Di Balik Langkah Grup Lippo, Sinarmas hingga Agung Sedayu Perkuat Anak Usaha

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Gelombang aksi korporasi yang mewarnai pasar modal dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan perubahan pendekatan yang ditempuh kelompok usaha besar RI. Strategi yang sebelumnya bertumpu pada ekspansi dan diversifikasi kini mulai bergeser ke arah penguatan ekosistem bisnis melalui optimalisasi aset dan sinergi antarentitas di dalam grup.

Tiga konglomerasi besar seperti Grup Sinarmas, Agung Sedayu Group, hingga Grup Lippo menjadi motor utama di balik tren restrukturisasi dan penguatan modal anak usaha ini.

Dari Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menjadi salah satu emiten konglomerat yang mengambil langkah strategis dengan memperkuat struktur bisnis perseroan, alih-alih membangun bisnis anyar.

DSSA mengucurkan transaksi afiliasi senilai Rp8,54 triliun kepada entitas anak perseroan, PT DSST. Manajemen menerangkan bahwa langkah tersebut diambil sebagai strategi DSSA untuk memperkuat posisi bisnis dan membangun ekosistem layanan digital yang kompetitif.

“Transaksi ini merupakan inisiatif strategis untuk memperkuat struktur bisnis, memperluas kapabilitas usaha, dan menciptakan fondasi pertumbuhan jangka panjang yang kokoh,” kata manajemen dalam keterbukaan informasi BEI.

Manajemen menilai upaya itu juga diperlukan agar anak usaha tersebut memiliki kapasitas pendanaan yang memadai, sehingga mampu menjalankan berbagai proyek strategis yang sejalan dengan arah pengembangan jangka panjang perseroan. Langkah DSSA menyuntikkan modal ini juga diperkuat dengan rencana masuknya PT Ketrosden Triasmitra Tbk. (KETR) ke dalam ekosistem DSSA untuk memperluas jaringan fiber optik.

Baca Juga

  • Deretan Konglomerat Hadiri Listing Saham RANS, Ada Haji Isam, Boy Thohir hingga Axton Salim
  • Adu Kuat Bank Kecil Milik Konglomerat pada Kuartal II/2026, Intip Prospek Kinerjanya
  • Low Tuck Kwong Tambah Kaya dari Prajogo, Bertahan di Puncak Teratas Konglomerat RI

Aksi serupa dilakukan oleh Grup Agung Sedayu melalui PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK). Emiten ini memilih memperkuat ekosistem kawasan melalui penambahan modal anak usahanya, PT Industri Pameran Nusantara (IPN), dengan nominal mencapai Rp90,1 miliar. IPN menerbitkan 5,3 juta saham Seri B dengan nominal Rp17.000 per saham untuk mengelola Nusantara International Convention Exhibition (NICE) di kawasan PIK 2.

“IPN juga menambah sejumlah bidang usaha baru, antara lain pengelolaan pusat perbelanjaan, penyewaan gudang, penyediaan makanan di bangunan tetap, hingga aktivitas bar,” seperti dikutip dari keterangan CBDK, Kamis (9/7/2026).

Sementara itu, Grup Lippo menempuh jalan penataan ulang struktur usaha. PT Multipolar Tbk. (MLPL) mengalihkan aset senilai Rp780 miliar kepada PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA). Hal yang sama dilakukan oleh PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) dengan mengalihkan bisnis makanan ke anak usaha, MPPA dan MLPL, guna mengurangi beban pengelolaan lini usaha yang karakteristiknya berbeda.

Alasan di Balik Pergeseran Strategi Konglomerat

Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya menerangkan bahwa pergeseran strategi ini didorong oleh tingginya biaya pendanaan saat ini, ketidakpastian ekonomi global, hingga meningkatnya tuntutan investor terhadap kualitas pertumbuhan laba dan arus kas.

Dibandingkan melakukan ekspansi ke sektor baru yang padat modal, konglomerat kini lebih memilih memperdalam bisnis inti yang sudah dikuasai lewat anak-anak usaha mereka.

“Dengan memperkuat ekosistem, perusahaan dapat mengoptimalkan aset yang telah dimiliki, seperti jaringan distribusi, basis pelanggan, infrastruktur, maupun land bank. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga membuka peluang cross-selling dan menciptakan sumber pendapatan yang lebih berulang,” katanya kepada Bisnis, Minggu (12/7/2026).

Meskipun efisiensi pengadaan, teknologi, dan distribusi bisa ditekan, Andrey mengingatkan bahwa pasar biasanya tidak langsung memberikan premi valuasi.

“Sebaliknya, jika struktur grup menjadi terlalu kompleks dan manfaat sinerginya sulit dibuktikan, pasar justru berpotensi memberikan conglomerate discount. Oleh karena itu, investor sebaiknya lebih fokus pada realisasi kinerja dibandingkan besarnya nilai transaksi,” katanya.

Sektor diuntungkan dan Risiko yang Mengintai

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman menilai bahwa dalam kondisi saat ini, sektor infrastruktur digital dan kawasan terpadu memang tengah mendapatkan momentum pertumbuhan global yang besar. Emiten yang jeli akan mencoba meningkatkan penetrasi pada anak usaha yang potensial.

“[Risikonya] ketika bisnis baru tidak segera menghasilkan cashflow dan bisnis lama yang sebagai cashflow utama bermasalah,” tegasnya.

Direktur Reliance Sekuritas, Reza Priyambada menambahkan bahwa keberhasilan integrasi ini sangat bergantung pada kekompakan manajemen dalam mencapai visi bersama untuk menaikkan nilai intrinsik grup.

“Setiap adanya aksi korporasi, tentunya terdapat keterbukaan informasi yang dapat menjadi bahan penilaian dari para investor sehingga nantinya berpengaruh terhadap keputusan investasi ke depannya,” kata Reza, Minggu (12/7/2026).

RHB Sekuritas menggarisbawahi bahwa sektor infrastruktur digital (seperti fiber optik dan data center) serta properti terpadu (seperti proyek MICE di kawasan PIK 2) menjadi pihak yang paling diuntungkan dari tren pembentukan ekosistem ini.

Namun, investor wajib mencermati risiko terbesar: kegagalan menghasilkan imbal hasil (return) yang sepadan serta potensi peningkatan leverage (utang) akibat penyertaan modal jumbo ke anak usaha yang waktu monetisasinya panjang.

“Risiko lainnya mencakup proses integrasi yang kompleks, potensi duplikasi fungsi, konflik kepentingan, hingga meningkatnya biaya operasional apabila sinergi yang diharapkan tidak berhasil diwujudkan,” pungkas RHB Sekuritas.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Adik Celine Evangelista Gelar Sayembara Usai Sang Kakak Dituding Terima Rumah Rp200 Miliar dari Jaksa Agung, Tantang Buktikan Tuduhan!
• 9 jam lalu
0
thumb
Berlangsung Meriah, Rangkaian HUT Ke-46 Dekranas Resmi Ditutup
• 21 jam lalu
0
thumb
Mahfud MD Sebut Kapolri dan Jaksa Agung Kerap Enggan Duduk di Satu Forum
• 23 jam lalu
0
thumb
Sempat Kena Mental, Dean James Move On dari Skandal Paspoortgate yang Hampir Bikin Gantung Sepatu dari Liga Belanda
• 19 jam lalu
0
thumb
Konsumen Semakin ”Pilih-pilih”, Ritel Ubah Konsep
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.