BOGOR, KOMPAS.com - Warga Kota Bogor yang terdampak kekeringan, mengaku mengandalkan tampungan air dan meminta air kepada tetangga agar dapat memenuhi kebutuhan untuk aktivitas.
Salah satu warga, Fitriani (43) menyebut, telah menyediakan sekitar empat tempat penampung air sepejrti dua bekas kaleng cat berukuran 20 liter, satu ember berukuran 20 liter, satu ember lainnya berukuran 60 liter, dan satu galon air berukuran 15 liter. Tempat tersebut bertujuan untuk menampung air dari BPBD Kota Bogor.
Kebutuhan air tersebut digunakan oleh Fitriani untuk membersihkan rumah hingga mencuci.
Baca juga: Akal-akalan Sopir Angkot Tua di Bogor, Hapus Tanda Tak Laik Jalan dan Tetap Mengaspal
"Ya kan kalau namanya perempuan mah ya kita kan penginnya bersih-bersih, mencuci baju, mencuci piring gitu. Enggak ada air kan repot juga," kata Fitriani saat ditemui Kompas.com di Kedung Halang, Bogor Utara, pada Senin (13/7/2026).
Selain menampung air dari BPBD Kota Bogor, Fitriani juga kerap meminta pasokan air kepada tetangganya untuk memenuhi kebutuhan.
Ia memisahkan bak penampung air seperti galon air mineral guna kebutuhan dapur dan ember air untuk mencuci hingga mandi.
"Minta ke tetangga. Dua minggu ini sih saya mintanya mah, kalau biasanya sih enggak pernah minta ke mana-mana," kata dia.
Fitriani sempat memasang jet pump ke sumur bersama dengan biaya hampir Rp 1 Juta. Namun, air yang dihasilkan berbau besi dan berubah warna setelah ditampung.
Air sumur tersebut seharusnya digunakan juga untuk mandi, mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga.
Warga yang telah tinggal di wilayah tersebut sekitar 20 tahun itu melanjutkan, telah mengalami kesulitan air bersih sekitar dua pekan terakhir setelah sumber mata air yang selama ini digunakan untuk kebutuhannya berhenti mengalir.
Baca juga: Psikolog: Macet, Cuaca Panas, dan Tekanan Ekonomi Bisa Picu Amuk di Jalan
Menurut dia, kondisi serupa kerap terjadi saat musim kemarau tiba.
"Makanya kalau kemarau, mata air mah mati. Saya kan masang (jet pump) tuh dari atas itu, mati," jelasnya.
Keluhan serupa datang dari Atminah (54). Debit air di rumahnya terus menurun sekitar satu bulan terakhir meski sumur di kediamannya belum kering.
Debit air yang kecil tersebut membuatnya menampung bak pengisian menjadi jauh lebih lama dibanding biasanya.
Sebelum terdampak kekeringan, Atminah dapat menampung tiga ember air berukuran masing-masing sekitar 250 liter dalam waktu 30 menit.






Komentar (0)