Bisnis.com, PADANG - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Padang (UNP) turun ke lokasi bekas bencana banjir bandang yang berada di Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatra Barat, melakukan pemantauan pengelolaan air pascabencana.
Ketua Tim Pengabdian, Dwi Happy Anggia Sari mengatakan pasca bencana banjir badang telah menyebabkan terjadi perubahan kondisi lingkungan, seperti munculnya genangan air dan bertambahnya tempat penampungan air yang tidak terkelola dengan baik berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).
"Kondisi ini perlu ada penanganan, terutama dimulai dari masyarakat. Kami pun mendorong perlunya penguatan upaya promotif dan preventif berbasis masyarakat melalui pemberdayaan ibu-ibu PKK sebagai kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik)," katanya, Minggu (12/7/2026).
Dia menyebutkan ibu memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga kesehatan keluarga. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas ibu-ibu PKK sebagai kader Jumantik diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan DBD yang dimulai dari lingkungan rumah tangga.
"Rumah yang sehat dimulai dari ibu yang tangguh menjaga kesehatan seluruh anggota keluarganya. Ketika seorang ibu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mencegah DBD, maka dia akan menjadi pelindung pertama bagi keluarganya sekaligus menjadi penggerak kesehatan di lingkungan sekitarnya," ujar dia.
Dalam melakukan pendekatan dengan masyarakat ini, dilakukan penyuluhan mengenai gejala klinis DBD, tanda bahaya yang harus diwaspadai, pentingnya deteksi dini, serta langkah-langkah penanganan awal apabila terdapat anggota keluarga yang mengalami gejala DBD.
"Kami pun memberikan penyuluhan dan edukasi. Harapan kami, informasi yang diterima bisa bermanfaat dan diterapkan di lingkungan rumah, sehingga keluarga atau masyarakat bisa terbebas dadi risiko DBD," sebutnya.
Pakar kesehatan lingkungan dari UNP, Elsa Yuniarti menjelaskan bahwa keterlambatan mengenali gejala DBD dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi, sehingga masyarakat perlu memahami tanda-tanda penyakit dan segera memanfaatkan layanan kesehatan apabila ditemukan gejala yang mengarah pada DBD.
Dia menyebutkan lingkungan rumah yang dapat mencegah DBD adalah lingkungan yang bersih, sehat, dan tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Oleh karena itu, hal yang perlu diperhatikan saluran drainase harus berfungsi dengan baik sehingga air tidak menggenang, tempat penampungan air harus ditutup dan dikuras secara rutin, serta barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan perlu disingkirkan atau didaur ulang.
Selain itu, setiap keluarga perlu menerapkan gerakan 3M Plus, melakukan pemeriksaan jentik secara berkala, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah.
"Pencegahan DBD akan lebih efektif jika dimulai dari rumah tangga karena sebagian besar nyamuk berkembang biak di lingkungan permukiman," sebut dia.
Elsa mencontohkan kondisi yang terjadi di Tabing Banda Gandang, dinilai perlu mendapat perhatian serius. Pascagalodo, kondisi lingkungan mengalami perubahan yang dapat meningkatkan faktor risiko berkembangnya nyamuk penyebab DBD.
Dikatakannya di beberapa lokasi masih terdapat saluran drainase yang belum berfungsi optimal akibat sedimentasi atau sumbatan sehingga air mudah tergenang setelah hujan.
Ditambah lagi, kondisi cuaca yang belakangan cukup ekstrem, yaitu panas pada siang hari kemudian turun hujan, menyebabkan semakin banyak genangan air yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
"Makanya, selain pemulihan fisik pascabencana, aspek kesehatan lingkungan juga harus menjadi perhatian agar tidak muncul masalah kesehatan baru, termasuk DBD," tegasnya.
Elsa menyebutkan sejauh ini Pemerintah Kota Padang bersama berbagai instansi telah melakukan berbagai upaya penanganan dan pemulihan pascagalodo. Namun, pemulihan lingkungan tidak dapat selesai dalam waktu singkat dan memerlukan kolaborasi semua pihak.
Di beberapa titik masih ditemukan kondisi yang perlu terus dibenahi, seperti drainase yang belum sepenuhnya lancar dan potensi genangan air setelah hujan. Artinya, selain upaya yang dilakukan pemerintah, partisipasi masyarakat sangat diperlukan.
Dia berharap melalui kegiatan pengabdian ini, UNP membekali ibu-ibu PKK sebagai kader Jumantik agar dapat menjadi mitra Pemerintah Kota Padang dalam mengedukasi masyarakat, melakukan pemantauan jentik, dan menggerakkan upaya pencegahan DBD secara berkelanjutan.
"Jadi secara umum untuk mengatasi ancaman DBD di lokasi bencana alam, perlu ada langkah-langkah-langkah yang bisa dilakukan," ungkapnya.
Dikatakannya hal pertama dilakukan ialah meningkatkan kembali semangat gotong royong untuk membersihkan lingkungan dan memastikan saluran drainase tidak tersumbat sehingga air tidak menggenang.
Selanjutnya masyarakat perlu menerapkan gerakan 3M Plus secara konsisten, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Kemudian melakukan pemeriksaan jentik secara rutin minimal satu kali setiap minggu di setiap rumah serta memanfaatkan ovitrap sebagai alat pemantauan dan pengendalian vektor.
Selanjutnya apabila ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi selama dua hingga tiga hari disertai gejala yang mengarah pada DBD, segera periksakan ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan sedini mungkin.
"Melalui kegiatan ini, UNP mendorong ibu-ibu PKK menjadi kader Jumantik yang mampu menggerakkan masyarakat di lingkungannya," harap Elsa.
Dengan kolaborasi antara Pemerintah Kota Padang, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dan masyarakat, diharapkan ancaman DBD di wilayah pascagalodo dapat dicegah sejak dari lingkungan rumah, karena rumah yang sehat merupakan fondasi utama bagi masyarakat yang sehat dan tangguh.






Komentar (0)