jpnn.com - JAKARTA - Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan kehormatan duta besar Korea Selatan (Korsel) untuk Indonesia Yoon Soon-gu dan Dubes Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri di kediaman pribadinya, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/7).
Awalnya, ketua umum PDI Perjuangan itu menerima kehadiran Dubes Yoon. Megawati tampak didampingi putranya yang juga Ketua DPP PDIP M. Prananda Prabowo. Hadir pula Ketua DPP PDIP Rokhmin Dahuri dan Ahmad Basarah.
BACA JUGA: Legistalor PDIP Soroti Dugaan Korupsi Batu Bara, Kalimatnya Tegas & Tajam
Saat memasuki ruang pertemuan, Dubes Yoon tampak mengamati sekitar. Dia bahkan mengaku beruntung dan merasa terhormat bisa bertemu dengan keluarga Proklamator Kemerdekaan RI Soekarno atau Bung Karno.
"Saya terhormat karena hari ini bisa bertemu Ibu Megawati dan bisa berkunjung ke ruangan ini. Sejarah bangsa Indonesia ada di ruangan ini. Saya melihat banyak foto Presiden Soekarno, foto Ibu Megawati. Saya bertemu dengan ibu dan anak ibu secara langsung," kata Dubes Yoon.
BACA JUGA: Catatan PDIP soal Pertanggungjawaban APBN 2025, Data Kemiskinan Ekstrem Tak Dilaporkan
Dia mengapresiasi perhatian Bu Mega atas persoalan di Semenanjung Korea. "Ibu Mega punya pengalaman, keahlian serta kedekatan dengan dua negara, yakni Korea Utara dan Korea Selatan, sehingga menjadi modal sebagai perantara bagi kedua negara untuk mau bersama melakukan dialog damai di meja perundingan," ungkapnya.
Dubes Yoon merasa bahwa pengalaman dan kedekatan Megawati dengan pihak Korea Utara, membuat putri Bung Karno itu merupakan tokoh yang tepat menjadi utusan khusus (special envoy) bagi perdamaian kedua negara.
BACA JUGA: PDIP Ungkap Rp 67 Triliun Anggaran Pendidikan 2025 Ternyata Tak Terpakai
Yoon berjanji untuk menyampaikan seluruh pembicaraan kepada Presiden Korsel Lee Jae-myung. Sementara itu, Megawati menjelaskan pengalaman masa lalu sebagai utusan perdamaian Korsel dari Presiden Kim Dae Jung yang berasal dari Partai Demokrat. "Saya saat itu mengusulkan adanya pertemuan dan reuni antarkeluarga yang terpisah akibat terbelahnya Korea di garis batas Pamunjon, serta mengusulkan adanya kerja sama ekonomi antara kedua negara serumpun," papar Bu Mega.Adapun, Presiden Korsel saat ini berasal dari Partai Demokrat, sama dengan Kim Daejung, yang membuat sikap negara tentang Semenanjung Korea mengacu Kim Daejung.
Setelah pertemuan dengan Yoon, Bu Mega didampingi Prananda, Rokhmin, Basarah, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Pusat PDIP Andi Widjajanto dan Direktur Eksekutif Megawati Institute Hilmar Farid, menerima kunjungan kehormatan Dubes Al Dhaheri.
Megawati dan Dubes Al Dhaheri memiliki kedekatan pascakunjungan wapres kedelapan RI itu ke UEA awal Februari 2026.
"Terima kasih telah mampir berkunjung ke rumah saya di Abu Dhabi pada Februari lalu. Saya meneruskan salam hangat dari Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Dia tahu pertemuan ini dan mengirimkan salam hangat kepada ibu," kata Al Dhaheri saat tiba di kediaman Megawati.
Lalu, Bu Mega dan Dubes Al Dhaheri menggelar pertemuan dan membahas isu geopolitik terkait konflik di Timur Tengah.
Dia dalam pertemuan mendorong kerja sama pemerintah UEA dengan Megawati Institute di bidang toleransi beragama, Pancasila, kajian pemikiran tokoh pendiri bangsa kedua negara.
Sementara itu, Megawati dalam kapasitas Dewan Pengarah BRIN meminta kerja sama lembaganya dengan pemerintah UEA diperkuat meneliti mangrove di Bali. (ast/jpnn)
Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Aristo Setiawan





Komentar (0)