Menjaga Toleransi dan Merawat Keberagaman Lewat Kolaborasi Komunitas

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

VIVA –Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo mengajak masyarakat merefleksikan kondisi dunia yang masih diwarnai perang, perlombaan persenjataan dan perebutan kepentingan global. Dijelaskan Kardinal Surharyo, ancaman terbesar bagi kemanusiaan bukan hanya berasal dari kecanggihan teknologi atau senjata melainkan dari hilangnya dimensi moral dalam menggunakannya.

Untuk menggambarkan hal tersebut, ia membawakan kisah simbolik tentang empat bersaudara yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk menghidupkan seekor harimau. Alih-alih membawa manfaat, kemampuan itu justru berakhir menjadi petaka ketika harimau tersebut memangsa mereka sendiri. Kisah tersebut, menurut Kardinal Suharyo, menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat berbalik menghancurkan manusia.

Baca Juga :
Pancasila Kunci Memulihkan Kepercayaan Sosial di Tengah Krisis Global
Kisah Toleransi dari Pulau Buru: Sekolah Islam Mendidik 3 Siswa Penghayat Animisme

 

"Dunia tetap membutuhkan suara hati," ujarnya dalam acara Bonum Commune Forum x Harmony in Diversity Pre-Event bertajuk Community Action: Grassroots Movements as Architects of Peace, baru-baru ini.

 

Oleh karena itu, ia menilai komunitas-komunitas kecil yang terus bekerja di tengah masyarakat memiliki peran penting sebagai penjaga nurani publik. Di tengah besarnya tantangan global, gerakan akar rumput mungkin tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi yang menjaga harapan akan perdamaian.

 

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Maarif Institute, Andar Nubowo mengatakan keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang harus terus dirawat melalui ruang-ruang perjumpaan dan kolaborasi lintas komunitas. Menurutnya, di tengah berbagai tantangan global maupun perubahan sosial yang semakin cepat, membangun kohesi sosial menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, media digital juga perlu dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan memperluas narasi tentang pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman.

 

"Kita sebagai kelompok beriman harus memanfaatkan media sosial untuk menebarkan kebaikan," ujarnya.

 

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antar organisasi masyarakat sipil, komunitas lintas agama, lembaga pendidikan, dan generasi muda menjadi semakin penting untuk memperkuat budaya saling menghormati di tengah masyarakat. Melalui kerja bersama tersebut, keberagaman tidak hanya dipandang sebagai identitas yang berbeda, tetapi sebagai modal sosial untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis.

 

Sementara itu, Peneliti Hukum dan Konstitusi SETARA Institute, Sayidatul Insiyah, mengingatkan bahwa tantangan membangun toleransi juga masih terlihat dalam praktik kehidupan berbangsa. Berdasarkan pemantauan dan riset SETARA Institute, pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, hingga hambatan pendirian rumah ibadah masih ditemukan di berbagai daerah.

Baca Juga :
Maluku Perkuat Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Sekolah Didorong Jadi Ruang Tumbuh Toleransi
Dari Kuburan Jakarta hingga Hutan Amazon, Penulis Ini Bagikan Makna Keberagaman
Rayakan Natal di Lebak, Bonnie Triyana: Pentingnya Toleransi Sebagai Tindakan Nyata, Bukan Sekedar Slogan

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pelaku Teror Bom di SD Jaksel Terancam Penjara Maksimal 20 Tahun
• 8 jam lalu
0
thumb
OJK Bidik Peserta Bursa Karbon Tembus 200 Usai Peluncuran SRUK Terintegrasi
• 14 jam lalu
0
thumb
Antrean Solar Mengular di Sejumlah SPBU Makassar
• 18 jam lalu
0
thumb
Mengapa Hukuman Mati Tak Membuat Korupsi Hilang? Ini Penjelasannya
• 6 jam lalu
0
thumb
BPS Studi Banding ke China, Adopsi Strategi Pengumpulan Data Sensus Ekonomi
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.