Hasil lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang diumumkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dinilai membuat persaingan industri telekomunikasi nasional semakin seimbang. Alih-alih melahirkan satu operator yang mendominasi, hasil seleksi justru dinilai memperkuat posisi Telkomsel, Indosat, dan XLSmart sesuai kebutuhan jaringan masing-masing.
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai seluruh operator memperoleh keuntungan dari hasil lelang tersebut karena masing-masing mendapatkan spektrum strategis yang dapat memperkuat layanan. "Kalau dilihat hasilnya, semua operator mendapat manfaat sesuai kebutuhannya," kata dia kepada Katadata.co.id, Senin (13/7).
Menurut dia, distribusi spektrum yang diperoleh ketiga operator membuat kompetisi industri telekomunikasi menjadi lebih sehat. Tidak ada satu operator yang menguasai seluruh pita frekuensi strategis. "Persaingan menjadi lebih sehat karena tidak ada satu operator yang menguasai semua spektrum strategis," ujarnya.
Komdigi mengumumkan hasil seleksi pengguna pita frekuensi 700 MHz pada Jumat (10/7). XLSmart menempati peringkat pertama dengan harga penawaran Rp 35,34 miliar per MHz dan memperoleh alokasi spektrum 30 MHz (2x15 MHz) dengan total nilai penawaran Rp 1,06 triliun.
Telkomsel berada di peringkat kedua dengan penawaran Rp 32,125 miliar per MHz dan memperoleh blok 20 MHz (2x10 MHz) senilai Rp 642,5 miliar. Sementara itu, Indosat menempati peringkat ketiga dengan penawaran Rp 25,374 miliar per MHz dan memperoleh blok 20 MHz (2x10 MHz) senilai Rp 507,48 miliar.
Untuk pita frekuensi 2,6 GHz, Telkomsel menjadi peserta dengan peringkat tertinggi setelah memperoleh alokasi 80 MHz melalui penawaran Rp 6,823 miliar per MHz atau senilai Rp 545,84 miliar.
Indosat berada di posisi kedua dengan alokasi 60 MHz melalui penawaran Rp 6,2 miliar per MHz atau total Rp 372 miliar. Adapun XLSmart memperoleh alokasi 50 MHz melalui penawaran Rp 4,632 miliar per MHz atau senilai Rp 231,6 miliar.
Heru menjelaskan, apabila melihat hasil lelang secara keseluruhan, XLSmart menjadi operator yang memperoleh dorongan terbesar melalui tambahan spektrum di pita 700 MHz.
"Alokasi 700 MHz sangat efektif untuk memperluas jangkauan layanan, terutama di wilayah yang selama ini belum terlayani secara optimal," katanya.
Sebaliknya, Telkomsel memperoleh tambahan spektrum pada pita 2,6 GHz yang lebih ditujukan untuk meningkatkan kapasitas jaringan di kawasan dengan lalu lintas data tinggi.
"Telkomsel memperkuat kapasitas melalui 2,6 GHz. Indosat juga tetap kompetitif dengan kombinasi spektrum yang seimbang," ujar Heru.
Meski hasil lelang memperkuat fondasi pengembangan jaringan generasi berikutnya, Heru mengingatkan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam penataan spektrum.
Menurut dia, tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz memang memperkuat implementasi 5G Standalone (SA). Namun pemerintah tetap perlu melanjutkan roadmap dengan melepas pita 3,5 GHz.
"Ke depan Indonesia tetap membutuhkan pita 3,5 GHz sebagai tulang punggung 5G, bahkan mulai menyiapkan 6 GHz untuk evolusi menuju 5G Advanced dan 6G," katanya.
Ia menambahkan, lelang frekuensi tahun ini merupakan langkah penting, tetapi bukan akhir dari proses penataan spektrum nasional. "Pemerintah perlu melanjutkan roadmap spektrum agar kapasitas jaringan mampu mengikuti pertumbuhan AI, cloud, dan ekonomi digital," ujarnya.
Heru memperkirakan masyarakat belum akan langsung merasakan peningkatan kualitas layanan setelah hasil lelang diumumkan. Dampaknya baru akan terasa secara bertahap dalam waktu 12 hingga 24 bulan apabila seluruh proses berjalan sesuai rencana.
Operator masih harus memperoleh penetapan izin penggunaan spektrum, membangun infrastruktur jaringan, mengintegrasikan frekuensi baru ke jaringan yang sudah ada, serta memenuhi komitmen perluasan layanan 4G dan 5G.
Apabila seluruh tahapan tersebut berjalan lancar, masyarakat akan merasakan manfaat berupa kecepatan internet yang lebih tinggi, cakupan jaringan yang lebih luas, kualitas layanan yang lebih stabil, serta peluang hadirnya layanan digital baru berbasis 5G.
Spektrum Seluler Indonesia Kini 712 MHzDirektur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Komdigi Adis Alifiawan mengatakan total spektrum yang dialokasikan untuk layanan seluler di Indonesia meningkat menjadi 712 MHz setelah lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz.
Namun, jumlah tersebut dinilai masih belum ideal apabila Indonesia ingin mempersiapkan diri menuju era 6G. Mengacu pada proyeksi GSMA, kebutuhan spektrum untuk jaringan 6G diperkirakan mencapai sekitar 200 MHz contiguous bagi setiap operator, sementara Indonesia saat ini belum memiliki pita frekuensi dengan lebar tersebut.
Adis mengatakan penambahan spektrum menjadi semakin penting karena mayoritas masyarakat Indonesia mengakses internet melalui jaringan seluler. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sekitar 64,6% pengguna internet mengandalkan jaringan seluler, sedangkan sisanya menggunakan Wi-Fi.
"Jadi boleh dibilang seluler itu adalah gambaran Indonesia mengakses internet," kata Adis dalam diskusi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel).
Menurut dia, pita frekuensi mid-band seperti 3,5 GHz dan 6 GHz akan menjadi spektrum paling strategis pada masa depan karena mampu menawarkan keseimbangan antara jangkauan layanan dan kapasitas jaringan untuk mendukung pertumbuhan trafik data, layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), hingga evolusi menuju 6G.





Komentar (0)