Rupiah Melemah Tipis ke Rp18.115 per Dolar AS Selasa Pagi, Pasar Tunggu Inflasi AS

suarasurabaya.net
4 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah pada Selasa (14/7/2026) pagi bergerak melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah turun 6 poin atau 0,03 persen menjadi Rp18.115 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp18.109 per dolar AS.

Josua Pardede Kepala Ekonom Permata Bank mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sikap pasar yang masih menunggu rilis data inflasi AS serta arah kebijakan bank sentral AS.

“Saya memperkirakan rupiah bergerak terbatas di kisaran Rp18.060-Rp18.170 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp18.100-Rp18.120 per dolar AS. Biasanya masih cenderung lemah terbatas, bukan karena sentimen domestik sepenuhnya buruk, tetapi karena pasar masih menunggu data inflasi AS dan pernyataan ketua bank sentral AS pada 14 Juli,” ucapnya, seperti dikutip Antara.

Josua memperkirakan pergerakan rupiah masih akan terbatas dalam jangka pendek. Menurutnya, peluang penguatan rupiah terbuka apabila inflasi AS lebih rendah dari perkiraan dan pernyataan bank sentral AS menunjukkan kebijakan yang tidak terlalu ketat.

Dalam kondisi tersebut, rupiah berpotensi menguat menuju kisaran Rp18.030-Rp18.080 per dolar AS. Sebaliknya, apabila inflasi inti AS tetap tinggi atau bank sentral AS memberikan sinyal kebijakan ketat, rupiah berisiko melemah hingga menguji level Rp18.180-Rp18.220 per dolar AS.

Pasar saat ini memperkirakan inflasi AS pada Juni 2026 melambat menjadi 3,9 persen secara tahunan. Namun, inflasi inti diperkirakan masih bertahan di level 2,9 persen.

“Ini penting karena jika inflasi inti tetap membandel, ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi lebih lama akan menguat, dolar AS kembali diminati, dan rupiah kembali tertekan,” kata Josua.

Selain faktor inflasi AS, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi tekanan terhadap rupiah. Harga minyak Brent tercatat naik 3,43 persen secara harian menjadi 78,6 dolar AS per barel dan telah meningkat 29,2 persen sejak awal tahun.

Menurut Josua, kenaikan harga minyak biasanya memberikan tekanan terhadap rupiah karena Indonesia masih menjadi negara pengimpor minyak bersih. Jika harga minyak bertahan tinggi, pasar akan memperhitungkan dampaknya terhadap impor energi, subsidi, inflasi, neraca transaksi berjalan, hingga cadangan devisa.

Dari sisi domestik, terdapat sentimen positif setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.

S&P menilai tekanan fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara serta masih dapat ditopang oleh pemulihan penerimaan negara, ekspor komoditas, dan komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski demikian, S&P juga menyoroti pelemahan rupiah yang mencapai sekitar 7 persen sepanjang semester I serta risiko tekanan fiskal dan eksternal yang masih perlu dijaga.

“Jadi, keputusan S&P membantu menahan tekanan, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah besar-besaran,” ungkap Josua. (ant/ham)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Program MBG Kembali Berjalan, BGN Klaim Sudah Lakukan Pembenahan
• 10 jam lalu
0
thumb
Warga Kepulauan Seribu Krisis Air & BBM, Bupati Desak DPRD DKI Turun Tangan
• 17 jam lalu
0
thumb
Raksasa Otomotif Stellantis Jual 1,6 Juta Mobil pada Kuartal II-2026, Naik 10 Persen
• 22 jam lalu
0
thumb
Eks Menag Yaqut Siap Buka-bukaan di Persidangan
• 2 jam lalu
0
thumb
PERADI Profesional Beri Masukan untuk RUU HPI
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.