“Sejak kapan healing berarti kabur, bukan sembuh?”
Beberapa tahun terakhir, kata healing menjadi salah satu istilah yang paling sering muncul di media sosial. Merasa lelah karena pekerjaan? Healing. Bertengkar dengan pasangan? Healing. Nilai kuliah buruk? Healing. Bahkan setelah seminggu penuh bekerja, banyak orang berkata bahwa mereka perlu healing dengan pergi ke pantai, nongkrong di kafe, atau berbelanja.
Coba perhatikan linimasa media sosial belakangan ini. Ada yang mengunggah foto secangkir kopi di kafe estetik dengan keterangan “healing dulu, capek sama hidup.”
Ada yang membeli barang baru lalu menyebutnya “self-reward, ini healing-ku.” Ada juga yang tiba-tiba menghilang dari grup kerja selama dua hari, kembali dengan alasan singkat: “kemarin lagi healing.” Kata yang dulu punya beban makna psikologis yang serius, kini berubah menjadi semacam kartu izin untuk melakukan apa saja yang menyenangkan, tanpa perlu penjelasan lebih jauh.
Padahal, healing pada mulanya bukan kata yang ringan. Dalam psikologi, healing dipahami sebagai proses pemulihan dari luka emosional, trauma, atau tekanan psikologis. Healing bukan sekadar menghilangkan rasa tidak nyaman untuk sementara, melainkan proses bertahap dalam mengolah emosi, menerima pengalaman yang menyakitkan, dan membangun kembali kesejahteraan psikologis. Proses ini tidak selalu nyaman, tidak selalu menyenangkan, dan sering kali membutuhkan waktu yang panjang.
Namun, seiring waktu makna healing mengalami pergeseran. Healing disederhanakan menjadi label generik untuk apa pun yang membuat kita merasa sedikit lebih baik dalam waktu singkat: staycation, belanja impulsif, atau sekadar rebahan seharian.
Banyak orang beranggapan bahwa healing sama dengan liburan untuk merelaksasi tubuh dan pikiran. Istilah ini memang selalu dikaitkan dengan perjalanan, liburan, atau hal-hal yang menyenangkan. Padahal, healing sejatinya bukan sekadar liburan atau jalan-jalan --meskipun tidak dapat dipungkiri, liburan memang bisa membantu proses tersebut.
Mengapa pergeseran makna ini begitu mudah diterima? Salah satu penyebabnya adalah budaya media sosial. Platform digital mendorong orang untuk membagikan momen yang indah dan menyenangkan. Foto di pantai, pemandangan pegunungan, atau secangkir kopi dengan caption “healing dulu” lebih mudah menarik perhatian dibandingkan proses panjang menghadapi kecemasan, memperbaiki hubungan, atau menjalani konseling.
Seseorang yang mengalami burnout mungkin memilih pergi berlibur selama dua hari. Setelah kembali bekerja, tekanan yang sama tetap menunggu. Mahasiswa yang merasa kewalahan bisa saja memilih “healing” ke luar kota, tetapi tugas, kecemasan, dan tekanan akademik tetap ada ketika ia pulang. Dalam situasi seperti ini, yang berubah hanyalah suasana, bukan akar persoalannya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa healing kadang lebih berfungsi sebagai jeda daripada penyelesaian. Bukan berarti berlibur adalah sesuatu yang keliru. Beristirahat tetap penting untuk memulihkan energi. Namun, penting untuk membedakan antara jeda sementara dan proses penyembuhan yang sesungguhnya.
Yang perlu disadari, saat berlibur kita mungkin untuk sementara melupakan masalah yang sedang dihadapi. Namun begitu pulang, bisa jadi kita kembali terpuruk oleh masalah yang sama, seolah belum pernah pergi ke mana pun. Jika ini yang terjadi, artinya proses healing yang kita jalani belum benar-benar berhasil.
Lantas, apa sebenarnya healing yang sesungguhnya? Healing tidak diukur dari seberapa jauh tempat yang kita kunjungi atau seberapa mahal cara kita memanjakan diri, melainkan dari sejauh mana proses tersebut membantu kita memperoleh ketenangan, memahami emosi, dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih sehat.
Healing bukan sekadar jeda yang membuat kita lupa sejenak, melainkan proses yang membuat kita mampu kembali menghadapi persoalan dengan cara pandang yang lebih tenang--bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena kita telah belajar menerima dan menghadapinya. Di titik inilah letak perbedaannya: liburan dapat memberi kita waktu untuk beristirahat, tetapi proses penyembuhan yang sesungguhnya memberi kita keberanian untuk pulang dan tetap melangkah meski persoalan belum sepenuhnya usai.
Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan menikmati liburan, secangkir kopi, atau perjalanan singkat untuk melepas penat. Yang perlu kita waspadai adalah ketika kata “healing” berubah menjadi pembenaran untuk terus menghindari persoalan yang seharusnya dihadapi.
Sebab penyembuhan yang sesungguhnya tidak selalu tampak estetik di media sosial. Ia sering kali hadir dalam bentuk keberanian mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, atau meminta bantuan ketika diri sendiri tidak lagi mampu. Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi, “Mau healing ke mana?”, melainkan, “Apa yang sebenarnya sedang perlu aku sembuhkan?”






Komentar (0)