansia masih mahal dan antrean BPJS masih panjang berbulan-bulan--maka beban itu akan terus jatuh ke pundak yang sama: generasi muda.

Kemenkeu sendiri sudah mengakui ini. Ihda Muktiyanto, Direktur Pengembangan Dana Pensiun dan Asuransi Kemenkeu (2025), menyebut perlunya sistem pensiun yang inklusif dan berkelanjutan agar lansia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada anak. OJK mencatat aset dana pensiun nasional sudah menyentuh Rp1.593 triliun per Agustus 2025--tapi pesertanya baru 29 juta dari 150 juta pekerja. Jarak itu masih sangat panjang.

Kamu Boleh Capek. Kamu Juga Boleh Punya Mimpi

Kalau kamu sedang dalam posisi ini sekarang--terjepit antara tanggung jawab kepada keluarga dan keinginan untuk membangun hidupmu sendiri--ada satu hal yang perlu kamu dengar:

Kamu tidak egois karena ingin sesuatu untuk dirimu sendiri. Kamu tidak kurang berbakti karena butuh ruang bernafas. Menjaga dirimu sendiri adalah bagian dari cara kamu bisa terus menjaga orang lain.

Generasi sandwich memang terjepit. Tapi ia bukan takdir yang harus diterima diam-diam. Ia adalah masalah sistemik yang butuh suara--dan semakin banyak yang berbicara tentangnya, semakin besar tekanan agar sistem yang gagal itu akhirnya diperbaiki.

Referensi:

https://www.alinea.id/bisnis/riset-sebanyak-94-masyarakat-jadi-generasi-sandwich-b2nhc9Re4

https://mitrapost.com/2025/10/23/generasi-sandwich-dan-cara-bijak-mengatur-finansial/

https://mitrapost.com/2025/10/23/generasi-sandwich-dan-cara-bijak-mengatur-finansial/

https://www.indonesiana.id/read/188590/memutus-siklus-generasi-sandwich


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Resmi! Harga BBM Solar Khusus Nelayan Jadi Rp15.000 per Liter
• 9 jam lalu
0
thumb
Polisi Uji Kadar Emas 74 Kg dari Rumah Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
• 17 jam lalu
0
thumb
3 Pemimpin Dunia Bertemu Prabowo dalam Sepekan, Bakom: Bukti Indonesia Dipercaya di Kancah Global
• 9 jam lalu
0
thumb
Bakom: Presiden minta aparatur negara perkuat integritas
• 13 jam lalu
0
thumb
Infografis Rute ke Semifinal Piala Dunia 2026, Siapa Lebih Sering Ketemu Tim Elit
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.