PT Telkom Satelit Indonesia atau Telkomsat menjajaki pengembangan teknologi Direct-to-Device atau D2D di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan perangkat pengguna terhubung dengan jaringan berbasis satelit.
Penjajakan dilakukan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan UNIVITY, perusahaan penyedia infrastruktur konektivitas berbasis antariksa bagi operator telekomunikasi.
Kerja sama tersebut menjadi langkah awal bagi Telkomsat dan UNIVITY untuk menjajaki berbagai peluang kolaborasi dan pengembangan solusi konektivitas berbasis satelit guna mendukung kebutuhan telekomunikasi di Indonesia.
Kedua perusahaan akan mengkaji berbagai potensi pemanfaatan konektivitas satelit, termasuk arsitektur Very Low Earth Orbit atau VLEO dan layanan Direct-to-Device pada masa mendatang.
Kolaborasi akan diarahkan pada pemanfaatan kapabilitas dan keunggulan jaringan berbasis antariksa yang dimiliki kedua perusahaan.
Telkomsat dan UNIVITY juga menjajaki penguatan kapabilitas konektivitas satelit yang berdaulat bagi Indonesia. Salah satu aspek yang akan dikaji yakni pemanfaatan infrastruktur stasiun bumi yang berlokasi di dalam negeri dan terintegrasi dengan konstelasi VLEO pada masa mendatang.
Selain teknologi Direct-to-Device, kedua perusahaan akan mengevaluasi potensi pengembangan arsitektur hybrid multi-orbit.
Arsitektur ini dikembangkan dengan mengintegrasikan jaringan satelit geostasioner milik Telkomsat dengan sistem VLEO yang dikembangkan UNIVITY.
Integrasi itu diarahkan untuk menghadirkan solusi konektivitas yang aman, tangguh, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan nasional. Teknologi ini juga ditujukan untuk mendukung prioritas sektor publik dan aplikasi keamanan nasional.
Direktur Pengembangan Telkomsat Anggoro K. Widiawan mengatakan konektivitas satelit terus memainkan peran penting dalam mendukung ekosistem digital Indonesia, terutama di wilayah terpencil dan tersebar secara geografis.
“Konektivitas satelit terus memainkan peran penting dalam mendukung ekosistem digital Indonesia, khususnya di wilayah terpencil dan tersebar secara geografis,” kata Anggoro dikutip dari Antaranews, Senin (13/7).
Melalui kerja sama dengan UNIVITY, Telkomsat ingin mengeksplorasi potensi arsitektur satelit yang berkembang dan kapabilitas jaringan nonterestrial untuk menjawab kebutuhan konektivitas di Indonesia.
“Melalui MoU bersama UNIVITY ini, kami berharap dapat mengeksplorasi bagaimana arsitektur satelit yang berkembang dan kapabilitas jaringan nonterestrial pada masa mendatang dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan konektivitas yang terus berkembang di seluruh Indonesia,” ujar Anggoro.
Telkomsat merupakan operator satelit nasional yang memiliki kapabilitas mengintegrasikan layanan komunikasi satelit dan terestrial.
Kemampuan tersebut didukung aset satelit, infrastruktur stasiun bumi, kemampuan operasional, serta pemahaman terhadap regulasi nasional.
Sementara itu, Founder dan CEO UNIVITY Charles Delfieux menilai Indonesia sebagai salah satu pasar konektivitas paling dinamis di dunia.
Menurut dia, terdapat peluang bagi pengembangan konvergensi antara jaringan terestrial dan jaringan berbasis antariksa di Indonesia.
“Melalui MoU bersama Telkomsat ini, kami berharap dapat menjajaki bagaimana solusi konektivitas satelit masa depan dapat melengkapi infrastruktur yang telah tersedia serta mendukung berbagai penerapan baru seiring waktu,” kata Charles.
UNIVITY mengembangkan konstelasi Very Low Earth Orbit dengan memanfaatkan spektrum 5G milik operator telekomunikasi.
Konstelasi VLEO tersebut dikembangkan untuk menghadirkan konektivitas berkecepatan tinggi dan berlatensi rendah sebagai pelengkap jaringan terestrial.
Kerja sama Telkomsat dan UNIVITY diharapkan dapat memperkuat pengembangan konektivitas hybrid multi-orbit sekaligus membuka peluang pemanfaatan teknologi satelit pada masa mendatang.




Komentar (0)