PT Freeport Indonesia (PTFI) menuturkan bahwa mereka memproyeksi jumlah emas yang mereka produksi sampai akhir tahun ini adalah 21 ton. Angka tersebut memang turun dibanding tahun 2025 di mana emas yang dihasilkan mencapai 28 ton.
Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas juga menjelaskan penurunan tersebut juga seiring menurunnya penambangan bijih akibat insiden di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) beberapa waktu lalu.
“Tahun lalu kita tonasenya 139 ribu ton biji per hari. Ini memang karena dari bulan September kita tidak produksi dari GBC, tahun ini direncanakan 124 ribu ton biji per hari,” kata Tony dalam rapat kerja bersama Komisi XII di Gedung Parlemen, Jakarta pada Selasa (14/7).
Adapun secara detail Tony menjelaskan jumlah keseluruhan logam yang akan mereka produksi di 2026 mencakup 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounces emas atau ekuivalen dengan 21 ton.
Meski sempat turun di 2025, Tony menarget di tahun-tahun berikutnya sampai tahun 2029 baik penambangan bijih maupun produksi logam dapat meningkat.
“Tahun 2029 sudah mencapai 226 ribu ton per hari yang kita sudah hitung ini di atas 200 ribu itu adalah tahap level normal atau level 100 persen dari produksi kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan target PTFI di tahun 2027 bisa memproduksi emas sebanyak 31 ton, 43 ton pada 2028, 40 ton pada 2029 dan 37 ton pada 2030.
Di samping itu, ia juga menarget bahwa tambang Kucing Liar juga akan mulai produksi di tahun 2029. Dengan begitu, penambangan bijih menurut Tony juga dapat terus dijaga di level normal.
“Tambang Kucing Liar di lokasi yang berdekatan dengan yang sekarang itu akan mulai bisa kita tambang di tahun 2029. Ini adalah untuk menggantikan DMLZ yang mulai merendah tonasenya sehingga kestabilan atau kelangsungan dari penambangan sekitar 220 ribu ton biji per hari itu akan bisa dilanjutkan,” kata Tony.






Komentar (0)