Harga Minyak Turun, Beban Industri Belum Ikut Surut di Paruh Kedua 2026

katadata.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Penurunan harga minyak dunia belum mampu meringankan beban biaya yang ditanggung sektor industri pada paruh kedua 2026. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai biaya produksi dan logistik masih relatif tinggi meski harga minyak mentah telah kembali mendekati level sebelum konflik di Timur Tengah.

Ketua Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan harga minyak mentah dunia saat ini memang telah turun dan berfluktuasi di kisaran US$70-80 per barel (WTI). Namun, penurunan tersebut belum otomatis menurunkan biaya operasional yang dihadapi pelaku usaha.

"Penurunan harga minyak belum otomatis menurunkan biaya produksi maupun jasa logistik," kata Shinta kepada Katadata.co.id, Sabtu (11/7). 

Masih tingginya premi asuransi pelayaran dan biaya keamanan di jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz menjadi salah satu penyebab biaya logistik belum turun signifikan. Persepsi risiko terhadap kondisi geopolitik di kawasan tersebut dinilai masih tinggi meski konflik sempat mereda.

Harga Barang Belum Turun

Beban biaya produksi dan harga barang tidak secara langsung mengalami penurunan karena adanya jeda waktu atau time lag dalam proses bisnis dan rantai pasok global. Para pengusaha sudah mengamankan kontrak pembelian bahan baku dan pengiriman beberapa bulan sebelumnya sehingga manfaat dari turunnya harga energi baru akan dirasakan secara bertahap.

Kondisi serupa terjadi pada harga barang di tingkat konsumen. Selama biaya distribusi, logistik, dan operasional masih tinggi, sebagian beban biaya akan tetap diteruskan ke harga jual sehingga dampak penurunan harga minyak belum langsung dirasakan masyarakat maupun dunia usaha.

Aktivitas produksi dan rantai pasok global memang lebih stabil dibandingkan saat puncak eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya kembali normal karena perkembangan geopolitik masih dinamis.

"Situasinya masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Setelah Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati penghentian serangan pada akhir Juni, pada awal Juli tensi kembali meningkat. Ini menunjukkan kondisi dapat berubah dengan cepat," ujar Shinta.

Di tengah kondisi itu, Apindo memproyeksikan kinerja industri pada semester II 2026 masih berpeluang membaik dibandingkan semester sebelumnya. Namun, pemulihan diperkirakan berlangsung secara bertahap seiring masih tingginya ketidakpastian global.

Menurut Shinta, pelaku usaha tetap mengedepankan manajemen risiko, memperkuat ketahanan rantai pasok (supply chain resilience), serta berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi maupun ekspansi usaha hingga kondisi global benar-benar stabil.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pendidikan Pangan: Pilar Utama Revolusi Gizi Indonesia
• 14 jam lalu
0
thumb
Tolak! Prabowo Kritik Keras Teori Neolib, Tegaskan Indonesia Berpihak pada Rakyat
• 11 jam lalu
0
thumb
Antrean Solar Hambat Distribusi Logistik, Ancam Inflasi
• 9 jam lalu
0
thumb
Harga Bawang Putih Mahal, BPS Soroti Pelemahan Rupiah dan Ongkos Logistik
• 6 jam lalu
0
thumb
Penyebab Ledakan Toko Bangunan di Purwakarta Masih Misterius, Polisi Tunggu Tim Gegana
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.