Bali Miliki Portofolio Bernilai Tinggi Perdagangan Karbon

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, DENPASAR — Bali mulai membidik perdagangan karbon sebagai upaya pengembangan ekonomi berkelanjutan dan diversifikasi ekonomi agar tidak bergantung ke industri pariwisata.

Dengan modal hutan mangrove dan hutan kopi yang tersebar di sejumlah Kabupaten, perdagangan karbon Bali dinilai memiliki potensi yang cukup besar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani menjelaskan Bali memiliki modalitas yang kuat untuk menjadi salah satu daerah penggerak perdagangan karbon nasional karena didukung ekosistem. Berdasarkan data yang dihimpun Bank Indonesia, luas lahan mangrove di Provinsi Bali mencapai sekitar 2.488,7 hektare, yang berfungsi sebagai penyerap karbon ( blue carbon ) sekaligus pelindung ekosistem. 

Tidak hanya itu, potensi lain juga datang dari budi daya rumput laut, khususnya di Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan sekitarnya, yang tidak hanya mendukung mata pencaharian masyarakat pesisir, tetapi juga berkontribusi terhadap penyerapan karbon serta pengembangan ekonomi biru.

Di sisi daratan, kawasan hutan kopi seperti Kintamani (Bangli) dan Pupuan (Tabanan) memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai proyek karbon berbasis kehutanan, sehingga menjadikan Bali memiliki portofolio aset karbon yang beragam dan bernilai tinggi.

"Dari persepektif BI, peluncuran sistem nasional perdagangan karbon, khususnya untuk sektor kehutanan merupakan momentum strategis bagi Bali untuk mengoptimalkan potensi ekonomi sekaligus menjadi salah satu new source of growth," jelas Achris kepada Bisnis dikutip Senin (13/7/2026). 

Baca Juga

  • Menangkap Peluang Pendapatan Baru Industri Sawit dari Perdagangan Karbon
  • Bali Bidik Perdagangan Karbon
  • Peluncuran SRUK Berpotensi Tingkatkan Likuiditas Bursa Karbon Indonesia

Achris juga menjelaskan potensi tersebut tidak hanya berasal dari luas kawasan mangrove dan hutan, tetapi juga adanya potensi atas nilai jasa lingkungan yang dihasilkan. Besaran nilai ekonomi karbon sangat bergantung pada hasil pengukuran cadangan karbon serta potensi serapan ( additionality) dan harga karbon yang berlaku di pasar. Dengan demikian, kawasan mangrove, budi daya rumput laut, maupun kawasan hutan yang memiliki kepadatan karbon sangat tinggi berpotensi menghasilkan nilai ekonomi yang cukup tinggi. 

Mengutip dari Kementerian Keuangan, potensi serapan karbon konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) di Bali sebesar 2,46 juta ton. Adapun pengembangan proyek karbon pada kawasan mangrove maupun agroforestri kopi di Kintamani dan Pupuan juga dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi pemerintah daerah, desa adat, maupun masyarakat pengelola hutan apabila memenuhi standar sertifikasi dan verifikasi yang berlaku. 

Achris menjelaskan struktur PDRB Provinsi Bali pada kuartal I/2026 masih didominasi oleh sektor pariwisata, yang mencakup penyediaan akomodasi dan makan minum, perdagangan, serta transportasi dan pergudangan dengan pangsa sebesar 40,28%, diikuti sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 13,33%. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perekonomian Bali masih tetap tumbuh solid sebesar 5,58% (yoy) pada kuartal I/2026. 

Ditinjau dari komponennya, sumber pertumbuhan ekonomi Bali masih terkonsentrasi pada beberapa sektor utama (pariwisata dan pertanian) , sehingga pengembangan sumber new source of growth , termasuk ekonomi hijau melalui perdagangan karbon, menjadi penting untuk memperkuat diversifikasi dan ketahanan ekonomi daerah.

Achris menyebut Bali memiliki peluang besar untuk mengembangkan perdagangan karbon sebagai salah satu instrumen ekonomi hijau. 

Apabila perdagangan karbon di Bali dapat terealisasi secara optimal, skema ini berpotensi mendorong masuknya investasi hijau dan memperkuat daya saing Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Dalam jangka panjang, perdagangan karbon juga dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang melengkapi sektor pariwisata, sehingga memperkuat ketahanan ekonomi Bali terhadap perubahan iklim maupun dinamika ekonomi global. 

"Dengan demikian, pengembangan pasar karbon menjadi peluang untuk mengintegrasikan agenda pelestarian lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Achris.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Satu Pekan yang Heboh di Antara Polri dan Kejagung...
• 12 jam lalu
0
thumb
Habiburokhman: RUU Perampasan Aset Merupakan Undang-Undang Baru, Bukan Perubahan
• 2 jam lalu
0
thumb
Sempat Gagal di Bioskop, Film Action Henry Cavill Bangkit di Streaming
• 1 jam lalu
0
thumb
Prabowo ke Wartawan: Kita Kawan, Jangan Simpan di Hati Kalau Saya Salah Bicara
• 21 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Kelab Malam di Bangkok Tewaskan 27 Orang, Puluhan Korban Kritis
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.