Prabowo ke yang Tak Setuju Pemerintah: Jangan Nyinyir, Duduk Saja dan Lihat Baik-baik

kompas.com
10 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden RI Prabowo Subianto meminta kepada pihak yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah untuk tidak nyinyir.

Menurutnya, lebih baik mereka duduk-duduk saja, sambil melihat apa yang pemerintah lakukan.

Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya tetap membuka ruang untuk kritik.

Hal tersebut Prabowo sampaikan saat berpidato dalam puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Minggu (12/7/2026).

"Jangan bisanya nyinyir, ya kan. Kalau lu enggak setuju, lu enggak mau bekerja, lu duduk saja, lihat baik-baik gitu loh. Tapi kita terima kritik. Kita terima kritik. Kritik itu bagus, itu artinya koreksi, waspada. Kita kritik, kita mau terima kritik," ujar Prabowo.

Baca juga: Prabowo Sebut Koperasi Alat Orang Miskin, Ibarat Sapu Lidi yang Menguat Saat Bersatu

Prabowo menyampaikan, dirinya tidak mempermasalahkan perbedaan, termasuk perbedaan pilihan partai.

Menurut dia, dalam setiap pemilihan selalu ada pihak yang menang dan kalah.

Karena itu, Prabowo mengingatkan agar pihak yang kalah menerima hasil pertandingan dan tidak menghasut tindakan anarkistis.

"Siapa yang menang monggo. Jangan kalau kalah mau bakar-bakar itu bangsa apa itu," ujarnya.

Prabowo mengatakan, meski dirinya sudah kalah berkali-kali dalam Pilpres, tapi dirinya tidak pernah meminta anak buahnya melakukan aksi bakar-bakar atau demo.

Dia mengeklaim, dirinya justru datang ke pelantikan rivalnya sebagai Presiden.

Baca juga: Prabowo: Saya Bukan Presidennya Gerindra, Presidennya Rakyat Indonesia

"Saya datang, saya hormat, saya kasih selamat. Bersaing itu baik, pertandingan itu baik, iya kan," kata Prabowo.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Menurut dia, persaingan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Setelah kompetisi selesai, seluruh pihak seharusnya kembali bersatu dan bekerja untuk kepentingan rakyat.

"Buktikanlah bahwa bangsa Indonesia ini bangsa yang khas, bangsa yang bersatu. Kita bersaing, habis itu bersatu bekerja untuk seluruh rakyat. Inilah bangsa Indonesia saudara-saudara," imbuhnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pertamina Patra Niaga Jamin Pasokan BBM Jabodetabek Terkendali
• 21 jam lalu
0
thumb
PDIP Latih Kader Perempuan dari 38 Provinsi, Hasto: Beranilah Bersuara
• 2 jam lalu
0
thumb
Dilema Pola Asuh, Ringgo Agus Rahman Merasa Ditampar Film Aku Sebelum Aku
• 23 jam lalu
0
thumb
Ultimatum Amerika, Iran Tutup Lagi Selat Hormuz: Perjanjian Sepihak Telah Usai
• 16 jam lalu
0
thumb
Pembiayaan Multiguna Sentuh Rp256,77 Triliun, Jadi Penyangga Industri Multifinance
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.