Merger MI BUMN, Dana Kelolaan Mandiri MI Ditaksir Capai Rp132,72 Triliun

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Dana kelolaan atau asset under management (AUM) dari empat manajer investasi pelat merah yang merger ditaksir mencapai Rp132,72 triliun. Porsi itu mewakili 19,23% dari total dana kelolaan industri reksa dana.

Direktur Utama Infovesta Utama Wawan Hendrayana memprediksi merger empat manajer investasi BUMN bakal membuat Mandiri Manajemen Investasi sebagai surviving entity dengan AUM gabungan mencapai Rp132,72 triliun atau sekitar 19,23% dari total dana kelolaan industri reksa dana nasional.

”Secara keseluruhan, risiko paling nyata adalah konsentrasi investasi bagi sebagian investor, bukan gangguan langsung pada kinerja produk reksa dana,” katanya kepada Bisnis, Senin (13/7/2026).

Baca Juga : Danantara Lebur 4 Manajer Aset BUMN, Mandiri MI Jadi Surviving Entity

Meskipun begitu, Wawan melihat merger ini tidak serta merta memperkecil peluang MI swasta untuk dapat tetap bertumbuh. Menurutnya, kinerja produk reksa dana dan jalur distribusi yang luas telah mendorong pertumbuhan kinerja MI swasta.

Sejalan dengan itu, Wawan merekomendasikan MI swasta untuk melakukan diferensiasi produk dengan tematik atau strategi khusus.

Selain itu, MI swasta diharapkan dapat mengambil keputusan lebih cepat dalam menangkap kebutuhan pasar dan dalam inovasi produk. Penguatan digitalisasi dan akuisisi lebih banyak nasabah ritel juga dinilai menjadi salah satu upaya untuk mendorong kinerja di tengah sesaknya industri ini.

”OJK diharapkan dapat menyeimbangkan antara konsolidasi yang sehat dengan menjaga ruang kompetisi bagi pemain swasta, antara lain mencegah predatory pricing,” katanya.

COO Bareksa Ni Putu Kurniasari berharap merger MI BUMN ini dapat membuat industri lebih berfokus pada peningkatan kualitas dan kinerja produk, sekaligus menghadirkan inovasi yang lebih beragam sesuai kebutuhan investor. Putu memberikan contoh produk RDPU yang sebelumnya sama-sama dimiliki oleh masing-masing MI Himbara.

Selepas merger ini, Putu berharap perusahaan tetap dapat memiliki lebih dari satu RDPU dengan diferensiasi yang jelas, seperti dari sisi strategi, fitur, hingga profil investor.

”Dengan demikian, pengembangan produk menjadi lebih berorientasi pada kebutuhan konsumen, bukan dari dorongan duplikasi produk antarentitas yang saling berkompetisi,” katanya, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, hal ini menjadi penting lantaran tantangan yang kini dihadapi industri MI semakin besar. Industri reksa dana dinilai tidak hanya bersaing dengan sesama manajer investasi, tetapi persaingan juga datang dari berbagai aset global seiring kemajuan teknologi dan mudahnya akses investasi lintas negara.

Baca Juga : BRI-MI Gandeng Ayovest, Perluas Penawaran Reksa Dana

Dengan begitu, Putu menilai diperlukan inovasi produk yang lebih beragam agar industri reksa dana Indonesia mampu bersaing dan tetap relevan di tengah kompetisi global.

”Karena pada akhirnya, investor tidak hanya mengejar return, tetapi juga mencari produk yang paling sesuai dengan tujuan, profil risiko, dan kebutuhan investasinya. Jadi industri reksa dana kita masih ada peluang,” katanya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Senator Filep Wamafma Desak Kemenkes Percepat Pengadaan Reagen Deteksi HIV pada Bayi
• 8 jam lalu
0
thumb
Panglima TNI Terima Kunjungan Silaturahmi Kapolri, Pererat Solidaritas TNI-Polri
• 2 jam lalu
0
thumb
Polisi Pastikan SDN Srengseng Sawah 15 Jaksel Aman usai Teror Bom: Tak Ditemukan Barang Mencurigakan
• 4 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS dan Antam Hari Ini per 13 Juli 2026
• 12 jam lalu
0
thumb
Foto: Kebakaran Pub di Bangkok Tewaskan 27 Orang, Puluhan Lainnya Kritis
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.