Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperluas kerja sama dengan Negara Bagian Malaka, Malaysia, hingga ke lingkup pesantren, mencakup pertukaran santri, guru, dan jejaring pendidikan.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, di Semarang, Selasa, mengatakan penjajakan kerja sama sudah dilakukan dengan Negara Bagian Malaka, Malaysia, salah satunya dengan kunjungan silaturahmi Pimpinan Pondok Pesantren Al Muhibbin, Malaka, Malaysia, Muhammad Hadi Al Muhibbin.
Ia mengatakan penguatan kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut dari kemitraan "sister province" yang telah dijalin Jateng dan Malaka sejak 2025.
Melalui skema "sister province", dua pemerintah daerah di negara berbeda membangun kemitraan resmi sebagai payung kerja sama di berbagai bidang, termasuk pendidikan, kebudayaan, ekonomi, dan pengembangan sumber daya manusia.
"Kita nanti pastikan lagi bagaimana kerja samanya antara Malaka dengan Jawa Tengah, terkhusus antara pondok-pondok pesantren di Jawa Tengah dengan salah satu pondok yang ada di Malaka," kata Gus Yasin, sapaan akrabnya.
Kemitraan yang selama ini dibangun di tingkat pemerintah daerah perlu diikuti kerja sama yang lebih luas di tingkat lembaga pendidikan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Sementara ini dari ulama-ulama Indonesia dengan Malaysia ada pertukaran santri, pertukaran guru juga," katanya.
Selain memperkuat kerja sama internasional, Pemprov Jateng juga terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia pesantren melalui Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren.
Pada 2026, program tersebut menarik minat tinggi dengan total 941 pendaftar untuk jenjang S1, S2, dan S3, baik program dalam negeri maupun luar negeri.
Untuk program luar negeri, peserta yang lolos seleksi akan melanjutkan studi di sejumlah negara, antara lain Mesir, Yaman, China, dan Filipina.
Ia mengatakan minat santri terhadap bidang ilmu kini semakin beragam, termasuk ilmu-ilmu keislaman, dan sebagian memilih bidang sains dan teknologi hingga kedokteran.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al Muhibbin, Malaka Muhammad Hadi Al Muhibbin menyambut baik rencana penguatan kerja sama tersebut.
Menurut dia, hubungan Indonesia dan Malaysia telah terjalin erat sejak masa kerajaan dan memiliki akar sejarah yang panjang.
Ia berharap kemitraan yang telah dibangun kedua pemerintah daerah dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan kerja sama antarpesantren, termasuk pertukaran pelajar dan pengembangan jejaring pendidikan Islam.
"Apabila hubungan antara pemerintah sudah terjalin dengan baik, akan lebih mudah untuk melaksanakan pertukaran pelajar antara Indonesia dan Malaysia. Silaturahmi seperti ini menjadi jalan untuk memperkuat hubungan keilmuan kedua wilayah," katanya.
Baca juga: RI-Belarus perkuat kerja sama bidang pendidikan kedokteran-farmasi
Baca juga: Kemdiktisaintek perkuat jejaring global dengan Universitas Nottingham
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, di Semarang, Selasa, mengatakan penjajakan kerja sama sudah dilakukan dengan Negara Bagian Malaka, Malaysia, salah satunya dengan kunjungan silaturahmi Pimpinan Pondok Pesantren Al Muhibbin, Malaka, Malaysia, Muhammad Hadi Al Muhibbin.
Ia mengatakan penguatan kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut dari kemitraan "sister province" yang telah dijalin Jateng dan Malaka sejak 2025.
Melalui skema "sister province", dua pemerintah daerah di negara berbeda membangun kemitraan resmi sebagai payung kerja sama di berbagai bidang, termasuk pendidikan, kebudayaan, ekonomi, dan pengembangan sumber daya manusia.
"Kita nanti pastikan lagi bagaimana kerja samanya antara Malaka dengan Jawa Tengah, terkhusus antara pondok-pondok pesantren di Jawa Tengah dengan salah satu pondok yang ada di Malaka," kata Gus Yasin, sapaan akrabnya.
Kemitraan yang selama ini dibangun di tingkat pemerintah daerah perlu diikuti kerja sama yang lebih luas di tingkat lembaga pendidikan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Sementara ini dari ulama-ulama Indonesia dengan Malaysia ada pertukaran santri, pertukaran guru juga," katanya.
Selain memperkuat kerja sama internasional, Pemprov Jateng juga terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia pesantren melalui Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren.
Pada 2026, program tersebut menarik minat tinggi dengan total 941 pendaftar untuk jenjang S1, S2, dan S3, baik program dalam negeri maupun luar negeri.
Untuk program luar negeri, peserta yang lolos seleksi akan melanjutkan studi di sejumlah negara, antara lain Mesir, Yaman, China, dan Filipina.
Ia mengatakan minat santri terhadap bidang ilmu kini semakin beragam, termasuk ilmu-ilmu keislaman, dan sebagian memilih bidang sains dan teknologi hingga kedokteran.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al Muhibbin, Malaka Muhammad Hadi Al Muhibbin menyambut baik rencana penguatan kerja sama tersebut.
Menurut dia, hubungan Indonesia dan Malaysia telah terjalin erat sejak masa kerajaan dan memiliki akar sejarah yang panjang.
Ia berharap kemitraan yang telah dibangun kedua pemerintah daerah dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan kerja sama antarpesantren, termasuk pertukaran pelajar dan pengembangan jejaring pendidikan Islam.
"Apabila hubungan antara pemerintah sudah terjalin dengan baik, akan lebih mudah untuk melaksanakan pertukaran pelajar antara Indonesia dan Malaysia. Silaturahmi seperti ini menjadi jalan untuk memperkuat hubungan keilmuan kedua wilayah," katanya.
Baca juga: RI-Belarus perkuat kerja sama bidang pendidikan kedokteran-farmasi
Baca juga: Kemdiktisaintek perkuat jejaring global dengan Universitas Nottingham






Komentar (0)