Prabowo: Saya Tidak Percaya dengan Teori-teori Neolib

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan ketidaksetujuannya terhadap paham ekonomi neoliberal. Prabowo tidak percaya orang-orang kaya akan meneteskan kekayaannya ke rakyat yang ada di bawah.

Hal tersebut Prabowo sampaikan saat berpidato dalam puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Minggu (12/7/2026).

"Saya tidak percaya dengan teori-teori neolib. Katanya kita berpikir global, tidak ada perbatasan lagi. Jadi ada paham, pahamnya neolib, kalau kau miskin itu salah kamu. Iya itu pemikiran mereka. Dan paham neolib itu mengatakan biarlah yang kaya hanya 1 persen. Kalau mereka kaya nanti lama-lama kekayaannya akan menetes ke bawah. Trickle-down effect," ujar Prabowo.

"Saya tanya, kalian percaya nggak akan netes ke bawah? He? Hah? Kalian percaya atau tidak akan menetes ke bawah?" sambungnya.

Baca juga: Said Iqbal: Buruh Dukung Komitmen Prabowo Berantas Korupsi

Prabowo menjelaskan, dalam 30 tahun terakhir, ekonomi Indonesia sebenarnya dikuasai oleh paham ekonomi neoliberal, yang sesungguhnya adalah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Dia menyebut, cukup lama Indonesia berjuang untuk mengembalikan arah pembangunan ekonomi ke arah yang dirancang oleh pendiri-pendiri bangsa, yakni ekonomi kekeluargaan atau ekonomi kerakyatan.

Baca juga: Pidato Prabowo di Hari Koperasi: Cerita Tamu Tak Tahu Diri hingga Jelaskan Maksud Kopdes

Prabowo sendiri termasuk salah satu orang yang dari awal sudah memperingatkan bahwa paham kapitalisme neoliberal tidak akan berhasil, dan tidak akan membawa kesejahteraan kepada rakyat banyak.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Ekonomi di mana semua unsur harus berperan dan harus diberi kesempatan. Kita tidak mencari kesalahan masa lalu. Kita akui itu kesalahan kita bersama, kesalahan para elite. Waktu itu mungkin kita terkesima oleh keunggulan Barat," kata dia.

"Keunggulan Barat seolah-olah Barat adalah peradaban yang sangat unggul, sangat kuat, dan bisa membawa kesejahteraan kepada rakyat dalam waktu yang singkat. Ternyata setelah 3 dasawarsa kita melihat tidak benar," ujar dia menegaskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Aksi Penusukan Acak Berkali-kali Berakhir Ditangkap Polisi
• 10 jam lalu
0
thumb
Teror Bom di SDN Jakarta Selatan saat Siswa-Guru Upacara, Polda Metro Imbau Warga Tetap Tenang
• 6 jam lalu
0
thumb
Kenakan Baju Bodo, Tri Tito Karnavian Peringati 46 Tahun Dekranas di Makassar
• 4 jam lalu
0
thumb
Iran Luncurkan Rudal dan Drone ke Pangkalan Prince Hassan di Yordania
• 7 jam lalu
0
thumb
Israel Tiba-tiba Tawarkan Diri Kembali Ikut Perang Iran: Kami Siap Tempur Jika Amerika Meminta
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.